
Anindi kembali. Terlihat Rendra begitu tenang menghadapi ibunya dengan baik, padahal ia sendiri hampir gila dengan pertanyaan yang sering dilontarkan sang Ibu.
"Maaf, Bu, aku lama. Dokternya belum datang, ya?" Anindi duduk lagi di samping kanan sang ibu.
Bu Lia menoleh ke samping kanan. "Katanya, sebentar lagi, Nak." Bu Lia lebih bahagia dibandingkan sebelum kedatangan Rendra. Rupanya, Rendra memiliki dampak baik untuk kesehatan sang ibu.
Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya Bu Lia bisa selesai check up. Kondisi perempuan paruh baya itu sudah lumayan membaik, tetapi belum bisa terlalu menerima ingatan-ingatan yang seharusnya diketahui. Seperti biasanya, dokter perempuan itu pun menyuruh Anindi untuk terus menjaga pikiran Bu Lia tetap baik. Jangan memaksa Bu Lia untuk mengingat banyak kenangan yang tentunya akan menyakitkan. Anindi semakin tertekan. Itu artinya, ia akan terus berakting. Lelah juga, walaupun baru sekitar semingguan lebih.
***
Keesokan harinya, Anindi masih bekerja seperti biasa di toko. Ia menunggu kehadiran seorang temannya yang bisa dikatakan sudah seperti saudara. Menurut Cantika–sahabatnya–gadis manis itu akan datang setelah shif pagi berakhir. Mungkin sekitar pukul dua siang, biasanya seperti itu.
Anindi melayani pelanggan yang datang untuk membeli bunga satuan maupun buket bunga untuk diberikan pada orang terkasih.
Hari ini, ada seorang lelaki muda yang Anindi taksir mungkin usianya sekitar dua puluh delapan tahun. Dengan memakai setelan jas berwarna hitam terlihat seperti pegawai kantoran atau mungkin pemilik perusahaan. Lelaki itu datang ke toko bunga Anindi untuk membeli buket bunga yang akan dipersembahkan untuk orang tercintanya. "Saya akan melamarnya hari ini. Apa Anda bisa pilihkan bunga mana yang cocok?" tanyanya pada Anindi. Jelas saja dengan senang hati Anindi membantu, ini adalah hari spesial bagi lelaki itu. Jangan sampai salah memilih.
Lelaki itu berdiri di depan Anindi dengan memperhatikan semua bunga, cantik semuanya. "Orang yang akan saya lamar itu wanita cantik yang memiliki tingkat obsesi yang tinggi. Mungkin karena kami sama-sama mengejar karir, tapi saya sangat menghargai dia."
Anindi mengangguk dua kali, mengerti. Setelah berpikir lebih jernih dan luas, akhirnya Anindi memberikan saran bunga mawar merah saja. Lambang cinta yang membara, tentunya akan dihias dengan cantik agar bisa tersaji begitu manis. "Sebaiknya Anda pakai bunga mawar merah saja. Akan saya buatkan satu buket bunga itu berisi seratus tangkai, tapi mungkin Anda perlu menunggu atau bisa diambil nanti sore." Anindi memberikan pilihan. Sebab, untuk membuat satu buket bunga sebesar itu memang memerlukan waktu. "Kalau Anda setuju, saya bisa langsung buatkan."
__ADS_1
Si lelaki tidak langsung menyetujui. Mengamati lebih dalam lagi, benar-benar orang yang tidak sembarangan mengambil keputusan. Itu yang Anindi tangkap dan bisa menjadi pelajaran. "Baiklah, saya setuju." Akhirnya memutuskan mengikuti saran Anindi.
"Baik. Saya akan buatkan sekarang juga," imbuh Anindi senang.
"Kalau seperti itu, saya bayar lebih dahulu. Mungkin akan saya ambil sekitar jam tiga sore." Lelaki tersebut memberikan kartu anjungan tunai. Dengan sopan Anindi mengambilnya untuk digesek. Selain melalui cash, Anindi juga melayani pembelian lewat debit. Tidak masalah, karena di zaman sekarang semua sudah canggih. "Tolong, buatkan yang terbaik karena saya ingin dia merasakan dengan baik saat saya menyampaikan perasaan."
Anindi tertegun. Kalimat itu pernah didengarnya dahulu dari Cantika, tetapi bukan dari wanita itu. Cantika hanya menyampaikan saja sesuai apa yang diketahui perempuan itu.
"Apa Anda bisa?" tanya lelaki tersebut ketika melihat Anindi tertegun seolah terkena hipnotis.
Anindi segera tersadar, hampir saja menarik diri ke masa lalu. "InsyaAllah, bisa!" Suaranya lumayan tegas.
"Syukurlah. Saya tinggal dulu."
Setelah kepergian pelanggan tersebut, Anindi bergegas membuat pesanan. Mengingat pesanan yang sebelumnya sudah selesai semua karena hanya tiga buket kecil saja. Maka dari itu, Anindi punya banyak waktu.
Di sela-sela sedang membuat buket bunga besar, Cantika datang dengan mengucapkan salam. Anindi menjawab penuh bahagia, setidaknya ia memiliki teman dalam menyelesaikan kegiatan ini.
Cantika datang membawa sekantong makanan hasil berburu diskon. Gadis itu baru saja menerima gaji.
__ADS_1
"Syukurlah kamu datang. Aku minta bantuan," kata Anindi dengan senyum kecil.
Cantika duduk di kursi sebelah Anindi sambil berkata, "Temanku satu ini memang tidak bisa lihat kondisi, ya!" Sedikit kesal.
Anindi terkekeh geli dengan kedua tangan sedang berusaha merangkai bunga satu tangkai dengan tangkai lainnya. "Aku bercanda, Can. Lagian aku paham kalau kamu capek, aku cuma senang saja ada teman. Ini udah siang, rasanya mata susah bekerja sama."
Cantika membuka kantong kresek, mengeluarkan dua kotak susu ukuran sedang rasa coklat. Mengambilnya satu dan berkata, "Harusnya aku tadi bawa kopi saja, ya. Tapi, yang sedang diskon itu cuma roti dan susu ini saja."
Anindi kembali tertawa kecil. "Tenang aja, aku bisa beli di kedai seberang." Anindi menyimpan setangkai bunga merah di meja. Begitu pun dengan gunting tajam seperti mulut para tetangga. Menghela napas kasar, sedikit lelah. Mengambil susu miliknya. "Kamu tidak langsung pulang ke rumah?" Menikmati sedotan pertama, rasanya memang gurih. Pantas saja banyak yang mengincar susu dengan merk terkenal ini.
Cantika menghabiskan lebih dahulu isi kotak susu itu, tanggung. Setelah itu, barulah menjawab. "Aku lagi pengen datang ke sini." Jawabannya begitu singkat, padat, dan jelas.
Anindi tertawa kecil lagi. Perempuan yang memiliki nama asli Cantika Maharani itu memang sudah menjadi sahabat sejatinya sejak masuk bangku sekolah pertama. Anindi dan Cantika menjalin pertemanan tanpa sekali pun terlibat perpecahan. Kalau untuk perbedaan, tentunya banyak. Hanya saja tidak terlalu mencolok. "Kamu datang sendiri? Pacarmu ke mana?" Anindi bertanya seperti itu bukanlah tanpa sebab. Mengingat Cantika dan pacarnya ini sering datang bersama. Sebagai sahabat, Anindi hanya bisa mendoakan yang terbaik. Anindi mungkin tidak membenarkan untuk pacaran, tetapi itu adalah hak Cantika dalam menjalani hidup. Anindi hanya bisa memberikan nasihat, pada dasarnya semua keputusan ada di tangan sahabatnya tersebut.
Wajah Cantika seketika ditekuk, penuh kekesalan. "Aku lagi marah sama dia! Malas kalau ngomongin dia!" Cantika berdiri dan membuang sampah bekas susu di tong sampah yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Anindi terdiam.
Cantika berdiri di depan tong sampah dengan perasaan kesal setelah berdebat dengan Kemal–kekasihnya–beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Anindi penasaran. Memperhatikan punggung Cantika lekat. "Memangnya kenapa? Kalian berdebat?"
Cantika tidak pernah menyembunyikan apa pun pada sahabatnya, begitu pun dengan Anindi. Mereka saling terbuka satu sama lain agar bisa berdiskusi tentang masalah yang sedang dihadapi. "Aku tuh lelah menunggunya datang ke rumah. Aku juga butuh kepastian sebagai perempuan. Kalau terlalu lama, bisa saja aku berpaling ke orang lain."