
"Tidak perlu. Aku tidak ingin tau apa pun masalah orang lain!" Anindi memutuskan untuk pergi meninggalkan Rendra. Meladeni pria itu hanya akan membuang waktu saja.
Rendra sendiri juga tidak terlalu antusias untuk itu. Ia memilih masuk lift lagi untuk naik ke lantai delapan. "Kenapa aku malah turun, sih?" Rendra kesal.
Selama di lift, Rendra tersenyum sendiri mengingat interaksi banyak hal dengan Anindi. Perempuan itu tidak lagi canggung ataupun kurang nyaman dengannya. "Padahal aku tidak sengaja membantunya, tapi ternyata dia manis juga." Rendra memijat kening, teringat lagi beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, termasuk cerita yang belum selesai. "Kepalaku mendadak sakit kalau ingat cerita itu."
***
Cantika masuk shift pagi, ia sedari tadi melayani banyak pelanggan yang datang ke minimarket. Menurut pesan yang dikirim Anindi, temannya itu akan datang mampir ke toko. Tentu saja Cantika sangat antusias. Ia bekerja dengan partner perempuan yang sudah menikah. Nisa, namanya.
"Mbak, temanku mau ke sini nanti," kata Cantika di sela-sela kesibukan mereka. Cantika sendiri sedang menghitung omset setengah hari ini.
Nisa yang memang lima tahun lebih tua dari Cantika dan Anindi pun langsung menoleh ke samping kanan. Tangannya sedang bermain di keyboard komputer. "Anindi, ya? Gadis manis yang punya toko bunga itu?"
Wajar saja Nisa tahu tentang Anindi karena Anindi sering sekali datang untuk sekadar membeli makanan kecil.
"Benar, Mbak. Katanya dia mau bawa rujak. Kita makan bareng nanti." Cantika kembali fokus ke layar komputer. "Aku yang menyuruh dia beli rujak karena merasa hari ini lebih pusing. Apa karena akhir bulan, ya, Mbak?"
Nisa terkekeh geli, kalimat Cantika ini tampak lucu. "Memangnya kalau awal bulan, kepalamu tidak pusing?" Nisa menggelengkan kepala cepat. "Ada-ada saja."
Cantika tertawa kecil, senang juga bisa berada di tengah lingkungan keluarga seperti ini. Selain karena memang memiliki partner kerja yang saling mendukung, Cantika pun merasa lebih dihargai di sini. "Ya, kadang pusing juga, sih, Mbak kalau uangnya habis."
Tawa Nisa bertambah kencang dan lepas. Untung saja sedang tidak ada pelanggan yang datang, jam sepi. "Uang itu cuma nominal, Dek. Tapi, yang juga sangat dibutuhkan."
__ADS_1
"Lalu, kesimpulannya?" Cantika melirik sekilas lagi ke arah Nisa. "Uang itu butuh atau tidak?"
Nisa diam sejenak, kemudian berkata lagi, "Tentu saja butuh. Kita melakukan apa pun pakai uang. Beli makanan, minuman, pakaian, sedekah, pergi haji, semuanya memang butuh uang. Kita tidak bisa memungkiri itu, tapi jangan sampai profesi ini membuat kita mencari uang dengan jalan yang haram. Hanya karena segalanya butuh uang, kita jadi tutup mata dengan yang halal."
Cantika selalu senang dengan petuah yang diberikan Nisa, setidaknya ia bisa lebih dekat denganNya. "Iya, Mbak, insyaAllah aku paham soal itu."
Nisa selesai dengan struk harga baru yang akan ditempelkan di rak. Harga promo yang pastinya sangat menggiurkan untuk para pembeli. Setiap bulan, selalu saja banyak promo di minimarket ini. "Oh, ya, Can. Aku mungkin besok tidak bisa masuk. Anakku mau ambil rapot, kamu kerja sendiri tidak masalah, ya?"
Ide jahil Cantika datang, sifatnya yang satu ini memang sulit untuk dihilangkan. Dengan wajah sedih, perempuan itu menjawab. "Aku jadi sedih, Mbak. Padahal besok itu harus cepat setor akumulasi omset bulanan."
Nisa tertegun. Baru menyadari. "Benar juga, tapi nanti anakku nangis kalau ibunya tidak datang. Astagfirullah, kepalaku jadi ikut pusing."
Cantika menahan tawa, jangan sampai aktingnya ketahuan. "Nah, sebaiknya memang kita makan rujak siang ini. Sama-sama pusing." Terus menahan agar tidak tertawa.
Melihat kesedihan di raut wajah Nisa, Cantika merasa bersalah. Padahal niatnya hanya bercanda, rupanya hal ini cukup serius untuk Nisa. "Aku bercanda, Mbak." Nisa menepuk pundak kanan Nisa dengan sedikit senyum. "Kalau mau libur, libur saja. Aku bisa kok melakukannya sendiri, lagian Mbak jarang sekali libur kalau bukan penting."
Nisa tertegun. Tak ada reaksi apa pun karena sedang pusing dengan biaya sekolah sang anak yang sampai saat ini belum sepenuhnya terbayar. "Yakin?"
Cantika terdiam sejenak. Kini merangkul Nisa. "Mbak, maaf, ya, aku bercanda tadi." Merasa bersalah karena sudah membuat Nisa bingung. "Mbak, jangan sedih, ya."
Nisa baru paham. "Alhamdulillah, aku bisa datang ke sekolah anakku. Dia dari kemarin terus saja bicara."
Cantika melepaskan pelukannya. Tersenyum manis pada Nisa. "Dia butuh ibunya, Mbak. Aku juga sama sebenarnya." Cantika tersenyum tipis.
__ADS_1
Sebelum Nisa menjawab, seseorang datang. Rupanya itu Anindi. Seperti yang sudah diharapkan dari awal, Anindi benar-benar datang dengan membawa rujak buah. "Assalamualaikum." Anindi masuk dengan mengucap salam.
"Wa'alaikum salam." Nisa dan Cantika menjawab secara bersamaan.
Anindi masuk dengan mengembangkan senyum kecil. "Maaf, ya, aku datang terlambat. Tadi salat Dzuhur dulu di jalan." Perempuan berhijab itu membawa kantong kresek hitam yang sudah pasti isinya rujak buah dengan kawan-kawannya.
"Aku udah lapar, lho." Cantika masih jahil.
Nisa tersenyum kecil. "Kamu masih mau jahilin orang?" Ekor mata kanan Nisa melirik Cantika seolah memberikan isyarat. "Jangan seperti itu, nanti temanmu kabur semua."
Cantika menanggapi dengan tenang. "Astagfirullah, Mbak, aku seperti tertangkap basah." Tawa kecil keluar dari mulut Cantika.
Anindi bergerak ke arah meja kasir. Memberikan pesanan Cantika dan sebentar ke arah kulkas yang dipenuhi dengan minuman untuk membeli lebih dahulu pelepas dahaga. Terik mentari di siang hari ini benar-benar luar biasa, Anindi merasa sangat haus.
"Aku harus pilih yang mana, ya?" Anindi bingung sendiri setelah membuka salah satu tempat pendinginan minuman. Banyak sekali merk minuman yang menawarkan berbagai rasa dan juga kesegaran. Harganya pun variatif, dari yang paling murah sampai mahal. Untuk kemasannya pun beragam, dari ukuran kecil, sedang dan besar. Tinggal Anindi saja menentukan.
Anindi masih diam dengan memegang pintu kulkas, semuanya menarik. Namun, tidak mungkin pula Anindi memborong suaminya, bisa habis yang di dompet. "Aku rasa minum kopi dingin lebih enak." Tangan kanan Anindi mengulur ke depan bersamaan dengan suara pintu kaca terbuka dan juga sapaan dari Nisa dan Cantika. Kata 'selamat siang dan selamat datang' tidaklah asing bagi setiap orang yang datang ke tempat serba ada ini. Keramahan karyawan memang sangat menentukan penilaian customer. Oleh sebab itu, Anindi cukup salut pada Cantika yang setiap saat menyapa pelanggan dengan sangat ramah. Bisa menjadikan pelanggannya merasa nyaman dan senang.
Kopi dingin sudah ada di tangan, tentunya Anindi sudah harus menutup kulkas. Namun, perempuan itu terdiam saat suara yang dikenali samar-samar terdengar. Ini tidak mungkin! Dengan cepat Anindi menutup kulkas perlahan. Membalikkan badan, hendak mengintip orang yang baru saja berbicara. Barangkali Anindi salah mendengar karena sedang haus.
Anindi berjalan ke arah rak depan, diam di sana. Mengintip ke arah kasir dan melihat hal yang sudah dipastikan sama dengan dugaannya. "Astagfirullah, benar dugaanku. Telingaku jarang sekali salah menangkap suara seseorang. Sebaiknya aku diam saja sampai dia pergi."
Baru saja Anindi berkata demikian, tidak disangka orang yang dimaksud justru berbalik badan dan berjalan ke arah jajaran rak yang mengarah padanya. Anindi seperti seorang buronan yang sedang bersembunyi, padahal bertemu pun tidak masalah. Hanya malas saja.
__ADS_1