Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Jangan Kasihani Aku.


__ADS_3

Anindi tak langsung memakan isi kotak makan itu. Memilih berleha-leha di atas kasur lipat yang hanya memiliki ketebalan sekitar sepuluh sentimeter tersebut. Tak masalah, yang penting masih ada untuk berlindung dari kejamnya malam.


Mencari keberadaan ponsel canggih, menemukannya di bagian kanan. "Ya Allah, chat dari Cantika dari tadi sampai tidak terbaca." Anindi menyempatkan diri untuk membalas, tidak enak hati.


Pada akhirnya Anindi sibuk berbalas pesan sampai tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Perutnya berbunyi, jam makan malam sudah datang. Gadis itu menyimpan ponsel, bangun, berniat membuka bungkusan wadah bekal. Namun, niatnya terhenti karena ponsel berbunyi lagi. Pesan baru, pasti dari Cantika. Terpaksa Anindi membuka lebih dahulu. "Astagfirullah!" Perempuan itu hampir melempar ponsel ke atas ranjang. "Kenapa ini bisa terjadi?"


Ada rasa penasaran dalam diri. Bisikan pun mulai terdengar di telinga, ini gila. Setelan beberapa detik mempertimbangkan, Anindi berdiri dengan perasaan berdebar. Dengan dorongan rasa penasaran, perempuan itu melangkah ke depan. Memastikan sendiri dengan kedua bola mata.


Kedua kaki Anindi bergerak ke arah jendela, menyingkap gorden berwarna putih dan menelan ludah.


Benar. Matanya tak salah melihat, ia pun yakin itu. Namun, hatinya ragu. Terlebih ponsel itu berdering, panggilan suara dari seseorang yang kini berdiri di depan toko. "Dari mana dia tau aku di sini?" Pikiran Anindi bertanya-tanya.


"Keluarlah, aku tau kamu di dalam!" Suara Rendra, orang yang menghubungi Anindi terdengar.

__ADS_1


Anindi terkejut. Jangan sampai teriakan itu menarik perhatian orang lain yang mungkin sedang menginap juga di toko. "Astagfirullah, nanti orang malah pada dengar." Anindi bergegas mencari jilbab, memakainya, lalu turun ke lantai bawah. Membuka pintu toko dan mendapati Rendra berdiri di sana.


"Assalamualaikum," kata Rendra dengan senyuman kecil.


Anindi masih terdiam. Mulut itu sulit digerakkan. Rasanya ini mimpi, sosok Rendra berada di depannya di tengah malam yang bergerak menuju sunyi. Sebenarnya ini tidak baik, bertemu di malam hari. Namun, bukan keinginan Anindi juga.


"Aku datang ke sini karena mau mengambil hakku. Apa kamu tidak berniat memberikannya?" Rendra langsung bertanya tanpa basa-basi.


Sontak kedua bola mata Anindi membesar. Apa mungkin yang dimaksud Rendra itu adalah kotak makan yang berisi makan malam.


Rendra tersenyum kecil menandakan pertanyaan Anindi benar.


Kedua pupil mata Anindi semakin membulat. Entah apa yang mendorong Rendra bisa datang ke rumah, yang jelas pasti ibunya akan khawatir. Sebab, itu artinya sang ibu tahu kalau amanahnya masih belum tersampaikan.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Aku berpura-pura sudah menerima makan malamku." Rendra seolah mengerti dengan kekhawatiran Anindi. Pria itu bersyukur bisa melihat wajah manis sosok yang sebenarnya hadir hanya karena kesalahpahaman itu. "Aku hebat, kan?"


Anindi terdiam sebentar. Mengamati Rendra yang tak lagi memakai pan di tangan kanannya. "Aku ambilkan dulu makananmu. Maaf, bukan tidak ingin memberikannya, tapi aku tidak mau disangka buruk karena menemui lelaki di malam hari." Anindi berbalik badan. Bergerak selangkah ke depan, tetapi seketika berhenti.


"Kalau seperti itu, apa kamu mau tinggal di samping apartemenku. Raina tinggal sendirian, aku rasa dia mau. Setidaknya aku lebih tenang kalau kamu ada di sana, ada teman di malam hari." Ekor mata kanan Rendra memperhatikan sekitar, keadaannya begitu sunyi. Selain karena ini area pertokoan yang hanya ramai ketika siang saja, Rendra pun khawatir terjadi hal di luar dugaan pada Anindi jika tinggal di toko terus menerus. "Aku akan meminta tolong Raina."


Anindi menghela napas kasar. Niat baik itu mungkin sangat mulia, tetapi rasanya bukan jalan terbaik juga. Sebab, semakin dekat dengan Rendra, Anindi akan semakin kesulitan menyingkirkan peran lelaki itu di drama ini. Itu jelas bukan rencana Anindi. Segera berakhir drama ini adalah keinginan Anindi, tetapi harus lebih sabar demi kesehatan ibunya.


"Jangan salah paham dulu, aku cuma kasihan padamu. Kamu itu seorang wanita, pastinya banyak kejahatan yang mengincar," jelas Rendra.


Sudut bibir Anindi mengangkat ke atas membentuk senyuman kecil. Lucu sekali terdengarnya. "Jangan mengasihaniku karena ini cuma gerimis kecil. Aku pernah menerobos hujan besar sampai tubuhku basah kuyup, tapi ini bukan tentang hujan." Anindi tak perlu belas kasihan orang lain. Sampai sejauh ini, ia berdiri sendiri. Menguatkan pundak sendiri tanpa peduli bagaimana sakitnya.


Anindi berjalan dua langkah lagi. Dan, sekali lagi langkahnya itu juga terhenti hanya karena kalimat Rendra.

__ADS_1


"Aku rasa kamu terlalu kesakitan sampai tidak mau dikasihani orang lain, padahal tanpa kamu sadari tubuhmu itu tidak sekuat itu. Mentalmu juga tidak akan terus sekuat baja. Akan ada masanya kekuatanmu berkurang dan perlu bantuan orang lain untuk menopang sedikit bebanmu. Itu wajar karena kita manusia yang saling membutuhkan satu sama lain," tutur Rendra yang berusaha memahami keadaan Anindi.


__ADS_2