Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Terpaksa Tinggal Di Ruko.


__ADS_3

Adib pulang dengan perasaan tak percaya. Entah bagaimana cerita jelas, yang pastinya ia mengetahui jika Rendra yang dimaksud itu adiknya sendiri.


"Assalamualaikum." Adib masuk rumah yang langsung disambut oleh Bu Dina. Adib memutuskan untuk berputar arah setelah mengantarkan Anindi sampai ke toko dengan selamat secara diam-diam karena perempuan itu menolak tegas.


"Wa'alaikum salam." Bu Dina sedang duduk di ruangan tamu, menunggu suaminya pulang.


Adib langsung mencium punggung tangan ibunya. Duduk di samping wanita yang sudah melahirkan serta membesarkannya itu. "Apa Ayah belum pulang, Bu?" Melihat sekitar, benar.


Bu Dina tersenyum seraya mengangguk pelan. "Belum, Nak. Ibu juga khawatir."


Adib diam, ayahnya memang sulit diatur. Sudah dilarang dokter untuk bekerja, tetapi masih saja pergi. Mungkin karena sudah terbiasa melakukan pekerjaan, pastinya akan bosan di rumah.


Bu Dina memperhatikan wajah Adib. Ada yang aneh. Anak sulungnya itu terlihat memiliki banyak beban, memang semua manusia pasti punya beban. "Nak, kamu punya masalah?" Menatap Adib lekat.


Adib sendiri tidak terlalu terkejut. Sejak kecil sudah dekat dengan ibunya dibandingkan Rendra. Adiknya itu memang dekat, tetapi karena merasa ibunya ini dinilai kurang adil sehingga membuat Rendra berpikiran Adib adalah anak yang paling disayang. Padahal semua Ibu tetap akan menyayangi anaknya yang mana pun.


"Aku cuma kelelahan aja, Bu." Adib berbohong. Ia tentu sedang kaget, tetapi belum bisa bercerita.


Bu Dina memperhatikan anak sulung yang sudah menginjak sekitar tiga puluh tahun itu. Sampai sekarang Adib belum pernah memperkenalkan wanita satu pun untuk dijadikan calon istri. Padahal dalam segi apa pun, anaknya itu tampak sempurna. Terlebih kemapanan itu tidak bisa diragukan lagi, Adib sudah mencari uang dari sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Dibandingkan Rendra, anak lelaki itu lebih dewasa sebelum waktunya. Tidak banyak berbicara, tetapi menyayangi keluarga. "Kamu mau makan dulu? Biar Ibu siapkan."

__ADS_1


Adib tak ingin makan, sudah kenyang dengan kenyataan dan rasa penasaran. "Aku sepertinya tidak ingin makan, Bu. Nanti saja." Lelaki itu menolak dengan halus agar sang ibu tidak merasa sedih. "Aku mau istirahat saja."


Bu Dina tidak bisa memaksa. Belajar dari kesalahan di masa lalu, melupakan semua ego yang sempat membuat anak bungsunya terluka. Jangan sampai salah lagi. "Ya sudah." Tersenyum kecil.


Adib berdiri, tetapi belum sempat melangkah ke depan karena sang ibu kembali berujar.


"Nak, apa kamu tidak mau memikirkan menikah?" tanya Bu Dina. Ingin rasanya seperti keluarga lain yang sudah menimang cucu, terlebih usianya dengan sang suami tidak lagi muda. "Ibu cuma bertanya saja."


Adib terdiam. Pertanyaan itu sering dilontarkan ibunya minimal sebulan sekali. Ia memahami betul perasaan kedua orang tua, memiliki anak lelaki yang sudah mapan dan dewasa memang seolah mempunyai harapan untuk membawakan calon menantu, apalagi langsung menikah dan memberikan cucu. Pasti ada kebahagian tersendiri. Hanya saja, sampai detik ini pun Adib belum memikirkan untuk itu. Alasannya, karena belum sepenuhnya siap menjadi pemimpin keluarga, itu amanat yang cukup berat.


"Teman-teman Ibu sudah punya cucu, setiap arisan pasti dibawa. Rasanya Ibu ingin juga, tapi kalau memaksamu menikah, itu juga kesalahan besar," tutur Bu Dina mengungkapkan perasaan yang bergelut di hati.


Adib menoleh ke belakang, menatap ibunya yang tertunduk lesu. "Maaf, Bu, aku belum bisa mewujudkan mimpi Ibu dan Ayah yang itu. Bukan tidak mau, tapi bagiku menikah itu sesuatu yang tidak bisa diputuskan dengan sembarangan. Aku tidak mau pernikahanku berjalan kurang baik hanya karena aku memaksakan diri."


Sorot mata ibunya penuh kebohongan. Itu yang dirasakan Adib. Ada sekilas harapan yang bercampur rasa kecewa atas keputusan Adib. Namun, Adib pun tidak bisa memaksa diri untuk menjadi seperti keinginan orang lain. Bahaya.


"Aku pamit ke kamar dulu, Bu." Adib memilih menghindari percakapan berkelanjutan lagi. Ia pergi meninggalkan ruangan tamu dan segera naik ke lantai dua, menemui kasur empuk yang sudah la menjadi teman setianya.


Adib membanting badan di kasur, lelah sekali. Memijat kedua kening, sakit. Kepalanya seperti dibagi dua, tetapi rasa penasarannya terhadap apa yang terjadi pada Rendra dan Anindi tidak bisa hilang. "Astagfirullah, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?" Adib memejamkan mata. Sebelum mandi dan salat Isya, ia lebih memilih untuk merehatkan sejenak otak dan pikiran. Akhir-akhir ini banyak sekali permasalahan yang perlu ditanggung oleh otaknya, ini membuat gila juga.

__ADS_1


***


Di toko, Anindi bingung sendiri. Daerah sini sangat sepi ketika malam hari. Cukup rawan penjahat juga. Namun, gadis itu bertekad untuk menginap di lantai dua ruko selama ibunya masih harus menginginkan dia keluar dari rumah.


"Aku harus shalat isya dulu." Anindi meletakkan kotak makanan di meja kecil, bergegas pergi ke kamar mandi yang hanya ada di lantai bawah. Tidak apa tinggal di sini untuk sementara, selama itu tidak merepotkan orang lain. Cantika juga baik, tetapi dirinya juga tidak enak hati sendirian di kamar kost orang lain.


Anindi melaksanakan salat Isya lebih dulu. Menikmati waktu bertemu dengan Yang Maha Kuasa. Setelah itu selesai, Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi. Adib memancarkan bahasa tubuh yang berbeda setelah memperlihatkan foto Rendra.


"Aku penasaran, sebenarnya siapa mereka?" Anindi terus bertanya pada diri sendiri. Memikirkan jawaban yang pasti dan berusaha mempekerjakan otak supaya mendapatkan jawaban pasti.


"Kalau dilihat-lihat, mereka itu ada samanya. Tapi, tidak mungkin juga kembar. Rendra itu lelaki gila, sedangkan orang yang aku temui tadi itu berbanding terbalik." Anindi terus berceloteh sendiri sampai lupa pada kotak makan yang seharusnya sudah diantarkan pada Rendra.


Lima menit bergelut dengan pertanyaan sendiri, akhirnya Anindi memutuskan melepaskan mukena. Duduk termenung di dekat jendela yang memperlihatkan jalanan ibu kota yang sebentar lagi pasti sepi.


Rasa itu menghadirkan rasa kesepian dalam diri. Tanpa ibu, dirinya tidak punya siapa-siapa. Pikiran Anindi tertarik ke masa lalu, di mana pernikahan itu terjadi dalam sekejap mata. Hancur berkeping-keping. Tidak ada sisanya sedikit pun. Mungkin menyisakan sesuatu, rasa trauma. Bahkan membuat Anindi kurang mempercayai lelaki untuk sekarang. Banyak yang mendekati, tetapi tidak ada satu pun yang sanggup mendobrak tembok pertahanan Anindi. "Aku tidak mungkin meminta dia datang semalam ini. Itu tidak baik." Anindi mencari cara agar makanan itu tidak mubazir. "Sebaiknya aku makan saja." Pilihan jatuh pada opsi ini, setidaknya tidak terlalu membuang makanan dan bisa bermanfaat juga. Kebetulan pun Anindi belum makan.


***


Bu Lia merasakan kesepian setelah Anindi pergi. Namun, ini juga demi kebaikan rumah tangga anaknya. "Ternyata tanpa dia itu sedih juga." Bu Lia hendak menutup mata sambil berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah. Bu Lia terbangun lagi, rasanya tidak mungkin ada yang datang di malam hari. Seingatnya tidak memiliki keluarga juga yang punya mobil, apalagi Bu Lia ini anak tunggal sama seperti Anindi. Tidak punya saudara. "Siapa yang datang." Bu Lia menepikan selimut ke samping, berdiri dan segera keluar dari kamar. Berjalan ke arah pintu luar dengan keadaan setengah gelap. Namun, untuk menghindari segala bentuk kejahatan, ibu satu anak itu memutuskan untuk mengintip dari balik jendela.


Bu Lia berdiri di depan jendela, menyingkap helaian hordeng dan terkejut. "Astagfirullah." Perempuan paruh baya itu kaget. Benar-benar tidak menyangka akan seperti ini. Rasa kagetnya bertambah ketika ketukan pintu terdengar, pastinya orang itu melakukan hal yang wajar sebagai tamu.


__ADS_2