Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Mushola Masjid


__ADS_3

"Menangis bukan satu-satunya cara untuk mengekspresikan perasaan. Menyampaikan apa yang kita rasa pada orang lain, itu bisa dengan banyak cara," jawab Anindi dengan yakin.


Rendra diam sejenak, menarik juga berdebat dengan Anindi. Lelaki itu baru saja akan membuka suara lagi, tetapi Anindi terlihat melangkah ke depan satu kali.


"Aku harus pergi, Ibu pasti menunggu. Aku akan katakan ke Ibu kalau kamu memang tidak bisa datang. Assalamualaikum." Anindi kembali berjalan, kali ini melewati tubuh Rendra begitu saja. Membawa Rendra ke hadapan ibunya dalam keadaan seperti sekarang bukanlah ide yang baik. Justru akan menambah masalah kembali.


Rendra menghormati keputusan Anindi. Wanita itu berhak menentukan apa pun. "Wa'alaikum salam."


Pertemuan singkat itu cukup berkesan untuk Rendra. Kedatangan Anindi dengan tergesa-gesa seolah menandatangani bahwa perempuan itu sangat memperhatikan dirinya. Mengkhawatirkannya seperti seorang keluarga. "Dia lebih cepat dari orang tuaku." Rendra memilih naik ke ranjang lagi. Kejadian tadi cukup singkat, kecelakaan tunggal. Hal ini demi menghindari lebih banyak korban, maka Rendra memilih membantingkan stir ke kanan. "Enaknya tinggal di sini, damai. Aku harap Kakak tidak tau kalau aku di sini. Semoga saja."


***


Anindi kembali berbohong, untung saja ibunya bisa menerima alasan perempuan itu.


Malam datang menyapa. Dokter menyarankan Bu Lia untuk dirawat satu malam untuk bisa dikontrol pengembangan kesehatannya. Anindi tidak masalah, ini semua demi ibunya.


Begitu azan Magrib berkumandang, Anindi pamit turun ke lantai bawah. Gadis itu hendak melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Dengan menggunakan lift, perempuan berhijab itu turun. Begitu sampai di lantai dasar, Anindi berjalan ke arah koridor kanan. Di mana banyak orang juga yang berjalan ke arah sana, menyambut kedatangannya waktu bertemu Yang Maha Kuasa.


Mushola kecil di bagian gedung paling belakang itu memang terlihat ramai. Keterbatasan alat ibadah di sana, tak jarang orang-orang harus menunggu. Saling bergantian. Namanya juga fasilitas fublik.


Anindi terpaksa menunggu. Mencari wanita lain selesai salat. Duduk di teras mushola sambil memperhatikan sekitar. Dari sekian banyak orang di sini, tidak ada satu pun yang dikenalnya.

__ADS_1


Menunggu memang sesuatu yang menyebalkan bagi sebagian orang, begitu pun dengan Anindi. Hanya saja itu harus dilakukan demi mendapatkan tujuan.


Anindi akhirnya bisa mendapatkan mukena. Perempuan itu sudah wudu, kemudian melaksanakan salat. Dengan keadaan yang ramai ini tidak sama sekali melenyapkan kekhusyuan salat Anindi. Gerakannya pun sangat diperhitungkan dengan baik.


Salat selesai, Anindi berdoa sebentar. Mengucapkan kalimat dzikir, kemudian keluar mushola. Ketika hendak memakai sandal, ia dikejutkan dengan keberadaan lelaki yang sering ditemuinya. Ya, beberapa kali memang. "Kamu ada di sini juga?" tanyanya. Lelaki itu juga hendak memakai sepatu, persis di samping sandal Anindi. Jelas saja Anindi tidak bisa berkutik ataupun menghindar. Ia bergerak ke samping. "Iya."


Lelaki yang diketahui namanya adalah Adib itu pun memakai sepatu, sama seperti Anindi. "Sepertinya semesta mempertemukan kita terus akhir-akhir ini." Lelaki itu tersenyum kecil.


Anindi terdiam. Perkataan Adib tidak ada salahnya, memang seperti itu.


"Saya tidak keberatan, tapi tidak tau dengan kamu?" Adib baru saja memakai sebelah sepatu hitam.


Anindi berdiri. "Namanya manusia hidup, pasti beberapa kali bertemu. Tidak perlu dipikirkan."


"Alasannya?" Anindi langsung menjawab.


Adib diam sebentar. Memikirkan alasan terbaik, kemudian berkata lagi, "Bisa saja kamu merasa bosan melihat saya. Setiap kali bertemu, kamu terlihat kurang nyaman."


Bukan itu yang menjadi alasan Anindi sebenarnya. Jika ditanyakan bosan, jelas tidak mungkin. Ia sering bertemu orang yang sama setiap hari dan itu wajar sekali.


"Apa kamu sedang berobat atau menunggu orang sakit?" Adib ingin tahu lebih banyak tentang Anindi. Mengalihkan pembicaraan agar perempuan itu bisa sedikit nyaman.

__ADS_1


"Aku sedang menunggu Ibu." Anindi tak berbohong.


"Ibumu sakit?" Adib memperjelas kalimat Anindi dengan pertanyaan. Barangkali kedua daun telinganya salah mendengar.


Anindi mengangguk pelan. "Ya."


"Semoga segera membaik. Saya berdoa yang terbaik."


"Terima kasih." Anindi tidak berniat menoleh sedikit pun ke samping. Ia justru berjalan ke depan selangkah. Namun, kakinya mendadak oleng dan hampir jatuh.


Untung saja Adib cekatan, pria itu menangkap tubuh Anindi dari belakang.


"Astagfirullah!" Anindi berteriak. Berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung di sana. Punggung Anindi disanggah kedua tangan Adib, perempuan itu melirik Adib. Pertemuan dua pasang mata itu terjadi, tidak bisa dihindari.


"Kamu harus belajar hati-hati." Hanya itu yang dikeluarkan oleh mulut Adib. Pria yang berusaha membantu Anindi berdiri. "Jangan salah paham dulu, saya tidak bermaksud menyentuhmu."


Anindi terdiam. Perlakuan Adib tadi itu tidak sepenuhnya salah, sebab untuk menolongnya. Ia juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya.


Pandangan orang lain terfokus pada Adib dan Anindi, seolah mereka ini adalah objek pemandangan paling baik di antara yang ada.


"Saya pamit, maaf sebelumnya. Assalamualaikum." Adib melangkah ke depan, melewati Anindi. Ia sudah menjelaskan, jadi tidak perlu khawatir, walaupun sedikit takut dikatakan mencari kesempatan.

__ADS_1


"Terima kasih," celetuk Anindi cepat.


__ADS_2