
Suasana ruangan tamu di rumah besar dengan interior yang simple. Cat putih polos tanpa banyak pernak-pernik tersebut menjadi lebih menegangkan. Rendra terdiam.
Adib menutup buku, menyimpan di meja dan berkata, "Kakak, sudah bilang sebelumnya kalau kita tidak perlu dendam pada siapa pun. Pada dasarnya manusia itu tempatnya kecewa."
Kedua sudut bibir Rendra terangkat membentuk senyuman kecil. Sedikit lucu, mendengarnya. "Kakak, ini berpikiran terlalu pendek." Rendra tertawa kecil. Diam sejenak, lalu meneruskan perkataan. "Aku memang benar ada di rumah sakit kemarin, tapi ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan."
"Alasannya?" Adib butuh penjelasan lebih detail. Bukan ingin ikut campur urusan pribadi sang adik.
Rendra tertawa lebih kencang, tidak ada canggung sama sekali. "Bisa dibilang, ini itu sesuatu yang susah untuk dijelaskan. Sedikit privasi."
__ADS_1
Adib tertegun.
"Kalau Kakak tau, pasti keluar ceramah tujuh hari tujuh malam." Rendra sudah menebaknya. Apalagi Rendra ini sedang terlibat satu keadaan yang bisa dikatakan lumayan rumit.
"Jangan sampai sesuatu yang kamu sembunyikan itu berdampak buruk nanti." Adib mengingatkan sang adik. Berharap tidak terjadi hal di luar batas yang pernah dilakukan Rendra. "Kamu bukan anak kecil lagi!"
Adib hampir kehabisan kesabaran. Akan tetapi, Rendra ini bisa dipegang perkataannya. Ibarat kata, Rendra akan melakukan apa pun seusai apa yang sudah direncanakan dari awal.
"Aku lelah, Kak." Rendra melangkah maju ke depan. Meninggalkan Adib yang masih diam memperhatikan punggungnya. Lelaki yang kini berusia dua puluh lima tahun itu terus berjalan ke arah tangga, menaiki anak tangga satu per-satu. Raut wajahnya berubah, tidak lagi dipenuhi dengan senyum penuh tawa. Seolah mengisyaratkan jika Rendra hanyalah tertawa palsu.
__ADS_1
Sementara itu Adib kembali mengambil buku yang sedang ia gali ilmunya. Penulis dari buku ini adalah seorang wanita yang kini sudah tidak ada di depan mata. Hanya karyanya yang berbentuk buku saja yang bisa dinikmati Adib. "Karya luar biasa." Adib mengatakan itu dengan senyuman kecil, pertanda jiwanya memang suka dengan buku ini.
Setiap kata yang dibaca memberikan makna tersendiri. Karya yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bertahan hidup ketika semua orang tidak ada yang mempercayainya. Saat semua orang justru menganggapnya seorang sampah, cukup menarik.
"Apa mungkin dia mengira kalau dirinya sampah?" Keluar pertanyaan yang baru muncul di benak Adib. Lelaki dengan piyama tidur berwarna hitam polos, berlengan panjang itu pun terdiam.
Tiba-tiba bayangan seorang perempuan menari-nari di mata, mengusik jiwanya. Bukan si pemilik buku, tetapi sosok yang lain.
Jika diingat lagi, perlakuannya bisa dikatakan sangat tidak sopan. Adib menyesali hal itu, tetapi entah mengapa bibirnya bergerak tanpa bisa dikendalikan. Mengeluarkan kalimat yang mungkin mengganggu kenyamanan sosok tersebut. "Aku jadi merasa bersalah. Aku rasa, dia mungkin juga berharap tidak bertemu aku lagi. Tapi …" Adib menghela napas kasar. menyadari kesalahannya saat ini. Dengan memikirkan lawan jenis saja, Adib sudah sangat bersalah. Padahal, ia tidak seharusnya melakukan itu. "Astagfirullah, aku sebaiknya tidur saja." Adib berdiri sambil menutup buku. Berjalan meninggalkan ruangan tamu dan hendak pergi ke kamar. Tidak baik terus menerus dalam situasi seperti ini, ia manusia biasa. Kapan pun bisa khilap dan terjun ke jurang yang sanggup menelannya.
__ADS_1