
Adib bergeming sedikit dua menit. Sukar menjawab, ada perdebatan di dadanya.
Rendra kembali menarik dua sudut bibir itu agar bisa membentuk senyuman. "Sepertinya Kakak tidak menemukan jawaban. Anggap saja tidak pernah ada pertanyaan seperti itu." Rendra berdiri. Menatap kakaknya lekat. "Ibunya Anindi hilang ingatan dan mengingat dia itu masih menikah. Aku yang salah kamar dan berada di waktu ibunya sadar, justru dianggap sebagai suami Anindi."
Penjelasan Rendra mengejutkan Adib. Hampir membuat pria berusia tiga puluh tahun itu tidak percaya, terlihat jelas dari sorot mata Adib.
"Kalau Kakak tidak percaya, tanyakan saja langsung ke Anindi. Atau mungkin Kakak ingin datang ke rumahnya, aku akan bersedia mengantar." Rendra berkata jujur, jangan sampai hal ini membuat hubungan Adik Kakak di antara mereka menjadi renggang. "Aku ini penulis, tapi aku tidak pernah berpikir untuk memainkan peran seperti ini di dunia nyata. Dan, tentunya tidak menyangka juga akan bertemu wanita semanis Anindi."
__ADS_1
Sontak Adib menoleh pada Rendra, pujian untuk Anindi dari Rendra terdengar tulus. Benarkah ini hanya drama semata?
***
Anindi membuka toko seperti biasa. Pukul enam pagi tadi, ia pulang ke rumah ibunya. Melihat kondisi malaikat penolongnya itu dan memastikan sang ibu dalam keadaan baik. Sekali pun ia tentunya mendapatkan ceramah atas kedatangan Rendra. Tak apa, yang penting ibunya baik-baik saja.
Hari ini ada dua pesanan buket bunga besar yang harus dikirim ke sebuah perusahaan penerbitan. Setelah Anindi melihat alamatnya, perempuan itu tersentak. Alamat itu adalah kantor Adib dan tentunya mereka belum berbicara panjang terkait Rendra. "Apa benar Rendra adiknya lelaki itu?" Ini yang menjadi tanda tanya besar di pikiran Anindi sampai sulit tidur. Terlebih kedatangan Rendra juga sedikit mengusik jam tidurnya.
__ADS_1
Sebagai seorang penjual bunga hidup, tentunya Anindi perlu melakukan perawatan dengan baik dan rutin agar bunga jualannya itu tetap terlihat segar dan indah dipandang.
Dengan membawa penyiram bunga serta memakai gamis berwarna merah muda dengan jilbab hitam, Anindi menata bunga di depan toko dan menyiram sambil bershalawat. Pagi ini dimulai dengan hal baik agar sepanjang hari berjalan baik pula.
"Sepertinya bunga mawar merah semakin sedikit. Aku harus beli lagi." Anindi memperhatikan stok bunga mawar yang semakin menipis. Minggu-minggu ini memang bunga berwarna merah dengan keharuman luar biasa itu menjadi favorit pelanggan. Bahkan, buket bunga pun akan menggunakan itu. Namun, bukan artian bunga yang lain tidak laku juga.
Anindi berjongkok, melihat bunga matahari berwarna kuning yang semakin hari semakin mekar, manis sekali. Tangan kanan Anindi menyentuh salah satu daun dari bunga itu sembari berkata, "Kamu cantik sekali, pantas saja banyak kumbang yang datang mengincar. Aku harap, kamu tetap mempertahankan keindahanmu ini. Jangan percaya dengan rayuan kumbang karena itu bisa membuat keindahanmu hilang."
__ADS_1
Anindi tertegun dengan suara bising mobil dari jalanan. Keadaan yang justru mengingatkannya pada sebuah kesalahan di masa lalu. Itu mungkin bukan kesalahan, tetapi sebagai jalan takdir yang sudah Tuhan izinkan. "Aku jadi ingat." Anindi tersenyum kecil sambil berdiri, menoleh ke depan dan menatap jalanan.
Dari arah kanan jalan terlihat sebuah mobil hitam meluncur bebas mendekati toko Anindi. Kening perempuan itu mengerut kencang, tidak mengenali sama sekali.