
"Mas Arga!" Anindi langsung berdiri. Tak percaya dengan apa yang dilihat. Sosok yang sudah lama menghilang, kembali berada di depan mata.
Lelaki itu bergerak semakin masuk ke area toko. Melihat ke sekeliling warna-warni bunga yang tampak indah dipandang. Manis sekali. "Kamu berjualan bunga sekarang?" Tangan kanan lelaki itu menyentuh bunga mawar merah yang masih ada.
Anindi diam di tempat. Rasanya sulit untuk mengeluarkan kata-kata dari mulut, tetapi juga tidak mungkin membiarkan lawan bicara menunggu. "Ya, Mas." Sekuat hati perempuan itu berusaha tenang. "Maaf, toko sedang tutup. Mas, bisa datang lain kali kalau mau beli."
Padahal di depan sudah terpampang nyata jika toko tidak buka. Namun, dengan tenangnya pria itu masuk begitu saja.
Posisi Arga membelakangi Anindi, melihat setiap detail bunga mawar dan bunga lainnya. "Padahal bunganya cantik, tapi sayang penjualnya menolak menerima pembeli." Arga menyindir halus.
Anindi masih berkutat dengan pemikiran sendiri. Menguatkan kedua kaki agar tetap ada di posisinya dan memberikan kekuatan lebih. "Bukan menolak, Mas. Tapi, aku sedang terburu-buru. Ini mengerjakan dua pesanan saja." Masih dengan suara halus, Anindi berusaha untuk tetap mengontrol diri. Jangan sampai pembicaraan ini menariknya ke jurang emosi.
"Ah, seperti itu, ya." Arga masih memandangi bunga mawar merah. "Mawarnya cantik, aku sebenarnya ingin membeli sepuluh mawar untuk seseorang hari ini."
Jantung Anindi berdentam. Keringat dingin sudah terasa di kedua telapak tangan. Rasanya lebih sulit bernapas sekarang.
Arga terus menelusuri setiap bunga mawar yang ada, tangannya menyentuh kesucian mawar itu seolah sedang ingin merasakan sentuhan di helai daun dan bunga. Harum semerbak yang dihasilkan mawar pun tercium di hidung, menenangkan. "Apa bisa?"
Anindi masih diam. Mulutnya belum sanggup berkata-kata lagi. "Silakan menunggu sebentar. Aku buatkan." Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menerima.
Arga tersenyum miring. Berbalik badan dan menangkap dua bola mata Anindi yang langsung menunduk secepat kilat. "Tolong, beri tulisan di catatannya kalau bunga ini dikirim oleh orang tersayang." Arga sengaja memberikan penekanan di kalimat yang sekarang.
__ADS_1
Anindi hanya tersenyum kecil. "Baik, Mas. Aku siapkan sebentar." Dengan langkah berat, Anindi mendekati Arga. Sebab, di sanalah mawar merah cantik itu berada.
Arga mengamati sekitar, toko Anindi tidaklah kecil maupun besar. Cukup nyaman dengan dekorasi yang natural dipadukan berbagai macam bunga yang dijual. Perempuan ini memang menyukai harum bunga, itu tidak lepas sampai detik ini.
Arga melangkah ke depan sekali. Matanya tertarik dengan bunga anggrek berwarna ungu, cantik. Selain manis dan indah dipandang, bunga itu pun sama halnya dengan mawar. Mempunyai daya tarik tersendiri. "Berapa harga bunga anggrek ini?" Tangannya menyentuh bunga tersebut.
Anindi yang sedang mengambil sepuluh mawar pun terdiam sejenak.
"Aku ingin satu, tolong bungkus sekalian," lanjut Arga dengan cepat.
"Harganya bervariasi. Tergantung Mas mau yang mana." Anindi sudah mendapatkan sepuluh mawar segar siap rangkai. Warna merah ini akan sangat cantik jika sudah disatukan dengan diberi berbagai tambahan hiasan. "Silakan pilih lebih dulu bunga anggrek yang mana. Aku siapkan nanti." Anindi hanya ingin mempersingkat waktu bersama Arga, itu saja.
Arga memperhatikan bunga yang berwarna ungu bercampur putih, cantik sekali. Ingatannya tertarik ke masa lalu, tetapi berusaha tetap tenang. "Aku tidak tau, apa dia akan suka bunga anggrek ini atau tidak. Karena, yang sekarang lebih senang mawar."
Arga mengangguk pelan, melirik punggung Anindi. "Ah, begitu, ya. Anggrek ini lebih mengingatkanku tentang sesuatu, tapi sepertinya dia tidak suka. Lebih baik aku tidak beli."
Helaan napas Anindi begitu berat. Namun, kedua tangannya masih bergerak untuk sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan ini. Tak disangka akan datang hari seperti ini.
Sembari menunggu, Arga rupanya bermain ponsel di kursi yang disediakan di sana. Sengaja Anindi menyediakan dua kursi untuk para pembeli agar bisa lebih nyaman. Bahkan, Anindi pun menyediakan WiFi sebagai bentuk kenyamanan yang disuguhkan oleh tokonya. Terkadang, pembuatan buket bunga yang besar itu memakan waktu lama, sedangkan Anindi sendiri mengerjakan sendiri. Maka dari itu, ia memilih membuat kenyamanan di tokonya.
Arga mencuri pandangan ke arah Anindi yang masih berkutat sendiri. Memperhatikan raut wajah perempuan itu yang tampaknya pucat sekali. Mungkinkah sedang sakit?
__ADS_1
Anindi sendiri terus berusaha mengerjakan pesanan Arga dengan cepat agar waktu bersama lelaki itu berkurang. Atmosfer di sekitar menjadi sangat panas dan sulit bernapas.
"Sepertinya kamu lebih pucat sekarang." Arga ini tipe orang yang memiliki rasa penasaran yang tinggi. Jelas ini memiliki dua sisi, antara baik dan buruk juga. "Kamu terlalu bekerja keras juga sepertinya. Kantung matamu terlihat jelas. Jangan terlalu banyak begadang."
Anindi sontak menghentakkan kedua tangan ke meja. Bahkan, buket bunga yang hampir jadi itu pun disimpannya juga. "Maaf, Mas, kita di sini sedang bertransaksi sebagai penjual dan pembeli. Jadi, lebih baik fokus ke sana saja!" Kesabaran Anindi melampaui batas pula. Emosinya keluar, padahal sudah berusaha untuk bertahan.
Arga melirik Anindi. "Kamu lebih keras kepala."
"Karena aku memposisikan diri sesuai keadaan, bukan keras kepala!" Anindi lagi-lagi protes.
Arga akhirnya diam. Anindi pun menyelesaikan buket bunga. Mengambil catatan dan menulis kata-kata sesuai permintaan Arga.
Buket selesai. Anindi bergegas menghampiri Arga, menyerahkan benda itu dan berkata, "Semuanya jadi seratus lima puluh ribu, Mas."
Arga berdiri, mengangkat kepala. Mengambil buket cantik itu dan berkata, "Mawar merah ini semakin cantik, dia pasti suka."
Anindi mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Tak peduli apa pun. "Maaf, aku harus kerja lagi. Apa Mas bisa langsung bayar?"
"Ok, sebentar." Arga merogoh saku belakang, mengambil dompet dan mengeluarkan tiga lembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah dan menyerahkannya pada Anindi. "Aku harap, dia akan suka karena buket ini dibuat langsung oleh orang pecinta bunga."
Dada Anindi naik turun. Segera mengambil alih lembaran uang itu. "Semoga."
__ADS_1
Arga bergegas pergi dari sana meninggalkan Anindi yang masih terdiam. Tak ada salam yang diucapkan pria itu. Tak berselang lama, sekitar satu menit. Terdengar suara barang jatuh serta diiringi teriakan seseorang. "Woy!" dengar Anindi. Dengan cepat gadis itu berlarian keluar, memastikan apa yang terjadi di depan. Takutnya ada kecelakaan. Bukan mencemaskan Arga, tetapi lebih ingin tahu saja.
"Kalau nyetir pakai mata!" Suara keras menyapa telinga Anindi yang dari kecil tidak suka kekerasaan.