Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Pengiriman Lagi


__ADS_3

"Kakak tidak ingin menghakimi orang yang mau berpacaran, itu hak mereka. Tapi, Kakak sendiri memang tidak menjalankan," jawab Adib setelah berpikir selama beberapa menit.


"Intinya, Kakak tidak bisa memaksakan pendapat Kakak pada orang lain. Kakak cuma tidak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum sah!" tegas Adib sambil melangkah mendekati pagar rumah, membukanya perlahan. "Kamu bisa berpikir sesukamu, tapi kita hidup berada di aturan Allah. Jadi, kamu ingin seperti apa, itu hakmu sebenarnya."


Rendra diam sejenak, melihat sendiri kakaknya masuk ke dalam. Setiap kata-kata yang dikeluarkan Adib memang bukanlah hal remeh, kadang kala sangat bernilai.


Daripada terus berdebat, Adib memilih masuk rumah. Hari ini ada beberapa meeting yang harus dilakukan dengan tim produksi. Lelaki itu pun masih menulis cerita, tetapi tidak seintens seperti penulis pada umumnya. Ia hanya menulis satu buku dalam satu tahun karena pekerjaan yang lain pun sama padatnya.


***


Anindi pamit ke toko. Ia segera membuka tempat berjualan dan langsung disambut oleh beberapa orang yang akan membeli bunga. Rasanya menyenangkan. Gadis itu pun secepat mungkin melayani dengan ramah dan penuh kegembiraan.


"Mbak, saya ingin pesan buket bunga mawar merah. Tapi, saya mungkin nggak bisa ambil sendiri. Apa Mbak bisa kirim ke sana?" Salah satu pembeli bertanya. Seorang lelaki muda dengan gaya yang formal, memakai kemeja putih dengan celana hitam. Sepertinya karyawan kantor. "Saya butuh buket ini sekitar jam dua belas siang. Jadi, kalau bisa Mbak kirim sebelum jam itu. Apa bisa?"


Anindi berpikir sejenak. Mengingat jadwalnya hari ini dan rasanya tidak terlalu padat. "InsyaAllah, bisa, Mas. Boleh saya tau alamatnya di mana?" Langsung menyetujui.


Lelaki muda itu memberikan sebuah kartu nama perusahan dan berkata, "Saya bekerja sebagai tim produksi. Mbak, bisa tanya Mas Danar saja ke satpam. Pasti tau."


Anindi mengambil kartu nama. Sedikit tertegun melihat nama perusahan yang pernah ia datangi. Ah, rupanya lelaki di depannya ini bekerja di tempat yang sama dengan lelaki yang dulu menolongnya.


"Tolong, dikirim sebelum jam dua belas siang, ya, Mbak. Saya ingin memberikannya ke pacar saya." Lelaki muda itu menjelaskan lebih detail.


Anindi tersadar. Mengangguk cepat. "InsyaAllah, Mas."

__ADS_1


"Ini pembayarannya." Dua lembar uang berwarna merah dikeluarkan lelaki muda itu dari dompet. "Kembaliannya anggap saja untuk ongkos kirim. Terima kasih sebelumnya."


Anindi sungkan. "Ini terlalu banyak, Mas. Saya tidak bisa menerimanya."


"Tidak apa-apa." Lelaki itu sedikit memaksa. "Kalau seperti itu, saya pamit. Selamat pagi."


Anindi tak lagi berdebat perihal uang, barangkali itu menjadi jalan rezekinya. "Ah, baiklah. Selamat pagi juga."


Setelah itu, Anindi melayani dua pelanggan yang ternyata sudah menginjak bunga anggrek putih cantik yang ada di koleksi toko bunga Anindi. Dengan sedikit berat, Anindi akhirnya melepaskan. Padahal ia teramat sayang, sudah menganggap bunga anggrek itu anak sendiri. Dicintai sepenuh hati.


Uang lima ratus rupiah didapat pagi ini, Alhamdulillah. Namun, uang itu pun harus kembali menjadi modal untuk isi toko. Anindi akan membeli bunga lagi ke tempat langganan. Bisa dikatakan dari petaninya langsung, tetapi Anindi sedikit ragu. "Setiap ke sana, pasti aku menangis." Anindi menghela napas. Bayangan beberapa kejadian menari-nari di mata, memang sulit sekali dilupakan. Akan tetapi, harus tetap dilakukan. "Sudahlah, aku perlu berdamai dengan diri."


Anindi segera menyelesaikan pekerjaan. Hari ini panasnya melebihi dari hari kemarin. Pukul sembilan pagi saja sudah sangat panas dan menyengat tubuh. Rasa haus pun mendera, siapa pun tidak akan lepas dari minuman dingin. Terlebih bagi orang yang bekerja di lapangan. Bersyukur Anindi bisa bekerja di dalam ruangan, setidaknya tidak terlalu kepanasan.


Waktu terus berjalan, Anindi berhasil merangkai semua bunga pada pukul sebelas kurang lima menit. Dengan cepat meninggalkan toko dan menutupnya. Membawa satu buket bunga yang sudah dirangkai untuk diantarkan lebih dahulu. Mengingat buket ini lumayan besar, ia tak bisa membawa kedua buket lainnya. Biarlah nanti ke toko lagi untuk diambil.


Anindi menggunakan jasa taksi untuk pergi ke sana. Bukan tak ingin mengangkutnya dengan motor, tetapi tidak menutup kemungkinan buket bunganya akan rusak. Ini lebih ditakutkan.


Sepanjang perjalanan Anindi berdiam diri. Menikmati setiap pemandangan kota yang padat merayap penuh dengan aktivitas penghuni kota. Di antara keramaian itu pun, Anindi masih merasakan kesendirian.


Selang delapan menit kemudian, Anindi akhirnya selesai. Membayar ongkos sesuai tarif, lalu berjalan ke depan. Dugaannya benar, gedung yang sama. "Aku harap jangan sampai ketemu dia lagi dia sini." Membawa buket bunga dan berjalan ke depan.


Gedung yang terdiri dari delapan lantai itu sepertinya perusahaan yang cukup terkenal dan pastinya besar. Orang-orang di dalamnya pun bukan sembarangan, bahagia sekali yang bekerja di sana.

__ADS_1


Anindi terus bergerak dan hampir sampai ke pintu utama ketika suara Arga mengagetkannya dari belakang. "Anindi, itu kamu bukan?" katanya dengan suara lantang. Jelas saja beberapa orang yang sedang berlalu lalang di depan gedung pencakar langit itu pun memperhatikan mereka, terutama Anindi.


Anindi berhenti, suara derap langkah kaki sedikit berlari terdengar dari belakang dengan suara yang sama. "Ah, benar, itu kamu." Rupanya Arga menghampiri Anindi. Begitu sampai di depan Anindi, lelaki itu mengukir senyum tanpa mengucapkan salam sekali pun. "Aku tidak salah melihat. Rupanya masih ingat betul bagaimana postur tubuhmu?"


Anindi sedikit tersindir. "Ada apa?" Langsung bertanya tanpa basa-basi.


Arga melihat penampilan Anindi, termasuk melihat buket bunga yang besar. "Kamu sedang mengirim bunga ke gedung ini?"


Anindi tidak ingin bertele-tele. "Iya. Ada apa?" Sedikit kesal. Mengapa harus bertemu lelaki ini? Padahal sudah berusaha menghindar. "Aku buru-buru, kalali Mas ada perlu, katakan saja!"


Arga mengamati wajah Anindi yang seketika langsung menunduk ketika dirinya menghampiri. "Kenapa kamu begitu sulit didekati? Padahal kita bukan orang asing."


Dada Anindi naik turun menahan amarah dalam dada. Jangan sampai meledak hanya karena makhluk satu ini.


"Seharusnya kita bisa berbicara santai satu sama lain. Tidak perlu serenggang ini," lanjut Arga lagi.


Satpam kantor memperhatikan keduanya, bisa jadi sedikit curiga. Terlebih orang-orang yang keluar dari gedung itu pun melakukan hal yang sama dengan satpam tersebut. Sedikit membuat Anindi risih.


"Kita memang orang asing, Mas." Anindi baru menjawab.


Arga tersenyum tipis. "Tapi, buatku tidak!" Arga menepis.


Anindi menghela napas kasar, mengangkat kepala dan berkata, "Kita sudah menjadi asing dari mulai hari itu, Mas. Apa kamu tidak sadar?"

__ADS_1


__ADS_2