Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Apa Kamu Berselingkuh?


__ADS_3

Adib diam, memperhatikan sosok lelaki yang kini turun dari kendaraan roda empatnya. Sosok itu berjalan menghampiri mereka, lalu berkata, "Siapa lelaki ini? Apa kamu berselingkuh dari calon suamimu yang itu?" Lelaki dengan jaket hitam yang didalamnya ada kaos rumahan biru muda serta celana jeans hitam itu pun menatap lekat Adib.


"Aku tidak perlu menjelaskan apa pun, Mas!" Anindi kesal. Arga, lelaki yang datang pada mereka. Selalu saja membawa keributan setiap kali kehadirannya.


"Maaf, Anda siapa?" Adib bertanya pada Arga. Dari apa yang diamati, Arga ini terlihat sudah mengenal betul sosok Anindi. Mungkinkah mereka memiliki sebuah hubungan? Itulah yang menjadi pertanyaan saat ini.


Arga masih menatap lekat Adib dari atas sampai bawah. Setelan jas hitam yang dikenakan pria di depannya itu cukup bermerk. Di kalangan pada pasion kerja, pasti tahu mana pakaian yang bermerek dan tidak. Jelas Adib mengenakan pakaian yang cukup mahal, itu artinya Adib bukan orang sembarangan. "Seharusnya saya yang bertanya, siapa Anda?" Arga bertanya balik.


Anindi merasa lelah. Sudah bimbang tentang tempat tinggal dan kotak makan, sekarang ia juga harus dipusingkan oleh kelakukan dua lelaki di depannya ini. Benar-benar di luar pikiran dan ekspektasi.


Adib berusaha untuk menanggapi dengan tenang. Jangan sampai ada secerca kemarahan yang keluar, itu hanya akan membuang tenaganya saja yang sudah terkuras karena bekerja. "Saya Adib, kenalannya Anindi." Dengan sangat tegas dan juga percaya diri, Adib memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanan.


Arga sedikit kesal, tetapi menyambut uluran tangan itu sehingga mereka saling berjabat tangan. "Saya Arga, mantan suami Anindi."


Pengakuan Arga berhasil membuat Adib terkejut, terlihat jelas dari kedua bola mata pria itu yang terbuka lebar. Bukan ingin mempermasalahkan status perempuan tersebut, tetapi Adib hanya kaget saja. Tidak menyangka Anindi pernah menjalin hubungan dalam sebuah pernikahan. Adib yang mengira Anindi adalah wanita yang belum pernah menikah, rupanya melesat. Tidak masalah, itu bukan ranah Adib untuk mengusik.


Arga terus saja memegang tangan Adib seolah sedang mentransfer energi kemarahan pada pria itu. Setelan Rendra, sekarang terbitlah Adib. Dua lelaki yang berada di sekitar Anindi tampak memiliki pengaruh yang besar juga bukan orang sembarangan, terlihat dari cara bicara dan juga penampilannya. "Apa Anda tau kalau Anindi sudah punya calon suami?" Arga sengaja.


"Mas Arga!" Anindi geram. Itu sebenarnya bukan salah Arga, melainkan Rendra. Anindi juga lupa menjelaskan pada mantan suaminya tentang siapa sebenarnya Rendra.


Adib tetap fokus pada pembicaraan Arga tanpa memperdulikan Anindi lebih dahulu. "Saya tidak tau karena memang saya tidak pernah mengusik kehidupan pribadi orang di sekitar. Kalau pun itu benar, saya harap Anindi mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Anda!" Adib mengatakan itu dengan lancar.


Arga merasa tersindir. "Apa maksud Anda, saya ini lelaki yang tidak baik?" Salah satu alis Arga terangkat ke atas. Kekesalannya tampak jelas dan sulit dihindari.


Adib mengukir senyum kecil dengan masih memegang tangan Arga. "Kalau itu jelas saya tidak tau."


Anindi merasakan ketegangan yang dihasilkan dari energi kedua lelaki di depannya. Mereka menyumbang banyak hawa panas yang terpancar dari diri masing-masing. Cukup baik di saat cuaca dingin, tetapi tidak baik juga untuk orang yang ada di tengah keduanya.


"Saya mungkin tidak tau apa alasan kalian bercerai, tapi saya tentunya tidak akan mencari tau soal itu. Saya dan Anindi sekadar kenalan biasa, jadi saya tidak punyak hak untuk bertanya lebih tentang kehidupan pribadinya. Kecuali …." Adib sengaja menggantungkan kalimatnya, menarik rasa penasaran Arga sebagai lawan bicara.

__ADS_1


Arga sudah menebak permainan Adib, tetapi masih saja tertarik. "Apa Anda bisa berbicara dengan jelas? Kita bukan anak kecil lagi." Sorot mata Arga begitu tajam, menakutkan juga.


Sudut bibir kanan Adib terangkat ke atas, Arga tertarik. "Saya dan Anindi memiliki hubungan lebih dari teman, seperti halnya pasangan suami istri atau mungkin calon suami istri."


Sekali lagi jiwa Anindi dibuat gila dengan perkataan Adib. Berani sekali lelaki ini. "Maaf, aku rasa perbincangan ini tidak perlu dilakukan." Anindi mencoba melerai keduanya.


Arga melepaskan tangan, begitu pun dengan Adib. Kali ini pandangan Arga menoleh pada Anindi dan berkata, "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di tengah jalan seperti ini dengan lelaki ini? Apa calon suamimu tidak marah? Ternyata sudah benar keputusanku menceraikanmu, bisa saja di belakangku juga kamu diam-diam bertemu pria lain."


Anindi melongo. Kalimat menyakitkan apalagi ini? Tuduhan yang bahkan tidak ada buktinya.


"Anda jangan menunduh orang sembarangan tanpa bukti!" Adib barulah kesal dan marah. Setiap kata yang keluar dari mulut Arga terlalu menyakitkan bagi seorang wanita. Jelas dirinya bertindak. "Dan lagi, Anda juga sudah tidak punya hak untuk tau masalah pribadi Anindi. Hubungan Anda dengan dia sudah berakhir, itu artinya sudah putus semua kewajiban Anindi untuk melaporkan apa pun!"


Arga melirik sinis Adib. "Saya rasa mencium bau-bau perselingkuhan di sini." Arga masih saja berstetmant sesuai dengan pemikirannya yang pendek. "Apa saya benar?"


Tangan kanan Adib mengepal, sudah terlewat sabar. Jika bukan karena menghormati Anindi yang sejak tadi terlihat menahan amarah, jelas Arga sudah habis di tangannya. Menunduh orang lain tanpa bukti itu bisa menjadi sumber fitnah paling kejam dan menyakiti orang tersebut. Itulah yang paling dibenci oleh Adib.


"Stop!" Anindi berteriak dengan menutup kedua telinga dengan tangannya. Dadanya sesak, semua perkataan Arga itu menyakitkan. Ingin rasanya protes pada Tuhan, kenapa harus mempertemukan dirinya lagi dengan Arga? Padahal ia sudah bersusah payah melupakan semua kenangan menyakitkan yang diberikan pria di masa lalunya itu. "Aku capek! Kalian bisa diam?" Untuk pertama kalinya Anindi berteriak di depan dua lelaki. Rasa sabarnya setipis tisu kali ini, susah sekali ditahan. Bahkan jika dituruti, amarahnya bisa meledak-ledak.


Adib sudah tak tahan. Emosinya terpancing keluar, tangan kanan itu terangkat ke atas dan telunjuk kanannya menuding ke arah Arga dengan dua bola mata yang penuh kemarahan. "Jaga mulut Anda!" Dada pria itu naik turun menahan amarah yang bisa saja keluar dengan deras dan sulit dikendalikan. "Anda tidak berhak menilai siapa pun baik atau buruk karena sejatinya Anda cuma bisa melihat sepanjang mata memandang saja. Apakah Anda sendiri sudah jauh lebih baik? Saya yakin ada alasan kuat, kenapa Anindi bercerai dengan Anda!"


Anindi terkejut. Adib membelanya, memberikan pertolongan atas penghinaan yang dilakukan Arga. Cukup hebat.


Arga bertepuk tangan dua kali, pemikirannya tetap sama. "Berarti perkataan saya benar, Anda dan Anindi berselingkuh."


Anindi membesarkan kedua pupil mata, Arga ini benar-benar di luar batas. Ia dengan cepat menatap lekat Arga dan berkata, "Mas, haruskah aku jujur sesuatu agar kamu paham bagaimana situasinya? Tapi, aku rasa itu tidak perlu."


Adib diam. Tangannya kembali ke bawah.


Arga merasakan aura kebencian dari sorot mata Anindi, wanita itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Kalau kamu merasa tidak bersalah, tentunya harus jujur. Karena, aku akan tetap menganggapmu perempuan tidak baik kalau selamanya tidak ada klarifikasi dari kamu."

__ADS_1


"Mohon jaga mulut Anda! Saya bisa saja menghajar Anda sekarang, tapi saya lebih memilih tangan saya ini bersih!" Lagi-lagi Adib memperingati.


Arga mengangguk-anggukan kepala dua kali. "Ok, saya bisa saja diam. Tapi, saya harus mendengar dulu penjelasan dari Anindi. Bagaimana?" Lirikan mata Arga begitu tajam pada Anindi, memaksa perempuan itu untuk memberikan penjelasan yang bisa memuaskan rasa penasarannya.


Anindi menyetujui. Memang seharusnya jujur pada semua orang, tetapi belum bisa pada ibunya. Jelas saja semua orang akan menyangka dirinya memiliki calon suami, itu karena perkataan Rendra yang sama sekali tidak mempertimbangkan dampak buruk ke depannya.


Jantung Adib berdebar hebat, rasanya sedang menunggu keputusan sidang. Padahal ia sendiri tidak begitu mengenal Anindi, tetapi ada sedikit celah di hati yang berharap itu tidak benar. Semoga saja.


Anindi mengenal napas kasar, menyiapkan diri untuk menjelaskan hal ini pada Arga. Setelah itu, Anindi berharap Arga tidak lagi mengusiknya.


"Baiklah." Anindi sudah siap. Menatap Arga dengan lekat. "Dengarkan ini baik-baik, Mas, karena aku cuma menjelaskan satu kali saja."


Arga mengangguk cepat. "Ok, aku harap penjelasanmu tidak mengecewakan."


Adib tidak berkata apa pun, sedang grogi sendiri. Ini gila bukan? Seharusnya tidak seperti ini.


"Lelaki yang bertemu Mas di dua tempat itu bukan calon suamiku!" Anindi menegaskan, bahkan telunjuk kanannya mengacung di depan. "Pokoknya, dia bukan calon suamiku. Jadi, Mas tidak perlu menganggap aku dan pria di depan ini berselingkuh." Kali ini telunjuk tangan Anindi mengarah pada Adib.


Tidak dipungkiri ada rasa lega di dada Arga, ini aneh.


Arga masih saja belum percaya. Ia perlu mengulik lebih dalam. "Apa benar itu?" Terus saja mendesak Anindi. "Aku lihat, pria bernama Rendra itu selalu menatapmu dengan penuh cinta. Jadi, rasanya aku sedikit kurang percaya."


"Rendra?" Adib terkejut sambil bertanya balik.


Arga melirik Adib. "Ya, nama lelakinya Rendra. Saya masih ingat betul saat dia memperkenalkan diri."


Adib termenung, tidak mungkin? Nama itu banyak dipakai oleh siapa pun, bukan hanya adiknya saja. Adib tak perlu khawatir. Aman tetapi, otaknya yang memiliki kemampuan mengingat yang cukup tajam merekam sebuah kalimat yang pernah adiknya katakan.


"Siapa pun namanya, itu bukan urusan Mas lagi! Jadi, aku mohon untuk berhenti mengusik kehidupan pribadiku!" Anindi memperingati Arga sekali lagi, ia lelah.

__ADS_1


Adib justru hanyut dalam teka-tekinya sendiri. Daripada panasaran, pemuda itu pun mengeluarkan ponsel di saku jas. Mencari potret sang adik agar bisa memastikan kebenarannya.


Dapat, Adib menyodorkan layar ponsel ke depan mata Arga dan berkata, "Apa ini orangnya? Lelaki yang kamu anggap calon suami Anindi."


__ADS_2