Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Panti Asuhan


__ADS_3

Rendra sampai di tempat tujuan setelah berkendara sekitar lima belas menit. Begitu kendaraan roda empat milik Rendra berhenti, sepuluh anak balita dari usia dua sampai enam tahun berlarian ke arah mobil Rendra seakan bergembira menyambut kedatangan pemuda yang selalu membawa keceriaan.


Rendra keluar, mencoba memeluk satu per-satu semampunya. 


"Kak Rendra, Tina kangen." Anak perempuan berusia lima tahun dengan rambut ikal bersuara keras.


Rendra 


Rendra berjongkok dan otomatis memeluk erat anak itu yang ada di baris depan. Pelukan itu hangat, penuh cinta dan tulus. Bahkan, lebih tulus dibandingkan pelukan seseorang yang dewasa. "Kakak, juga kangen. Tina makin cantik sekarang."


Anak lelaki yang berusia sama di samping kiri Rendra merasa cemburu. "Tabil juga mau dipeluk seperti Tina, Kak."


Rendra melirik Tabil. Tertawa pelan, kemudian berkata, "Gantian, ya."


Ketika Rendra berada di kerumunan para fans kecil, seorang Ibu paruh baya memakai jilbab merah pun datang. "Selesai, ya, acara pelukannya. Sekarang, Kak Rendranya biar masuk dulu." Suara si Ibu berhasil menghentikan kegiatan itu. Kemudian, anak-anak pun langsung bubar tanpa harus diberikan instruksi lagi. Cukup disiplin. 


Rendra berdiri lagi. Tersenyum manis, kemudian berkata, "Assalamualaikum, Bu." Suaranya penuh hormat. Sorot mata lelaki itu pun tidak bisa berbohong. "Maaf, Bu, aku baru bisa mampir." Biasanya Rendra akan datang dua kali dalam seminggu. Akan tetapi, dikarenakan keadaan ayahnya yang harus masuk rumah sakit, sehingga mengharuskan lelaki itu lebih fokus ke sana.


Bu Lani, namanya. Seorang wanita paruh baya yang sudah mengabdikan diri untuk mengurus panti asuhan sejak usianya dua puluh dua tahun. Ia hanya seorang guru sekolah dasar yang kini lebih fokus membersamai anak-anak di panti asuhan. Dengan relasi seadanya, ia pun mendapatkan banyak donatur untuk kehidupan anak-anak. Bahkan, saat ini terhitung ada sepuluh orang yang menjadi donatur tetap.


"Wa'alaikum salam. Tidak apa-apa, kamu pasti sibuk menulis." Bu Lani memahami itu. "Ayo, masuk dulu. Ibu, tadi masak tumis kangkung dan perkedel jagung kesukaanmu."

__ADS_1


Rendra antusias. Makanan sederhana itu menjadi salah satu penyebab nafsu makannya meningkat. Terlebih, bagi seorang penulis terkadang perlu banyak energi yang dihasilkan dari makanan dalam mencari ide. "Pantas saja aku malas makan dari pagi, ternyata Ibu masak menu enak." 


Bu Lani terkekeh geli. "Ayo, masuk." Perempuan berjilbab merah itu pun berbalik badan yang langsung diikuti oleh Rendra dari belakang. Mereka berbincang-bincang banyak hal, dari mulai perkembangan anak-anak panti asuhan sampai tentang pekerjaan Rendra juga.


Keduanya masuk rumah, langsung menuju dapur. Tak lupa Rendra membagikan makanan pada anak-anak. Dan, tentunya yang paling spesial adalah untuk sang Ibu panti.


Rendra mengambil nasi tanpa canggung. Memang sudah biasa. Ia duduk di meja makan sambil ditemani Bu Lani. Sebuah pemandangan yang jarang didapatkan di rumahnya. 


"Masakan Ibu memang paling nikmat," puji Rendra. 


Bu Lani mengambilkan air minum. Duduk tenang di depan Rendra, memperhatikan anak lelaki yang semakin tumbuh dewasa. "Nak, kedua orang tuamu tau kamu ke sini?" 


Rendra mengangguk cepat. "Ayah sama Ibu pastinya tau, Bu."


Rendra menghabiskan lebih dahulu sisa nasi di mulut. Menelannya cepat, lalu berkata, "Sepertinya malam ini belum bisa, Bu. Ada pekerjaan yang perlu diselesaikan. Kalau tidak, bisa kena amuk Kak Adib." Rendra sudah bisa membayangkan betapa mengerikan kakaknya jika dalam keadaan marah. orang pendiam memang tidak banyak tingkah, tetapi bisa menjadi seorang monster ketika murka.


Bu Lani terkekeh kecil. Mengenal betul anak lelaki pertama keluarga Rendra tersebut. Memang tidak terlalu dekat, tetapi bisa dikatakan bisa memahami sifatnya. "Kamu seharusnya mencontoh kakakmu." Suara Bu Lani begitu lembut dan menangkan. Tidak ada bentakan ataupun kekerasan di tempat ini. Kesabaran perempuan itu bisa dikatakan selangit. Sekali pun setiap manusia pasti memiliki batas sabar juga. "Tapi, bukan berarti kamu harus seperti kakakmu. Cukuplah ambil yang baik dan jadikan yang buruk sebagai pelajaran."


Setiap nasihat yang diterima oleh telinga Rendra dicerna dengan baik. Pasti ada makna kehidupan yang terselip di kalimat tersebut. 


Bu Lani menatap lekat anak yang lebih betah tinggal di sini saat masuk kuliah dahulu dibandingkan di rumahnya. Entah apa alasan pastinya. "Nak, Ibu, yakin kalau kamu juga punya sisi positif yang harus dicontoh oleh orang lain. Jadi, apa pun perkataan Ibu tadi semata-mata ingin yang terbaik untuk kamu."

__ADS_1


Rendra terharu. Tidak ada hubungan darah di antara mereka. Namun, rasa cinta dari wanita itu lebih dahsyat dibandingkan yang lain. Bukan artian, orang tua kandungnya pun tidak mencintai. Hanya saja, Rendra merasa lebih nyaman di ruangan yang hanya berlantai satu ini, tetapi luas. "Aku yakin semua Ibu itu ingin yang terbaik untuk anaknya, begitu pun dengan Ibu."


Bu Lani kembali mengurai senyum. Manis sekali. "Setelah makan, sebaiknya kamu nunggu salat Ashar di sini dulu. Adik-adikmu pasti rindu juga."


Rendra mengerti. Setelah makan, ia langsung mencuci piring. Hal yang bahkan sejak kecil sampai masuk kuliah tidak pernah dilakukan karena adanya pembantu di rumah. Lebih tepatnya, dimanjakan sedari kecil.


Rendra menemui anak-anak di ruangan tamu. Mengajak mereka bercanda ria dengan segala cerita dan juga permainan. Sosoknya di sini jauh berbeda dengan sosok Rendra ketika sedang berada di luar. Tentu orang tidak akan percaya, karena Rendra ini terlihat seperti berandalan. 


"Kak Rendra, pasangannya mana?" Tina bertanya ketika Rendra sedang membacakan dongeng tentang putri dan pangeran dari buku. "Putri sama pangeran itu, kan, pasangan. Berarti, Kak Rendra juga harusnya punya pasangan."


Rendra terdiam. Anak seusia Tina memang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Terkadang banyak pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya sendiri. Tak jarang juga membuat orang dewasa bingung. 


Tina duduk di pangkuan Rendra. Begitu manja pada orang dewasa yang hanya dikenalnya di panti asuhan ini. "Jadi, pasangannya Kak Rendra di mana?"


Pikiran Rendra melayang, kemudian tertuju pada satu orang. Entah apa kabar selanjutnya orang itu. Pasti sedang kebingungan. Rendra mencubit hidung Tina gemas. "Tina penasaran, ya?" Suaranya lembut. Ah, bisa gila jika ada wanita yang mendengarnya.


Tina mengangguk cepat. Respon yang tidak perlu menunggu banyak waktu.


Lengkungan senyum bak rembulan diberikan Rendra pada Tina. Beberapa anak yang berada di dekat mereka pun sama-sama menunggu. Rendra seolah menjadi sasaran pandangan mereka semua. "Rahasia!" Rendra tertawa pelan.


Wajah Tina ditekuk. "Kata Ibu, jangan ada rahasia-rahasia. Harus jujur." 

__ADS_1


Rendra tersenyum kecil, mencubit pelan lagi pangkal hidung Tina dan berkata, "Memang benar rahasia. Semua itu cuma Allah yang tau. Kak Rendra saja tidak tau siapa pasangan Kakak nanti." Perlahan menjelaskan dengan bahasa yang paling mudah dipahami. 


__ADS_2