Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Bu Lia Bertemu Rendra.


__ADS_3

Bu Lia masih menagih kedatangan Rendra sampai esok datang. Terpaksa Anindi pergi ke kamar rawat pria itu dan memintanya datang. Untung saja keadaan Rendra sudah membaik, tetapi tetap saja perban di tangannya belum bisa dibuka.


Pertama kali Bu Lia melihat hal itu langsung menangis. Anindi saja terkejut, padahal Rendra ini bukan anak kandung ibunya. Entah magic seperti apa yang dimiliki pria itu. Anindi saja sampai dibuat takjub.


"Nak Rendra tinggal di rumah saja selama sakit, jangan berjauhan dengan Anindi lagi," kata Bu Lia.


Sontak Anindi menelan ludah, sedangkan Rendra masih terlihat santai saja.


"Saya belum bisa untuk tinggal di rumah Ibu karena jarak dari rumah Ibu ke kantor itu cukup lama," jawab Rendra.


"Kalau seperti itu, Ibu tidak perlu ditemani Anindi lagi. Biar Anindi pulang ke rumahnya." Bu Lia begitu mengkhawatirkan keadaan sang menantu palsu tersebut.


"Tapi, Ibu sedang sakit. Anindi tidak mungkin meninggalkan Ibu." Anindi protes. Jangan sampai dirinya satu rumah dengan Rendra, ini jelas salah.


Bu Lia menatap lembut Anindi. "Nak, kamu bisa datang di siang hari atau bisa juga pulang setelah Magrib. Apa kamu tidak kasian ke suamimu?"


Rendra melirik Anindi. Bukan ingin memanfaatkan keadaan ini, melainkan pria itu menunggu reaksi Anindi. Akan keputusan seperti apa yang dilakukan gadis itu.


Anindi kembali dibuat bimbang. Ini sudah sangat rumit. Kalau seperti itu, di mana dirinya akan tidur? Tidak mungkin di toko. Ah, ini membingungkan.

__ADS_1


"Kamu itu istrinya, sudah seharusnya bersama suamimu. Biar Ibu ditemani Tante Mila. Jangan khawatir." Bu Lia meraih tangan kanan Anindi, memberikan pengertian pada anaknya. "Kamu paham, kan, Nak?"


Anindi tersenyum paksa. "Iya, Bu."


"Alhamdulillah." Bu Lia cukup bahagia. Ia kembali menatap Rendra. Sorotan mata ibu paruh baya itu menyiratkan sesuatu, tetapi sulit diartikan. "Nak Rendra, apa Ibu boleh berpesan sesuatu?"


Anindi sempat tertegun. Tak biasanya sang ibu seperti ini. Seingatnya, ketika Arga masih menjadi suaminya, sang ibu tidak terlalu dekat. Bahkan, tak pernah banyak bertanya bagaimana lelaki itu. Namun, sekarang justru terbalik.


Rendra yang berdiri di depan Bu Lia pun merasakan hal yang berbeda. Biasanya, ia tak pernah suka ketika berbicara dengan ibunya. Bukan karena kesal, tetapi ada satu alasan kuat untuk itu. Lebih tepatnya demi menghindari bangkitnya kemarahan yang berusaha sudah dipendam sejak lama. Akan tetapi, kali ini lelaki itu tidak bisa berbuat apa pun. Ada magnet yang menariknya untuk tetap diam, mempersiapkan kedua daun telinganya. "Iya, Bu. Pesan apa?"


Anindi menunggu dengan penuh tanda tanya. Ada apakah gerangan.


Sebelumnya Bu Lia tersenyum kecil lebih dahulu, kemudian berkata, "Kalau suatu saat Allah memanggil Ibu, tolong jaga Anindi. Jangan sakiti dia."


Rendra memperhatikan interaksi ibu dan anak itu, benar-benar dalam.


"Nak, Ibu cuma berpesan karena kita tidak tau apa yang terjadi ke depannya. Setidaknya Ibu bisa tenang karena kamu punya suami yang luar biasa. Makanya, Ibu titip kamu ke suamimu." Bu Lia kembali tersenyum.


Anindi diam sebentar. Rasanya kalimat itu sedikit menyakitkan. Entah mengapa.

__ADS_1


"Nak Rendra mau janji ke Ibu?" tanya Bu Lia pada Rendra.


Dengan cepat Rendra menyetujui, bukan tanpa alasan. "Insya Allah, Bu, saya akan berusaha menjaga Anindi sebisa mungkin. Ibu, tidak perlu khawatir."


Bu Lia lega. Tenang rasanya. Mereka berbicara sekitar satu jam. Rendra harus kembali ke ruangan inap karena menunggu pemeriksaan dokter, tentu harus ditemani oleh Anindi atas permintaan ibunya.


Anindi dan Rendra keluar rawat inap Bu Lia. Rendra memperhatikan wajah gadis manis itu dan berkata, "Kamu sedih?" Bertanya langsung tanpa basa-basi.


Anindi menahan sekuat tenaga air mata agar tidak jatuh.


"Wajar ibumu bilang seperti itu, kamu itu anak perempuan kesayangannya." Rendra bisa memahami itu.


Anindi masih diam. Rasanya ada yang janggal dengan ibunya hari ini, tetapi perempuan itu sama sekali tidak mengungkapkan pada siapa pun.


"Kamu bisa tinggal di apartemenku kalau mau kalau ibumu tetap ingin kamu menemaniku," kata Rendra.


Sontak saja Anindi menoleh, menatap tajam Rendra. "Apa kamu gila? Tinggal di apartemenmu. Kamu pikir, aku perempuan murahan!" Perasaan Anindi sedang diaduk-aduk sehingga tak karuan, sampai nada bicaranya pun naik satu tingkat. "Jangan keterlaluan, aku tidak mungkin tinggal denganmu!"


Rendra tertawa kecil, semakin membuat Anindi marah.

__ADS_1


"Sifatmu itu kekanak-kanakkan. Bagaimana mungkin kamu meminta seorang wanita untuk tinggal satu atap tanpa hubungan pernikahan? Itu sama saja kamu menghinaku!" Amarah Anindi meningkat tajam. Sulit mengendalikan emosi untuk sekarang. Rasanya memang sukar, bahkan dada wanita itu naik turun mengatur emosi yang keluar tanpa jeda.


Rendra menyunggingkan senyum. "Apa kamu terbiasa menyimpulkan sesuatu tanpa mendengarkan lebih jelas? Wah, hebat sekali." Rendra bertepuk tangan sekali.


__ADS_2