
Setelah mendapatkan haknya, Rendra pulang dan Anindi masuk lagi. Pertemuan dua orang di tengah sunyinya malam seolah tidak pernah tertuliskan sebelumnya.
***
Adib bangun dengan kepala sedikit sakit. Terlalu memikirkan kejadian semalam dan belum bertemu juga dengan Rendra. Pagi ini lelaki itu pun tidak memakan jatah sarapannya, hanya segelas kopi saja dan langsung berangkat. Kedua orang tua Adib sempat saling melempar pandangan, anak pertama mereka bertingkah tidak seperti biasanya.
Tujuan Adib sekarang adalah apartemen sang adik. Tidak peduli seberapa sering salah satu timnya menghubungi karena ada meeting dengan salah satu penulis. Nyatanya Adib tetap terus melajukan kendaraan beroda empat itu ke arah kanan. Arah yang berlawanan dengan gedung penerbitannya.
Keramaian di pagi hari menjadikan jalanan menjadi macet. Banyaknya volume kendaraan yang turun ke jalan menjadi pemicu paling sering, terlebih para pengendara seolah ingin saling lebih dahulu sampai karena dikejar waktu pula. Itulah penampakan yang tidak bisa dihindari.
Seperti pengendara lainnya, Adib juga mengalami kemacetan sekitar lima menit. Setelah itu, kendaraannya meluncur bebas lagi ke arah tujuan. Jika tidak macet, waktu yang ditempuh menuju apartemen adiknya hanyalah membutuhkan sekitar sepuluh menit. Jika seperti ini, jelas saja akan bertambah.
__ADS_1
Mobil Adib sampai di area parkir sebuah apartemen yang cukup megah dengan gedung tinggi setelah lima belas menit di jalanan. Pria mapan itu langsung keluar, masuk gedung dan menyapa satpam yang sudah dikenalnya. Maklum, Rendra sudah pisah rumah dengan orang tua sejak duduk di bangku kuliah. Sebenarnya hal ini pernah menjadi perdebatan, tetapi Adib yang paling memahami adiknya kala itu. Dengan lembut, Adib meminta kedua orang tua mereka untuk mengizinkan adiknya pisah rumah. Hanya saja, niat baik itu ternyata berubah dengan hasil mengejutkan. Membuat Adib hampir kehilangan kesabaran terhadap adiknya.
Singkat cerita Adib naik ke lantai sepuluh dengan menggunakan lift. Selama di dalam lift, lelaki itu terus saja mengatur napas. Jangan sampai amarahnya keluar, sebab ia akan menghadapi seorang lelaki dewasa yang. "Aku harap dia ada di apartemennya."
Lift itu berhenti di tempat tujuan, Adib keluar. Berjalan ke arah pintu kamar apartemen Rendra, melirik ke sebelah kanan. "Sepertinya mereka memang sudah berjanji akan satu lantai." Adib menghela napas kasar, biarkan saja. Dengan berdiri tegak, lelaki itu memencet bel. Ada kamera di sana, yang pastinya Rendra akan tahu dari dalam siapa yang datang.
Hanya menunggu sekitar dua menit, Rendra pun muncul dari balik pintu. "Kakak." Rendra terlihat membawa selimut keluar.
"Assalamualaikum," kata Adib. Pemandangan ini sudah biasa, Adib memakluminya.
Adib duduk di sopa panjang tanpa dipersilakan.
__ADS_1
"Kakak, mau kopi?" Rendra melipat selimut, menyimpan di sopa dan melirik Adib. "Aku buatkan."
Adib bergeming.
Rendra berdiri menatap kakaknya, pasti ada sesuatu yang terjadi. Tidak mungkin tanpa alasan kakaknya datang dengan begitu dinas sepagi ini. "Apa ada sesuatu? Aku rasa, Kakak jauh lebih menakutkan sekarang dibandingkan saat menagih naskah." Rendra bergegas menjauhi Adib, mendekati area dapur. Membuat sarapan seperti biasanya.
Adib memikirkan hal yang akan dibicarakannya. Berharap ini hanyalah mimpi.
"Kakak itu bukan orang yang bisa mendatangi orang lain sepagi ini kalau bukan karena kepentingan yang mendesak. Aku penasaran," imbuh Rendra masih membuka kulkas lagi, ada satu butir telur lagi di sana. Lumayan untuk sarapan. Tangan kanannya mengambil sebutir telur itu, menutup kulkas.
"Kamu mengenal Anindi?" tanya Adib tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
__ADS_1
Rendra tertegun. Tangan kiri masih memegang gagang kulkas.
"Apa hubungan kalian berdua? Apa benar dia calon istrimu?" Kali ini nada bicara Adib begitu serius. Rendra merasa tertarik ke dunia yang kehilangan drama komedi, semuanya harus serius. "Bisa kamu jelaskan? Kakak, harus tau karena masa lalumu itu membuat Kakak sedikit trauma."