
"Tapi, memang biasanya kebanyakan orang seperti itu, sih." Gadis tersebut melangkah ke depan satu kali, berbalik badan dan menatap lekat Rendra. "Aku jadi penasaran, tempat seperti apa yang kamu sukai sekarang?"
Tangan kanan Rendra mengepal kencang di bawah. Dadanya naik turun, menahan amarah yang bisa saja meledak kapan saja. "Aku banyak pekerjaan, bisa tolong minggir?" Rendra ingin menghindari pertemuan mata dengan si gadis tersebut.
Gadis itu justru tertawa kencang, senang sekali. Keadaanya yang cukup berantakan, melihat dari rambutnya yang seperti baru bangun tidur. "Pekerjaan?" Sekali lagi bertepuk sebelah tangan. "Bukannya lebih nikmat menghabiskan uang aja dibandingkan kerja?"
Rendra terus menahan diri. Lawannya perempuan, bukan lelaki. "Aku sibuk!" Dengan cepat menggeser tubuh wanita itu ke samping kanan, berjalan cepat agar bisa segera pergi dari sini. Otaknya sedang pusing, tentunya harus menghindari banyak sumber masalah.
Akhirnya Rendra keluar dari gedung apartemen, sebentar bergurau dengan satpam gedung agar tidak terlalu terpikirkan tentang naskah.
Dengan kendaraan miliknya, Rendra bergegas keluar dari gedung parkiran. Mencari udara segar di tengah panasnya kota. Memang terdengar aneh, biarkan saja. Yang penting bisa menenangkan diri lebih dahulu.
Kendaraan Rendra akhirnya keluar dari area gedung setelah melewati gerbang, bergabung dengan kendaraan lainnya yang memiliki tujuan lain. Sesekali lelaki itu melirik ke kanan dan kiri, barangkali ada yang menarik.
__ADS_1
Tidak ada yang menarik. Rendra terus mengemudi sampai tidak terasa mengarah ke jalan rumah Anindi. Padahal tak ada niat ke sini.
Lelaki itu menepikan kendaraan di sisi jalan. Berdiam diri di dekat pohon besar sambil melamun. Entah apa yang ada di pikiran, yang pasti semuanya tampak buram. "Aku tidak tau harus ke mana ataupun makan apa. Semuanya terlihat tidak menarik."
Rendra memijat pelipis kanan, sakit sekali. Deadline yang terus mengejar tanpa henti, ditambah lagi keadaan suasana hati yang semakin rusak dengan pertemuan tadi. "Astagfirullah, rasanya aku mau kabur aja. Tapi, Kakak pasti marah besar." Rendra menghela napas kasar, dibuat gila dengan satu naskah ini. Biasanya, ia tidak terlalu merasa berat karena tema yang diangkat tak begitu membebani pikiran. Namun, kali ini cukup menguras emosi dan pikiran.
Di tengah keputusasaan Rendra, ekor mata kanannya mendapati sosok Anindi yang baru saja melesat jauh dari arah berlawanan menggunakan kendaraan roda duanya. Sontak saja Rendra langsung menyalakan mobil, berbelok arah hendak menyusul perempuan itu. Penasaran saja, seolah Anindi menjadi angin segar di tengah padang rumput yang gersang.
Mobil Rendra berusaha menyalip setiap kendaraan yang ada di depan. Menyusul motor Anindi yang sudah lebih dahulu melesat tanpa berhenti sedikit pun.
Anindi menoleh, kedua bola matanya terbelalak. Yang dicari rupanya ada di sini. "Minggir, Cepat!" Jangan sampai Rendra kabur begitu saja. Sasaran ada di depan mata.
Rendra terkejut, langsung menepikan mobil sesuai perintah Anindi. Menunggu perempuan itu menghampirinya juga. Rendra turun setelah melihat Anindi menepikan motor di depan kendaraanya. Pria itu penasaran, pasti ada tujuan Anindi. "Assalamualaikum, ada apa?" Tanpa menunggu lama, Rendra langsung bertanya.
__ADS_1
Anindi turun dari motor, membawa kantong plastik hitam berisikan kotak makan. Sesuai perintah ibunya. "Wa'alaikum salam, aku ada perlu dulu." Anindi berdiri di depan Rendra. Di tengah keramaian jalanan, mereka saling berhadapan.
Rendra melihat barang bawaan Anindi, menebak apa isinya. "Wah, tumben sekali kamu ada perlu." Masih saja bersikap tenang dan menunggu. "Apa yang kamu bawa itu?"
Sebenarnya Anindi sedikit ragu juga kesal harus menghadapi Rendra. Akan tetapi, ibunya terus memaksa. Lebih baik menyampingkan ego untuk saat ini. "Ini ada titipan dari Ibu. Masakan rumahan." Akhirnya Anindi menyodorkan barang bawaan di tangannya ke depan. "Jangan salah paham dulu, ini permintaan Ibu bukan aku."
Rendra terdiam. Bukannya mengambil, lelaki itu justru lebih senang menatap Anindi yang sering sekali memalingkan wajah ke sembarang arah.
Anindi menunggu sampai rasanya tidak sabar. "Ayo, ambil! Aku harus cepat pergi." Memaksa Rendra untuk segera mengambil alih barang yang diberikan.
"Apa ini masakanmu?" tanya Rendra.
Kening Anindi berkerut kencang. "Kalau masakanku, memangnya kenapa?" Anindi bertanya balik.
__ADS_1
Di tengah keramaian lalu lintas kota, keduanya saling berhadapan. Tidak peduli seberapa banyak orang yang memperhatikan keduanya dari kendaraan masing-masing. Mereka tetap saja diam di tempat seolah terpana dengan satu sama lain.