
"Syukurlah, Nak." Sorot mata lega terlihat nyata dari kedua netra cantik Bu Lia. Perempuan paruh baya itu benar-benar bahagia ketika melihat keberadaan Rendra. "Ibu dan Anindi mau ke rumah sakit. Check up rutin."
Anindi masih menutup mulut, bahkan kali ini perempuan itu sampai menunduk. Menghindari pertemuan mata dengan Rendra.
"Oh, ya." Rendra berpikir cepat. "Bagaimana kalau aku yang mengantar saja, Bu?" Akhirnya menawarkan bantuan.
Anindi seketika mengangkat kepala. Jangan sampai ibunya yang menjawab. "Tidak perlu!" Dengan tegas menolak.
Bu Lia sontak menoleh ke belakang. "Nak, tidak baik berbicara dengan nada tinggi seperti itu pada suamimu."
Anindi tertegun, sedangkan Rendra seolah berada di jalur paling aman dan terdepan. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman kecil. Pastinya bersorak bahagia.
"Maaf, Bu." Hati Anindi menjerit. Harus bersabar lebih banyak lagi karena keadaan yang memaksa.
__ADS_1
"Aku tidak masalah, Bu." Rendra tersenyum kecil lagi. "Kalau seperti itu, mari aku antar ke rumah sakit." Aktingnya memang sangat baik. Jika ada produsen film, sudah dipastikan Rendra akan diangkut.
Bu Lia langsung mengangguk. Selain bisa berbicara dengan Rendra, mereka pun belum memesan kendaraan.
Anindi menghela napas kasar saat sang ibu melangkahkan kaki ke depan ditemani Rendra. Drama ini semakin kacau. Ia telah terjun ke dasar jurang dan mungkin sulit diselamatkan.
Pada akhirnya, suka ataupun tidak, Anindi ikut masuk ke mobil mewah Rendra. Harum parfum khas mobil langsung menyeruak masuk hidung. Namun, cukup menyegarkan. Anindi duduk di bangku belakang bersama sang ibu, sedangkan Rendra sendiri berada di bangku khusus pengemudi.
Mobil itu bergerak meninggalkan deretan ruko dan akhirnya bergabung dengan kendaraan lain di jalanan. Rendra begitu telaten membalas semua pertanyaan yang diajukan Bu Lia, seolah pria itu nyaman dengan kehadiran wanita paruh baya yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu.
Rendra sesekali melirik Anindi dari kaca depan. Melihat ekspresi gadis itu yang tidak suka dengan keadaan sekarang.
"Nak, kamu mau langsung membawa Anindi pulang ke rumah kalian?" tanya Bu Lia.
__ADS_1
Rendra terdiam sambil menyetir, sedangkan Anindi sendiri tampak gelisah. Bagaimana lagi menghadapi keadaan yang sulit dihindari tersebut.
"Ibu, pasti rindu Anindi. Tapi, Anindi sudah berkewajiban ke suaminya." Bu Lia begitu antusias berbicara saat ini.
Keadaan lalu lintas mendadak ramai. Rupanya ada kecelakaan terjadi di depan. Terpaksa Rendra menghentikan laju kendaraan dan menikmati kemacetan yang terjadi. "Kalau seperti itu, bagaimana kalau Anindi tetap di rumah Ibu saja? Aku sendiri mungkin akan tinggal di rumah, karena jarak kantor sangar jauh dari rumah Ibu." Di sini Rendra mengukur jarak toko Anindi ke arah panti asuhan yang bisa memakan waktu hampir dua puluh lima menit. Banyak belokan ataupun tanjakan yang harus dilewati. "Nanti, aku datang sesekali untuk menjenguk Ibu dan Anindi."
Anindi tidak habis pikir Rendra akan memberikan jawaban seperti itu. Hampir saja dirinya pasrah.
Bu Lia termenung. Sedikit janggal, tetapi sulit berkata-kata lagi.
Rendra menoleh ke belakang, hampir bertemu pandangan dengan mata Anindi yang langsung menunduk. "InsyaAllah, kalau waktunya sudah membaik dan Ibu juga sudah sembuh total. Anindi akan aku bawa ke rumah. Tapi, untuk saat ini aku mengizinkan dia menemani Ibu saja."
Kedua bola mata Anindi membesar. Kalimat Rendra ini seakan mengisyaratkan sesuatu. Namun, wanita itu tak menemukan dengan jelas. Entah.
__ADS_1