
Dua hari setelah itu, Anindi menutup toko karena harus mengurus ibunya yang tiba-tiba demam. Biasanya Bu Lia tidak masalah sendiri jika demam. Namun, kali ini justru ingin ditemani. Tidak banyak perhitungan, Anindi pun langsung melakukan hal yang diinginkan sang ibu.
Sekitar pukul sepuluh pagi, setelah Anindi mengupas buah apel untuk sang ibu. Mereka duduk di teras berdua. Suhu badan Bu Lia sudah menurun, tidak sama seperti semalam. Oleh karena itu, Bu Lia ingin menikmati waktu santai di depan rumah. Anindi membawakan secangkir teh manis hangat, sesuai keinginan ibunya. Duduk di salah satu kursi rotan yang sudah lama menemani rumah ini, sejak Anindi kecil.
"Nak, suamimu tidak datang dari kemarin-kemarin. Apa dia marah kalau kamu di sini? Ibu, jadi tidak enak hati," tanya Bu Lia.
Anindi tertegun, kemudian berkata, "Mungkin sedang sibuk, Bu. Memangnya kenapa?"
Bu Lia diam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. "Nggak, Nak. Seharusnya kamu temui suamimu siang ini. Bawakan dia makanan juga, kalian harus bisa menjaga hubungan biar tetap baik."
Anindi menelan ludah. Rasanya susah berkata-kata jika sudah membahas perihal ini. "Mas Rendra biasanya makan di luar, Bu."
Bu Lia langsung menoleh ke samping kanan. Menggelengkan kepala. "Jangan sering-sering makan di luar, Nak."
Dua bola mata Anindi membulat sempurna. "Loh, memangnya kenapa?" Angin sepoy-sepoy menerpa hijab Anindi berwarna hitam manis. Sangat cocok dan pas dengan warna baju yang sedang dipakainya, biru muda.
Bu Lia mengelus pelan punggung Anindi, lembut sekali. "Nak, suamimu itu akan senang kalau istrinya bisa memasakan makanan kesukaan. Coba diingat, apa masakan kesukaan suamimu?"
Jelas Anindi tidak tahu. Ia sampai diam dua menit, menebak kegemaran pria yang dianggap suaminya oleh sang ibu.
"Kamu tidak tau?" Bu Lia bertanya lagi. Mungkin karena melihat Anindi diam terus. "Sebagai istri, kita harus tau apa yang disukai suami. Entah itu masakan ataupun pakaian."
"Euh ...." Otak Anindi berpikir keras, mencari sesuatu yang bisa dijadikan jawaban. Di antara menu yang ada di otak, akhirnya Anindi memutuskan satu nama. "Rendang, Bu." Entah apa alasan wanita itu mengatakan salah satu menu yang paling diminati banyak orang. Namun, biasanya siapa pun akan sangat menyukai menu tersebut.
Bu Lia sempat terlihat kurang percaya. Namun, Anindi berkata lagi, "Mas Rendra suka sekali makan rendang, apalagi rendang buatan Ibu." Menunggu perubahan wajah ibunya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita buat saja rendang sekarang. Kebetulan ada santan di kulkas, kamu tinggal beli dagingnya ke pasar sebentar," kata Bu Lia dengan penuh gembira. Menantu lelakinya itu akan sangat senang saat mendapatkan makan siang tersebut.
Anindi hampir tidak berkata-kata lagi. Membuat rendang dengan waktu yang singkat itu tidak mungkin. Terlebih jam makan siang hanya tinggal dua jam lagi, sudah terbayangkan bagaimana lelahnya. "Jangan sekarang, Bu. Besok saja. Bukannya Ibu baru sembuh demam?"
Bu Lia tertegun lagi, sedangkan Anindi mengambil secangkir teh manis dingin. Cuaca memang sangat cetar membahana, lebih cocok menikmati minuman dingin.
"Kalau seperti itu, antarkan saja makanan yang lain." Bu Lia tidak kalah pemikiran.
Anindi tersedak.
"Jangan buru-buru kalau sedang minum." Bu Lia mengelus lagi punggung Anindi.
"Maaf, Bu." Rasa sakit di tenggorokan cukup menganggu. Anindi bingung menjawab apalagi.
"Panaskan saja sambal cumi yang ada di kulkas, lalu buatkan omlet dan antarkan ke kantor suamimu. Jangan biarkan suami makan di luar terus menerus. Bukannya tidak baik, tapi alangkah bagusnya suamimu menyantap masakan istrinya." Tangan lembut Bu Lia terus mengelus punggung Anindi.
"Jangan lupa siapkan juga minumannya. Bawakan suamimu vitamin agar badannya terlindungi. Cuaca sedang tidak baik-baik saja," kata Bu Lia lagi.
Anindi pasrah. Sebaiknya melakukan apa pun yang diinginkan sang ibu untuk sekarang. Anindi terdiam sejenak, menoleh ke samping dan mendapati wajah penuh kebahagiaan yang terpancar dari raut muka ibunya. Tidak tega pula merusaknya. "Bu, Anindi minta maaf, ya." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Anindi. Suatu saat, dirinya pasti bisa mengungkap kebenaran pada sang ibu.
Kening Bu Lia berkerut kencang. Kurang memahami perkataan Anindi. "Minta maaf untuk apa, Nak?"
Anindi menyimpan gelas lagi di meja, berdiri. Kemudian, merangkul ibunya. "Anindi sayang sekali dengan ibu. Kalau suatu saat Anindi melakukan kesalahan besar, apa Ibu masih mau memaafkan?"
Bu Lia tersentak. Tidak biasanya sang anak mengatakan demikian. Merangkul balik Anindi. "Nak, semua Ibu di dunia ini pasti mau memaafkan kesalahan anaknya. Sebesar apa pun, jadi kamu tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Anindi memeluk erat. Ingin menangis, tetapi ditahan. Entah berapa lama harus berakting seperti ini, sudah tidak tahan.
***
Sementara itu Rendra sibuk meneruskan cerita di kamar apartemennya. Lelaki itu tinggal sendiri di apartemen dan sesekali pulang ke rumah untuk sekadar menjenguk orang tua. Sebenarnya malas, tetapi sang kakak selalu memaksa dan mengingatkan.
"Aku stres!" Rendra menjambak rambut. Naskah horor yang menceritakan satu desa yang memiliki banyak penganut imu hitam itu pun berhasil membuat Rendra gila. Selain melakukan riset ke beberapa desa dengan background tersebut pun, ia pun melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang terlibat atas hal-hal mistis. Jelas saja Rendra bisa dikatakan gila.
"Harusnya aku banting stir aja ke genre romantis, tapi Kakak pasti ngamuk kalau ini belum selesai. Deadline-nya satu bulan lagi!" Rendra memijat pelipis kanan, sakit sekali.
Setelah lama berada di ruangan apartemen yang memang cukup mewah. Akhirnya Rendra memutuskan untuk keluar saja. Barangkali menemukan sesuatu yang bisa mengusik rasa bosannya.
Rendra melirik arloji di tangan kanan, jam makan siang akan segera datang. Tepat sekali, itu artinya ia bisa sambil mencari menu makanan yang bisa menggugah selera juga meningkatkan mood menulis.
Rendra keluar apartemen yang berada di lantai sepuluh, turun menggunakan lift seperti biasanya dengan pakaian yang tidak kalah menyudutkan dirinya sebagai seorang preman. Bayangkan saja, Rendra memakai jaket hitam yang bagian punggungnya bergambar tengkorak, juga celana jeans yang bagian lututnya sobek. Tidak lupa kaos hitam oblong yang gambarnya sama dengan jaket. Untung saja tertolong dengan wajah tampan pria itu, yang menjadikan alasan pada gadis semakin tergila-gila, istilahnya.
Rendra sampai di lantai bawah, bertemu dengan sosok gadis penuhi apartemen sebelah di lantai sepuluh. satu lantai hanya ada dua kamar apartemen saja dengan fasiltas sangat lengkap.
"Hai, Tampan." Gadis memakai baju tang top merah juga celana pendek di atas lutut itu menyapa Rendra. Bau rokok tercium menyengat. "Sudah lama tidak bertemu. Makin tampan saja."
Rendra acuh, keluar dengan elegan. Gadis itu bukannya masuk, justru mengekor Rendra dari belakang. "Tampan, kamu berani mengacuhkanku?" Kesal melihat sikap Rendra.
Rendra diam. Berjalan santai saja tanpa merasa terganggu, sedangkan si gadis terus mengikuti sampai akhirnya sekarang berdiri di samping Rendra. Tanpa bertanya lebih dahulu, gadis itu merangkul lengan kanan Renda sambil berkata, "Tampan, harusnya kamu ikut aku ke club tadi malam."
Sontak saja Rendra berhenti, yang pastinya si gadis pun ikut berhenti. Rendra menghempaskan tangan gadis itu, kesal. "Aku sudah bilang, jangan sentuh!" Mulai keluar rasa kesal, bisa-bisanya menganggu kenyamanan begitu saja. "Ajak orang lain, aku tidak suka pergi ke tempat seperti itu!" Rendra berjalan lagi.
__ADS_1
"Tidak suka?" Gadis manis itu tertawa kencang, berhasil menghentikan langkah Rendra. "Kalau sudah mencicipi, baru bilang tidak suka. Wah, hebat sekali." Bertepuk tangan penuh kegembiraan.