Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Bunga Mawar


__ADS_3

Anindi membawa ibunya ke dalam toko beserta dengan Bu Mila juga. "Duduk di sini, Ibu." Perempuan itu membawa kursi plastik berwarna hijau muda yang biasa dipakai menunggu pembeli saat Anindi sedang merangkai buket bunga. Tidak menyangka jika ibunya akan datang ke sini, padahal jadwal check up itu siang.


Bu Lia duduk di kursi. Mengamati sekitar. Ia memang tidak mengingat banyak kenangan, tetapi beberapa orang yang dikenal cukup diingatkannya. Sekali pun demikian, dirinya tetap berusaha untuk mencari tahu dengan bertanya pada sahabat ataupun anaknya. "Sayang, Ibu, tunggu di sini aja, ya. Di rumah rasanya bosan sendirian," kata Bu Lia.


Bu Mila menyimpan tas kecil di meja Anindi dan berkata, "Lia, aku harus kerja. Ini makanan yang kita beli tadi." Perempuan yang sama paruh baya itu mendekati Bu Lia. "Kamu serius mau menunggu di sini? Maaf, aku tidak bisa mengantar ke rumah sakit."


Bu Lia tersenyum pada sang Sahabat. "Iya, sebaiknya aku di toko saja. Tidak masalah, maaf karena aku justru merepotkanmu sekarang."


Bu Mila mengelus pundak kanan Bu Mila. "Jangan seperti itu. Kamu itu sudah seperti saudaraku, jadi kalau memang butuh bantuan. Katakan saja. Aku pamit kerja, ya. Assalamualaikum."


Anindi yang dekat dengan Bu Lia ikut berterima kasih pada Bu Mila. Setidaknya, ia tidak terlalu khawatir karena ibunya memiliki seorang sahabat yang luar biasa. "Hati-hati di jalan, Tante. Assalamualaikum."


"Iya, Nak. Jaga ibumu baik-baik, ya." Bu Mila segera melangkah meninggalkan ruangan diikuti dengan anggukan pelan kepala Anindi.


Selepas kepergian Bu Mila, Anindi langsung mengerjakan dua buket bunga yang sudah pesan di sebuah aplikasi online. Tentunya buket ini akan dibawa oleh jasa ojek online yang sebentar lagi akan datang. Oleh sebab itu, Anindi harus sebisa mungkin bekerja dengan cepat.


Bu Lia mengamati bunga mawar di pojok kanan. Bunga itu tampak indah dengan warna yang paling terang, sehingga menariknya ke sebuah moment yang tidak disangka-sangka. "Nak, suamimu sudah tidak pernah kasih bunga, ya?" Mendadak bertanya tanpa ragu.


Anindi yang sedang duduk di depan meja dengan memegang gunting bunga itu terdiam. Akan ada kejutan seperti apa lagi yang didapatinya hari ini.

__ADS_1


"Seingat Ibu, kamu sering punya banyak bunga di dapur rumah kalian. Katamu, karena suamimu yang sering memberikannya. Apa sekarang bunga itu masih ada atau sudah layu?" Bu Lia bertanya lagi.


Anindi menghela napas lelah. Harus lebih sabar dan tenang. Hanya perlu waktu untuk mengatakannya, tetapi setelah diskusi dengan Dokter. Sekarang, lebih baik tetap mengikuti alur yang ada. "Bunganya masih ada, kok, Bu." Padahal, bukan hanya bunganya. Tempat tinggalnya pun sudah tiada.


Bu Lia menatap lekat sang Anak dan berkata, "Kamu pintar merawatnya, Nak. Suamimu pasti bangga."


Anindi menoleh ke samping kanan, mengurai senyum. "Ibu, mau tidur di lantai atas atau tetap menunggu di sini. Aku takut Ibu lelah." Anindi secepat mungkin mengalihkan topik pembicaraan. "Kita masih ada waktu sekitar enam jam lagi untuk bertemu Dokter."


Bu Lia merasa lebih segar ada di antara bunga-bunga. Pemandangan yang sulit untuk diskip, bahkan sangat disayangkan pula untuk dilewatkan. Lebih baik di sini. "Ibu, mau di sini saja, Nak. Bunga-bunga ini terlihat segar dan menyenangkan. Ibu, jadi ingat saat kamu masih kecil."


Bu Lia mendongengkan tentang Anindi kecil yang sudah menyukai bunga. Anindi bahkan kerap kali membawa bunga-bunga liar yang ditemuinya saat pulang sekolah. Sebab, waktu itu keadaan sekitar rumah masih banyak pepohonan.


Dilihat dari segi apa pun, kesukaan Anindi terhadap bunga rupanya sudah turun temurun dari Bu Lia. Terlihat jelas dari wanita paruh baya itu yang begitu antusias ketika membicarakan tentang bunga.


Suara azan berkumandang. Anindi dan Bu Lia saling bergantian untuk melaksanakan salat Dzuhur. Mereka juga makan siang bersama sebelum pergi ke rumah sakit. Anindi merasakan lagi suapan sang Ibu yang terasa lebih nikmat dibandingkan sekadar mendapatkan handphone kesayangan.


"Ibu, setelah check up nanti. Ibu, mau apa?" tanya Anindi. Barangkali ada keinginan entah itu makanan ataupun minuman yang sedang dinantikan sang Ibu.


"Ibu mau bertemu suamimu, Nak." Dengan lantang dan tanpa ragu langsung menjawab.

__ADS_1


Tangan kanan Anindi mendadak berhenti mengaduk es jeruk yang dibeli dari sebrang jalan. Tertegun. Permintaan Ibu tidak lebih dari itu. Terlihat sepele. Namun, sangat sesak untuk Anindi.


Kedua mata Bu Lia memancarkan kerinduan terhadap sosok Rendra yang dianggapnya menantu. Sekali pun penampilan Rendra tidak terlalu rapi, mengingat lelaki itu sering memakai celana yang banyak robek di bagian lutut. Ditambah dengan jaket sedikit robekan juga, jelas orang akan mengira Rendra adalah anak gelandangan ataupun geng motor. "Ibu, senang kalau berbicara dengan suamimu. Dia itu sopan, sering mengajak Ibu bercanda."


Anindi menelan ludah. Bagaimana akan menghadapi ibunya di hari-hari berikut. Ini terlalu membingungkan.


Anindi menarik napas kasar, mengembuskan perlahan-lahan. Ia pasti bisa melewati semuanya. "In Syaa Allah, kalau sudah selesai, pasti Ibu akan bertemu."


"Apa suamimu sering keluar kota selama ini, ya?"


Anindi tersenyum kecil. "Namanya pekerjaan, Bu. Tidak ada yang bisa memprediksi." Sekali pun Anindi sendiri tidak tahu jenis pekerjaan apa yang dilakukan Rendra, lebih tepatnya. Sebab, Rendra hanya menyebutkan bahwa lelaki itu hanyalah seorang penulis. "Kalau sudah selesai, nanti aku minta dia cepat pulang."


Kening Bu Lia mengerut kencang. Ada yang aneh. "Dia?" Mulut Bu Lia bertanya. "Kenapa kamu menyebut suamimu dengan kata dia, itu tidak baik, Sayang. Kamu seharusnya menyebutnya Mas atau Kakak."


Anindi tertegun, lupa sedang berbicara dengan seorang Ibu yang sangat menjunjung tinggi kesopanan. "Maaf, Bu, maksud aku Kak Rendra." Sedikit geli juga ketika Anindi menyebut nama Rendra. Mengapa kehidupannya harus serumit ini.


Anindi selesai makan. Mendadak kenyang, ia meminta ibunya untuk menghabiskan. Namun, ibunya pun sama. Waktu terus berjalan, dan tibalah waktunya ke rumah sakit. Anindi lebih dahulu mengecek pesanan yang akan dibawa nanti malam. Ia juga tidak lupa membawa dompet yang akan dimasukkan ke atas. Semua siap. Dengan menggandeng lengan kanan Bu Lia, Anindi pun keluar toko. Menutup dan tidak lupa menggembok. "Kita berangkat, Bu." Anindi kembali menggandeng lengan Bu Lia. Mereka baru saja menuruni satu anak tangga ketika suara mobil berhenti tepat di depan toko.


Anindi mengangkat kepala, melihat mobil dan nomor plat kendaraan itu yang dikenalinya. Terkejut bukan main. Ini bukan waktu yang pas, mengapa harus datang ke sini?

__ADS_1


__ADS_2