Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Bingung


__ADS_3

Anindi sampai di tempat tujuan. Membayar ongkos, kemudian membawa buket bunga yang lumayan besar sampai menutupi dirinya. Begitu berjalan mendekati pintu utama, ia tak sengaja menabrak sesuatu. "Astagfirullah!" Perempuan itu seketika meletakkan bunga di samping kanan. Terkejut bukan main. Yang ditabraknya bukan benda, melainkan orang. "Ah, maaf." Sedikit bersalah.


Orang yang ditabrak Anindi ternyata lelaki yang sama saat di toko buah. Tak menyangka bisa bertemu lagi. Lelaki itu tersenyum kecil, lalu berkata, "Tidak apa-apa."


Anindi langsung menunduk, jangan sampai bertemu pandangan dengan lelaki itu. 


"Kamu mau kirim bunga ke gedung ini?" Si Lelaki bertanya sambil menunjuk ke gedung penerbitan yang cukup terkenal di Ibu Kota tersebut. 


Anindi mengangguk cepat. "Iya."


"Kirim ke lantai berapa? Kalau memang tidak sanggup naik, bisa dititipkan ke satpam saja. Biar mereka yang mengambil." 


Anindi tidak enak hati. Biasanya, ia akan mengirimkan buket bunga sampai ke tangan pembeli. "Tidak perlu. Aku bisa bawa ke lantai empat."

__ADS_1


"Itu cukup tinggi." Si Lelaki terus memperhatikan buket bunga, melihat namanya di sana. Namun, tetap diam. "Sebaiknya, kamu titip di satpam saja."


Anindi sedikit kesal. Baru bertemu dua kali saja, lelaki ini sudah mengatur. "Aku tidak perlu dikasihani!" Akhirnya perempuan itu tidak bisa menahan kekesalan. Menarik napas dalam, mengambil buket bunga lagi sampai menutupi dirinya. "Maaf, aku buru-buru. Apa bisa minggir sebentar?"


Melihat Anindi yang sulit ditembus, akhirnya si Lelaki tersebut memilih menuruti keinginan Anindi. Biarkan saja sesukanya. Setelah Anindi lebih jauh melangkah, barulah lelaki itu bersuara. "Dia perempuan yang punya prinsip kuat. Cukup baik, tapi terlihat keras kepala juga." Menggelengkan kepala dua kali. 


Sementara itu, Anindi masuk dan ditegur oleh satpam. Menyarankan Anindi untuk menitipkannya agar bisa sedikit meringankan beban gadis itu. Namun, jawaban Anindi tetap sama. Akan tetap mengirimkannya langsung ke tangan pembeli.


Anindi menggunakan lift untuk naik ke lantai empat. Pembelinya sudah menunggu, sebuah momentum yang paling dinantikan oleh Anindi juga. Begitu lift berhenti di lantai tujuan, perempuan itu langsung disambut oleh pembeli.


"Terima kasih, Mbak. Buket bunganya cantik sekali." Kalimat yang sangat singkat. Akan tetapi, bermakna untuk Anindi. Kerja kerasnya terbayar lunas. Bukan perihal uang, tetapi juga penghargaan akan satu karya.


Anindi turun kembali ke lantai bawah dengan hati bahagia. Jika diperhatikan dengan teliti, gedung ini cukup mewah dan luas. Bahkan, beberapa fasilitasnya pun sangat baik dan mendukung sekali. Ia bahkan harus masuk menggunakan kartu dari satpam. 

__ADS_1


Anindi teringat sesuatu. Jika ia bisa masuk lewat kartu satpam, lantas bagaimana dirinya bisa keluar? Ah, tidak terpikirkan sama sekali.


Begitu kedua kaki Anindi menginjakkan di lantai bawah, ia bingung sendiri. Ingin meminta tolong pada satpam lagi, tetapi lelaki paruh bertubuh tegap itu sedang tidak ada di tempatnya. "Astagfirullah, kenapa aku sampai nggak kepikiran?" Anindi menepuk jidat dua kali. Penyakit pelupanya satu ini memang tidak bisa diobati sejak dulu. Sudah berusaha mengingat, tetapi selalu saja lupa sesuatu yang bisa dikatakan penting.


Anindi terdiam di depan orang yang keluar masuk dengan menggunakan kartu. Menghela napas kasar, entah apa yang seharusnya dilakukan. Ingin meminta tolong, rasanya canggung. Orang-orang itu terlihat sangat buru-buru dan sulit diajak bicara.


"Aku keluar gimana?" Anindi bingung sendiri. Padahal, seharusnya ia sudah berada di parkiran sekarang.


Di sela-sela kebimbangan, suara seseorang menyapa telinga Anindi. "Ayo, keluar bersama!"


Anindi terkejut, mengangkat kepala dan menatap seseorang di depan.


"Kamu kebingungan untuk keluar dari sini, kan? Ayo, pakai kartu ini." Orang tersebut memperlihat kartu yang cukup berbeda dengan milik satpam tadi. Biasanya, setiap kartu yang dimiliki karyawan itu akan sama. Namun, kartu yang dilihatnya sekarang sedikit berkelas. Lantas, jabatan seperti apakah orang ini di perusahan yang sedang dikunjungi Anindi? Ini masih misteri.

__ADS_1


__ADS_2