Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Berdebat Lagi


__ADS_3

Lagi-lagi Rendra membuat keributan yang menurut Anindi sangat fatal. Bisa saja orang mengira dirinya memang calon istri dari Rendra.


Setelah melihat Rendra berjalan cepat ke arah gedung menjulang tinggi itu, Anindi pun menyusul. Satpam kantor memperhatikan mereka, tetapi tidak berani untuk bertanya.


"Maaf, kamu terlalu lancang mengatakan itu di depan umum!" Anindi protes sambil berjalan. Beberapa karyawan perempuan tersenyum manis ke arah Rendra sambil mengangguk hormat. Membuat Anindi bingung, ada apa ini?


"Aku rasa tidak lancang, bukan itu yang dipikirkan ibumu?" Rendra menjawab dengan asal.


Mereka berjalan ke arah lift setelah Rendra mengajak masuk Anindi menggunakan kartu spesialnya. Suasana lantai bawah ini sangat ramai, mungkin karena di sinilah tempat hilir mudik.


"Tapi, bukan berarti kamu juga harus mengumumkan ke semua orang!" Anindi masih terus menganggap Rendra salah besar. Ini bisa saja berdampak pada pikiran orang lain dan akhirnya menganggap Anindi sebagai apa yang mereka dengar. "Coba dewasa sedikit!"


Anindi berhenti di depan lift yang sepi. Tentunya di samping lift yang ramai dengan karyawan, ia menoleh ke samping. "Kenapa kita di lift ini?" Bertanya pada Rendra.


Rendra yang juga berhenti di depan lift, tepatnya di depan Anindi melirik sekilas ke samping kanan. "Ini lift khusus." Menatap lurus lagi ke depan.


Kening Anindi mengerut kencang. Itu artinya Rendra memiliki akses khusus yang dibilang VIP di gedung ini. Lantas, sebenarnya siapakah lelaki ini?


"Kalau kamu lebih senang berdesakan di sana, silakan. Tapi, jangan salahkan aku kalau buket bungamu rusak," lanjut Rendra.


Anindi berpikir ulang lagi untuk bisa berada di kerumunan para penunggu lift di samping. Buket ini pesanan dan tentunya harus selamat sampai tujuan. Artinya, ia harus menjaga dengan baik buket ini sampai ke tangan pembeli, lebih tepatnya tidak boleh rusak sedikit pun.


Lift di depan terbuka, Rendra masuk. Masih berusaha menunggu keputusan Anindi. "Bagaimana? Mau masuk atau ikut sama mereka?" Bertanya agar lebih jelas.

__ADS_1


Setelah dipertimbangkan beberapa detik, pada akhirnya Anindi memilih untuk ikut Rendra. Sebentar saja karena hanya sampai lantai empat saja.


Lift tertutup, Rendra menuju lantai delapan, sementara Anindi hanya sampai lantai empat. Sesuatu yang perlu disyukuri juga.


"Kamu datang ke sini berapa kali?" tanya Rendra. Melihat dari tatapan Anindi yang tidak terlalu asing pada tempat ini membuat dirinya menyimpulkan jika perempuan itu tidak hanya sekali datang ke sini.


Anindi memegang buket bunga dengan erat, jangan sampai lepas. "Mungkin baru dua kali dengan yang ini. Ada apa?" Melirik sekilas pada Rendra ketika lift masih berjalan mulus.


Sudah Rendra duga, pantas saja. "Tidak. Wajar saja kamu tidak terlalu asing tadi." Lelaki itu berdiri di pojok kanan, sedangkan Anindi ada di pojok kiri. Memilih saling menjauh demi kenyamanan bersama.


"Kamu bekerja di sini?" Anindi mulai merasa tidak canggung. Mungkin karena pembawaan Rendra yang santai dan tidak terlalu serius.


Rendra tersenyum simpul. Sepertinya Anindi memang tidak banyak tahu atau mungkin tidak ingin tahu, beda tipis. "Bisa dikatakan, ya. Bisa dikatakan juga, tidak."


Anindi mengerutkan kening. "Maksudnya?"


Rendra terkekeh geli. "Kamu anggap semua perkataan orang itu serius?" Menoleh ke samping kiri, memperhatikan Anindi yang menunduk seolah takut bertemu dengan matanya. Padahal ia juga tidak akan menerkam, begitu menakutkan dirinya di depan perempuan itu. "Padahal ada orang yang berkata sembarangan."


Anindi kurang suka dengan sifat Rendra yang ini, seolah memandang rendah orang lain. Dari cara bicaranya. "Aku berusaha menganggap perkataan orang itu serius, tapi bukan berarti semua perkataan orang itu baik untuk aku."


Kali ini kening Rendra yang berkerut kencang. "Maksudnya?" Ternyata lebih menyenangkan juga berdebat dengan Anindi. Perempuan itu punya cara unik untuk menanggapinya. "Bisa jelaskan dengan bahasa manusia yang baik?"


Anindi sontak terkejut. "Memangnya aku selama ini berbicara tidak dengan bahasa manusia?" Hampir dibuat gila dengan pertanyaan Rendra.

__ADS_1


Akhirnya lift berhenti di lantai empat. Anindi memilih keluar, begitu pun dengan Rendra yang justru ikut turun juga. Padahal bukan di rutenya.


Anindi sempat bingung dengan sikap Rendra. "Kamu bukannya turun di lantai delapan?" Setahunya.


Mereka berdiri di depan lift. Untung saja lorong menuju lift itu sepi sehingga tidak ada orang yang melihat keduanya.


Rendra memperhatikan sekitar, benar juga. Terlalu nyaman berdebat dengan Anindi sehingga menyebabkan dirinya lupa. "Astagfirullah, kenapa aku malah turun?" Rendra bingung sendiri.


Anindi mulai merasa ilfil dengan Rendra, tetapi pria itu pun mengundang rasa penasaran pada diri Anindi. Bukan hanya sekadar sikapnya yang seolah menyembunyikan sesuatu, tetapi juga pemikirannya yang terkadang tidak masuk di akal. "Sebenarnya kamu bekerja di sini atau bukan?" Anindi bertanya lagi.


Rendra diam. Ingin menjawab sejujurnya, tetapi bisa membuat Anindi terkejut. "Aku sudah jawab tadi. Apa jawabanku kurang jelas?"


Anindi masih memegang buket bunga dengan erat. Waktu pengiriman tinggal dua belas menit lagi, hanya tinggal berjalan ke samping kanan juga. Menurut arah yang sudah diberikan oleh pemesan lewat aplikasi pesan online. "Jawabanmu itu kurang jelas. Kamu bilang antara ya dan tidak, padahal yang aku tanyakan itu kepastiannya. Memangnya kamu mau diberikan jawaban seperti itu juga dari orang lain?"


Mereka akhirnya terlibat lebih lama perdebatan, padahal Anindi bukan orang yang senang dengan hal ini. Anindi lebih banyak menghindari perdebatan yang berujung pada kekesalan. Itu juga akan membentuk hati yang saling menyakiti satu sama lain.


Rendra terdiam, bukan tidak memiliki jawaban. Namun, senang dengan sikap Anindi yang perlahan sudah bisa menerima kehadirannya. Padahal Rendra tidak terlalu mengenal Anindi, menyukai atau mencintai perempuan itu saja, tidak. Lantas, atas dasar alasan apa Rendra bisa merasa senang? Benar-benar membingungkan.


Anindi mulai kesal, sudah kesal sebenarnya dari tadi. "Aku tidak bisa memaksamu untuk menjawabnya, tapi satu hal yang perlu kamu ingat itu kalau sebaiknya berikanlah jawaban yang pasti. Maaf, aku harus pergi." Anindi berbalik badan, melangkah ke depan dua kali.


"Aku memang bekerja di sini, tapi aku juga tidak terlalu senang." Rendra menjawab cepat. Hal ini berhasil membuat Anindi menghentikan langkah. Mereka terpisah sekitar satu meter. Lelaki itu menyunggingkan senyuman kecil. "Tempat ini bisa dibilang ladang rezeki, tapi juga paling ingin dihindari."


Suasana lorong lift itu sepi dan hening. Tak ada suara yang terdengar. Bahkan lift yang sebelahnya pun seolah tidak sudi terbuka, selain karena tidak ada orang yang menuju ke sini.

__ADS_1


Anindi tertegun. Jawaban Rendra selalu saja mengundang rasa penasaran. Menyebalkan.


"Kalau ditanya alasannya, pasti ada. Kamu mau tau juga?" tanya Rendra tanpa menunggu Anindi bertanya padanya.


__ADS_2