Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Kenapa Tidak Menangis?


__ADS_3

Anindi mengerti dari kalimat Rendra ini. Namun, perempuan itu tidak habis pikir.


"Dia itu baru datang, tapi aku dari tadi menemani kamu!" Raina semakin dibuat kesal. Rendra memihak pada Anindi, wanita yang tidak dikenalnya. "Lagian aku tidak pernah melihat dia."


"Kamu sebaiknya keluar, sebelum aku meminta perawat mengusirmu. Kepalaku serasa mau pecah!" Rendra memijat kening kanan, sakit sekali.


Anindi berada di posisi yang kurang nyaman, melihat perdebatan ini.


"Baiklah, aku mengalah." Ekor mata kanan Raina melirik sinis Anindi. "Tapi, lain kali, jelas tidak! Pekerjaanku masih banyak, terutama urusan dengan kakakmu itu!" Raina meraih tas kecil di ranjang rumah sakit, berjalan mendekati Anindi dan melewatinya. Kedatangannya ke sini karena kabar buruk itu, tetapi Rendra rupanya tidak menyukai.


Dengan posisi pintu yang masih terbuka lebar, tinggallah Anindi dan Rendra berdua.


"Jadi, aku harus apa? Kamu belum menjawab dari tadi." Rendra tidak sabar. Perutnya bahkan sudah berbunyi, menyedihkan sekali.


Anindi kehabisan kata-kata. Andaikan dirinya tidak butuh dengan bantuan Rendra, tentu akan protes. Namun, kali ini posisinya sangat butuh. "Aku paham." Anindi sempat menghela napas kasar. Bergerak mendekati meja kecil yang terdapat makanan kecil. "Kamu mau makan yang mana?"


Rendra sekali lagi merasa menang. Mudah sekali. "Yang mana saja, yang penting perutku terisi." Lelaki itu tidak peduli, asalkan ada yang masuk ke perut.


Pada akhirnya Anindi mengambilkan cemilan seperti kue nastar. Entah dari mana makanan ini berasal. Mungkinkah perempuan tadi yang membawakan? Ah, biarkan saja. Bukan urusan Anindi.


Perlahan Anindi membuka plastik cemilan itu, mengambil satu isinya dan mengarahkan pada mulut Rendra seraya berkata, "Buka mulutmu."


Rendra sempat tersenyum kecil, lalu membuka mulut. Untung saja Anindi berhati-hati sehingga tak ada interaksi fisik sedikit pun.


Kue itu cukup enak, Rendra ketagihan. Enam kali meminta, kenyang. "Aku rasa sudah cukup." Rendra mengisyaratkan dengan tangan kanan untuk meminta minum.


Anindi mengambilkan, mengikuti keinginan lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu sengaja datang ke rumah sakit?" Rendra penasaran dengan itu. Namun, hati kecilnya berkata lain, pasti ada alasan atas keberadaan perempuan tersebut di sini.


Inilah waktu yang tepat untuk bercerita, mengingat Anindi juga berniat menemui Rendra. "Tidak. Aku memang ada di sini." Dengan cepat menjawab.


Rendra cukup terkejut. "Apa kamu sakit?" Sorot mata pria itu memancarkan kekhawatiran luar biasa, aneh juga. Rendra memperhatikan keadaan Anindi, tidak ada yang janggal. "Sakit apa?"


Anindi terheran.


Rendra terus saja bertanya tentang kesehatan Anindi, padahal lelaki itu melihat sendiri bagaimana Anindi sekarang.


"Aku baik, tapi memang sedang ada keperluan di sini," jawab Anindi.


Kening Rendra berkerut kencang. "Keperluan?" Bertanya balik.


Anindi diam sejenak, menimbang lebih dahulu hal yang akan diucapkannya ini. Meyakinkan diri dan hati-hati. "Ibu masuk rumah sakit lagi."


Kedua bola mata Rendra membulat sempurna, pria itu seolah akan loncat dari kasur. "Ibu, kenapa?" Ingin segera mendengar jawaban Anindi.


Rendra mendadak turun dari ranjang, berdiri tegak dan berkata, "Ayo, temui ibumu."


Anindi tersentak. "Kalau keadaanmu seperti ini, tidak bisa."


"Kenapa?" Rendra merasa tak ada yang salah. "Ibumu yang memintaku datang. Pastinya penting sekali."


Anindi rasa itu lebih baik ditunda daripada menimbulkan masalah baru. Mengingat keadaan Rendra yang sedang tidak baik-baik juga justru akan menjadi penambah beban pikiran Bu Lia.


"Beritahu aku di ruangan mana ibumu dirawat," kata Rendra lagi.

__ADS_1


Anindi masih diam. Berdiri saling berhadapan dengan Rendra bukanlah sesuatu yang dibayangkan, bahkan sangat dihindari Anindi. Akan tetapi, sekarang justru terjadi.


"Anindi, apa kamu mau diam saja ketika, sedangkan ibumu di sana menunggu?" Suara Rendra berubah serius. Ia tak begitu mengenal Anindi, apalagi Bu Lia. Kedua perempuan berbeda usia itu hanyalah orang yang tak sengaja dikenalnya karena satu keadaan. "Aku menunggu jawabanmu."


"Aku lelah." Anindi mengangkat kepala. Gadis itu pertama kalinya berani menatap Rendra dalam. "Aku capek dengan drama ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa pun."


Sorot mata Anindi yang hampir ingin menangis itu menyentuh hati Rendra. Mengiris perasaan lelaki itu seolah menariknya dalam keadaan bersalah.


Anindi sendiri berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata. Ia memang sedih, tetapi rasa sedih ini perlu ditutupi dengan indah. "Apa kamu bisa menjelaskannya ke ibu?"


Rendra bergeming.


"Aku tau jawabannya, jelas saja tidak bisa. Aku saja yang anaknya, susah. Apalagi kamu yang bukan siapa-siapa." Helaan napas gadis itu berat. Drama ini baginya seperti beban, berat sekali.


Rendra berjalan dua langkah ke depan, berhenti. Berdiri tidak jauh dari Anindi. Untuk pertama kalinya pria itu merasa tak berguna sebagai lelaki, entah mengapa. Padahal ia sendiri selalu menang dalam satu pergulatan. "Kamu mau menangis?"


Anindi tersentak.


"Air matamu itu mungkin bisa dikatakan berharga, tapi kalau dadamu merasa sesak. Kenapa tidak menangis? Tidak ada salahnya," tutur Rendra.


Suasana begitu hening. Selain kamar ini sangat privat, orang yang datang ke lantai ini pun kebanyakan adalah para suster dan dokter yang sudah ditugaskan. Itu pun tidak setiap waktu. Jelas saja keadaan akan lebih hening dibandingkan lantai yang lain. Kesehatan pasien pun bisa cepat kembali karena rasa tenang tanpa mendapatkan gangguan dari orang lain.


"Kenapa aku harus menangis? Apa kamu pikir aku selemah itu?" Anindi tidak suka menunjukkan kesedihan ataupun kelemahan pada orang lain, apalagi lawan jenis.


Rendra tersenyum tipis lebih dahulu. "Aku tidak mengatakan kalau kamu lemah." Di sini Rendra ingin menyentuh hati Anindi. Dari sorot mata perempuan itu saja, banyak tersimpan luka dan tangis. Entah apa penyebabnya. "Tapi, manusiawi rasanya kalau kita meluapkan perasaan dengan menangis. Bukankah setiap orang berhak untuk itu?"


Berdebat dengan Rendra untuk satu topik saja cukup menguras emosi dan tengah bagi Anindi. Perempuan itu berharap tidak bertemu pria seperti Rendra lagi.

__ADS_1


"Begini …." Rendra mencoba menenangkan pikiran Anindi agar bisa meraihnya dengan jalan baik. "Kalau kamu merasa dengan menangis di depan orang lain itu disebut lemah. Lantas, bagaimana kamu memberitahu orang lain tentang perasaanmu? Karena, ada sebagian orang yang sulit peka. Itulah gunanya menangis, kita bisa memperlihatkan pada orang yang dituju kalau saat ini jiwa kita sedang hancur."


Anindi bergeming. Kedua mata dari mereka tidak ada yang ingin mengalah, ego masing-masing keluar begitu saja. Setelah gagal dalam pernikahan pertama, Anindi sama sekali tidak mempercayai pria. Ia bahkan tidak ingin menangis di depan kaum Adam itu, bagaimanapun sakitnya. Pernah diposisi berharap pada lelaki, tetapi nyatanya justru menerima kekecewaan. Itulah pelajaran berharga di kehidupan Anindi.


__ADS_2