
Suasana berubah lebih hening dan menyeramkan untuk Rendra. Kenapa juga kakaknya harus datang sepagi ini? Merusak mood saja. Namun, lelaki itu tidak bisa mengusir juga, mengingat Adib adalah orang yang sangat berperan penting dalam hidupnya.
Rendra berusaha tenang, ia membuat kopi lebih dahulu. Begitu pun dengan Adib yang juga tenang menunggu. Setelah kopi diseduh, barulah Rendra kembali duduk di sopa kecil. Berhadapan dengan kakaknya sambil menyimpan cangkir kopi di meja. "Sebelum aku menjawab, apa Kakak bisa menjelaskan dari mana tau tentang Anindi?" Rendra bertanya balik, salah satu alisnya naik ke atas.
Adib diam sejenak. Melipat kedua tangan di dada dengan menyandarkan punggung di sandaran kursi. "Apa kamu tidak bisa menjawab lebih dulu pertanyaan Kakak?" Adib tidak kalah tanding.
Rendra tersenyum kecil, bersikap tenang. "Kakak seperti tidak tau aku saja." Senyum Rendra semakin mengembang, kemudian mengambil secangkir kopi dan menyeruputnya dengan tenang.
Adib kembali diam, memperhatikan ekspresi Rendra yang selalu saja sama ketika diajak berbicara serius. Namun, ia tak tahu bagaimana adiknya saat menghadapi seorang wanita. "Kami beberapa kali bertemu saat dia sedang kesulitan. Malam tadi, Kakak mengantarkannya juga ke toko kue."
__ADS_1
Kalimat itu sedikit melukai hati Rendra. Hanya saja lelaki tersebut bersikap lebih legowo karena Anindi bisa berinteraksi dengan siapa pun. Ini bisa dikatakan cemburukah? Sepertinya menjurus ke sana, padahal Rendra jelas tidak menaruh hati untuk Anindi.
"Kami pertama kali bertemu di toko buah, lalu dia mengantarkan bunga ke kantor Kakak. Beberapa kali pertemuan juga terjadi dan itu membuat kami bisa tau nama masing-masing." Adib dengan tenang menjelaskan semuanya. Mengenang momentum ketika bertemu pertama kali dengan Anindi. "Tapi, malam tadi Kakak baru tau kalau Anindi punya calon suami. Itu pun dari lelaki yang mengaku mantan suaminya. Dan, paling mengejutkan lelaki itu mengatakan kalau calon suaminya Anindi bernama Rendra."
Adib memberikan sedikit waktu dari satu kalimat ke kalimat lain agar bisa juga membuat dirinya lebih siap dalam menjelaskan kronologis kejadian.
"Awalnya Kakak sendiri tidak menyangka itu kamu karena seperti yang kita tau kalau nama itu bisa dipakai oleh siapa pun." Adib menjeda sebentar perkataannya, kemudian berujar lagi, "Tapi, atas dasar penasaran dalam akhirnya Kakak memberikan diri memperlihatkan fotomu, menanyakan apakah firasat itu benar."
"Lalu?" Barulah Rendra menyela.
__ADS_1
Pandangan Adib begitu lekat dan tajam pada Rendra. Dari yang ia amati, adiknya ini menimbun banyak rahasia. Entah apa itu, ia tidak bisa memaksa untuk tahu. "Ternyata memang kamu. Rendra yang mereka maksud itu adalah adikku sendiri." Dengan suara tegas begitu kalimat adikku diucapkan. Ada ketakutan akan suatu hal yang bisa saja terjadi. "Sekarang apa kamu bisa jelaskan apa hubunganmu dengan Anindi?" Adib sudah bersabar juga menjelaskan, tentunya harus mendapatkan imbalan setimpal. Bukankah manusia memang harusnya saling menguntungkan satu sama lain.
Sekarang Rendralah yang menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Ternyata serapat apa pun kita menyembunyikan bunga mawar, pastinya akan tercium karena harumnya tidak bisa dihilangkan.
Suasana semakin tegang. Adib yang penasaran bertarung dengan Rendra yang begitu slow menghadapi.
"Seandainya aku memang benar calon suami Anindi, apa yang akan Kakak lakukan?" Rendra mengangkat kedua sudut bibir dengan senang agar bisa membentuk senyuman. Benar-benar lelaki itu lihai dalam memancing perasaan lawan bicaranya.
"Jawablah jujur, aku bisa menebak itu bohong atau benar cuma dengan bahasa tubuh Kakak saja. Jadi, mohon jujur, ya, Kak," sambung Rendra yang seolah semakin menyudutkan Adib.
__ADS_1