Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Masjid


__ADS_3

Rendra terbangun ketika kumandangan azan Subuh terdengar. Lelaki muda itu merentangkan kedua tangan, merasakan badan remuk yang tak karuan.


"Badanku semuanya sakit." Rendra merasakan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Dengan duduk di atas kasur, melihat sekitar menggunakan mata yang masih setengah rapat. "Pengen rasanya tidur lagi, tapi udah udah waktunya bangun."


Rendra tidak bisa berbuat apa pun. Sebenarnya, jika memaksa mungkin bisa tidur lagi. Namun, lelaki itu ingat akan kewajiban terhadap Tuhan. Setelah dirasa cukup tenang, Rendra segera turun dari kasur. Bergerak ke arah kamar mandi, bersiap pergi ke masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah kedua orang tuanya.


Suasana rumah memang sangat sepi, penghuninya terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Rendra siap, keluar kamar bersamaan dengan Adib yang juga baru keluar.


"Kakak, belum berangkat?" tanya Rendra sambil membenarkan sarung berwarna coklat muda.


Adib sudah sangat wangi. Tampaknya pria itu mandi dulu sebelum ke masjid. "Kakak, terlalu lama bersiap-siap." Adib melangkah lebih dahulu. Kamar mereka memang saling berdampingan di lantai atas. Keduanya turun saling beruntun.


Rendra memperhatikan punggung Adib. Tidak biasanya lelaki bergelar Kakak itu bisa selambat ini pergi ke masjid. "Kakak, begadang semalam?" Rendra belum saja percaya Adib bisa lambat pergi ke masjid. Sebab, di antara para lelaki di sini, Adib adalah orang yang selalu paling cepat pergi ke tempat ibadah tersebut.


Adib bergerak menuruni tangga sambil menggelengkan kepala. "Tidak."


"Tumben sekali bisa terlambat ke masjid. Biasanya Kakak paling cepat," kata Rendra.


Mereka sampai di lantai bawah. Melihat jelas sang ayah sudah berjalan ke arah ruangan tamu.


"Kakak juga manusia. Memang kamu pikir Kakak tidak boleh terlambat? Adib berusaha menyusul ayahnya agar bisa bersamaan sampai ke masjid.

__ADS_1


Rendra yang melihat itu pun mengikuti jejak Adib dengan setengah berjalan cepat. "Aku sampai lupa kalau Kakak manusia."


Adib seketika memelankan langkah kakinya, menoleh ke belakang sebentar, lalu meneruskan perjalanan. Sang ayah sudah lebih dahulu keluar rumah. "Astagfirullah, Dek." Menggelengkan kepala dua kali. Terkadang Adib sedikit kurang memahami pemikiran Rendra. Namun, pria itu juga harus bisa memaklumi. "Sudah jangan banyak bicara. Kita bisa ketinggalan salat berjamaah."


Adib dan Rendra sudah keluar rumah. Di komplek perumahan ini terdapat masjid besar yang keberadaannya hanya terhalang dua rumah saja dari rumah mereka. Sebab itu, Adib dan Rendra terbiasa melaksanakan salat di masjid.


Singkat cerita, mereka sampai di masjid. Melaksanakan salat seperti biasa dengan warga komplek lainnya. Menikmati udara subuh yang belum tercampur dengan polusi udara. Rasanya menenangkan. Bahkan ketika mereka selesai salat dan keluar dari tempat ibadah tersebut langsung disambut rasa dingin, tetapi menyegarkan.


Pak Akmal yang lebih memilih berbincang-bincang lebih dahulu dengan warga sekitar pun membiarkan kedua anak lelakinya pulang lebih dahulu. Adib dan Rendra terlibat lagi percakapan lumayan serius. Tentunya tentang pekerjaan yang seharusnya sudah disetor oleh Rendra pada pihak Adib.


Keduanya berjalan menyusuri jalanan komplek. Beberapa rumah megah itu masih tertutup, belum terlihat tanda-tanda kehidupan dengan melihat jendela tertutup. Barangkali pemiliknya masih senang tidur di bawah selimut.


Rendra menghela napas kasar. Menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku belum menyelesaikannya, Kak."


"Seharusnya kamu sudah paham kalau pekerjaan itu punya deadline yang harus dipenuhi!" Adib menegaskan. Kriteria lelaki berusia tiga puluh tahun itu memang sangat serius. Mungkin karena Adib adalah anak pertama yang dilatih lebih keras dibandingkan Rendra oleh ayahnya. Namun, kekerasan itu justru membentuk Adib menjadi sosok yang sulit sekali diajak bercanda. Selalu serius.


Dua sudut bibir Rendra terangkat ke atas membentuk senyuman kecil. "Kak, pernah tidak terlintas dalam hidup Kakak untuk bisa sedikit santai?" Bukannya menjawab, Rendra justru mengajukan pertanyaan balik yang berhasil membuat Adib menoleh ke arahnya. "Setidaknya sekali saja. Tidak rugi, kok."


Adib segera memalingkan wajah ke depan lagi. Jangan sampai tersandung hanya karena fokus pada Rendra. "Memang kamu pikir Kakak ini tidak santai?"


Rendra langsung mengangguk cepat. "Bukan cuma aku, tapi sepertinya semua orang yang kenal Kakak pun berpendapat sama denganku." Rendra masih ingat beberapa teman kuliahnya menamai Adib dengan robot yang seperti di setting oleh sang pemilik.

__ADS_1


Adib sendiri tidak merasa demikian. Selain karena sudah bersikap senormal mungkin layaknya manusia biasa, pria itu pun tidak merasakan keanehan dengan sikapnya. Mungkin orang yang belum terbiasa akan menganggap dirinya terlalu serius. Jelas ini berbanding terbalik dengan orang tuanya yang sudah mengenalinya dari lahir.


Mereka hampir sampai di gerbang rumah. Rendra sengaja berhenti, sehingga Adib pun melakukan hal yang sama. "Kalau Kakak terlalu serius, akan sangat sulit mendapatkan pendamping hidup. Jangankan perempuan, lelaki pun segan sama Kakak."


Adib terdiam. Pria dengan pemikiran cukup dewasa sejak dari sekolah menengah pertama itu pun tidak langsung menyela. Barangkali ada makna yang ditemukan di balik kalimat sang adik.


Rendra menoleh ke samping kanan, menatap Adib di sela-sela rasa dingin lagi hari. "Ayah dan Ibu mengharapkan dari kita bisa segera menikah. Kalau dipikir lagi, itu memang tidak salah. Tapi, di antara kita tentunya belum ada tanda-tanda ke arah sana. Lihat Kakak sekarang, usia sematang ini pun belum pernah mengenalkan pacar."


"Kakak tidak butuh pacar!" Adib langsung protes. Baginya, proses pacaran bukanlah sesuatu yang penting. Jika pun ada wanita yang bisa menarik hati, memilih langsung menikah adalah hal paling baik. Tentu setelah mengetahui dengan baik perihal calon istrinya tersebut melalui tahap-tahap yang terbuka. "Pacaran itu bukan sesuatu yang perlu untuk Kakak."


Kening Rendra berkerut kencang. "Alasannya?"


Adib diam sebentar.


"Sesuatu yang tidak penting, itu terdengar menarik juga. Lalu, hal apa yang menurut Kakak penting?" Sudut bibir kanan Rendra terangkat ke atas. Sebuah reaksi yang selalu dilakukan pria itu ketika rasa ingin tahunya muncul.


Adib menarik napas dalam-dalam. Akhir-akhir ini perbincangan mereka cukup serius. Entah itu perihal pernikahan ataupun mengenai pendapat atas satu topik. Sebenarnya Adib tidak masalah dengan itu, mengingat Rendra adalah adik kandung yang seharusnya menjadi tempat berdiskusi. Baik itu tentang masalah pribadi, keluarga ataupun pekerjaan.


Rendra menggerakan badannya agar bisa berhadapan dengan Adib. Tatapan Rendra begitu lekat dan tajam layaknya singa yang siap menerkam mangsa. "Biasanya Kakak selalu punya alasan atas apa yang Kakak katakan. Lalu, kenapa rasanya yang sekarang seperti susah menjawab?"


CCTV bagian luar pagar mungkin merekam kedua adik kakak itu yang sedang terlibat percakapan. Suasana pun terasa berubah tegang, tetapi bagi berlaku untuk mereka saja.

__ADS_1


__ADS_2