
Motor Anindi bisa tertangani dengan baik. Gadis itu berterima kasih beberapa kali pada pria baik tersebut. Mengatakan akan membalas perbuatan baik tersebut jika suatu waktu dibutuhkan dan bisa bertemu lagi. Namun, jawaban si pria cukup mencengangkan.
"Berbuatlah baik selama kamu masih hidup, karena perbuatan baik itu yang akan mengantarkan kamu ke kebahagiaan." Sebuah pesan sebelum si pria pergi dari hadapan Anindi.
Anindi sendiri tidak ingin berlama-lama di sana, langsung tancap gas ke arah depan menuju rumah sakit. Pasti ibunya sudah menunggu.
Sesampainya di parkiran rumah sakit yang hanya memakan waktu lima menit dari sana, Anindi pun bergegas menelusuri jalan dan masuk ke gedung tinggi itu. Beberapa suster yang sudah kenal menyapa Anindi. Mereka tampak senang karena Anindi cukup sopan.
Gadis itu terus bergerak menuju lift, naik ke lantai atas dengan beberapa orang. Hanya hitungan detik, lift akhirnya mengantarkan Anindi ke lantai yang dituju. Gadis itu berjalan dengan menenteng plastik berisi buah-buahan. Begitu sampai di depan kamar sang Ibu, langsung masuk dengan berkata, "Assalamualaikum." Anindi disambut baik oleh pandangan kedua pasang mata wanita paruh baya.
"Wa'alaikum salam." Jawab keduanya. Satu, pelan. Satunya lagi, biasa saja. Anindi masuk. Tak lupa menutup pintu lagi. "Ibu, sudah bangun?" Terus berjalan dengan membawa buah tangan. Berdiri di samping sang Ibu. "Aku bawa buah mangga kesukaan Ibu." Tersenyum seraya mengangkat plastik berwarna hitam itu.
Bu Mila cukup diam, sedangkan Bu Lia merespon dengan senyuman kecil. "Terima kasih, Nak."
Anindi langsung menyimpan buah di meja. Mengambil pisau yang ada dan berniat mengupas mangga. Akan tetapi, ekor mata kanannya mendapati sebuah buket bunga yang tidak asing. Gadis itu tertegun. Mungkinkah?
Bu Mila masih saja diam seperti seseorang yang sedang berpikir lebih dalam, kemudian Bu Lia menjelaskan dengan detail jika bunga itu adalah pemberian dari menantunya yang tak lain adalah Rendra.
"Suamimu bilang kalau kamu masih sibuk, jadi belum bisa ke rumah sakit." Bu Lia menjelaskan semakin detail.
Anindi tertegun. Mengangkat kepala dan bertemu pandangan dengan Bu Mila. Dari tatapan tetangga rasa saudara itu, bisa menjelaskan bahwa banyak pertanyaan yang sangat ingin keluar. Hanya saja, belum bisa tersampaikan.
Bu Lia sudah tak lagi memakai alat bantu pernapasan. Bahkan, wanita yang masih terlihat cantik itu sudah bisa bangun dengan posisi punggung bersandar ke ranjang yang ditinggikan. "Nak, Ibu tidak sabar untuk pulang. Biar kita bisa berkumpul lagi seperti biasanya. Suamimu juga pasti mengharapkan yang sama."
Tangan Anindi mendadak bergetar, tetapi tetap berusaha untuk tenang. Tak ada jawaban yang bagus untuk itu. Sebab, Anindi tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa.
__ADS_1
"Lia, sebaiknya kamu makan buah mangga dulu. Pasti rasanya segar sekali." Bu Mila memotong pembicaraan. Hal ini terjadi karena melihat keterkejutan Anindi. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Anindi tersadar. Tangannya segera mengupas kulit mangga. "Benar Ibu. Nanti kita bicara lagi soal ini, ya." Anindi bersyukur bisa keluar dari zona menegangkan. Ia hampir gila dibuatnya.
"Baiklah." Bu Lia menurut.
Anindi mengupas sampai selesai. Memotong sesuai ukuran yang diinginkan juga menyuapi ibunya. Kebahagian yang sama sekali tidak ternilai dengan uang.
Satu buah mangga habis. Anindi pamit keluar, di dalam terlalu sesak. Terlebih melihat buket bunga tadi, benar-benar menyesakkan.
Ternyata Bu Mila menyusul. Niatnya ingin berbicara empat mata dengan Anindi. Tentu membahas tentang drama yang sedang terjadi. Mereka menjadi aktor penting di sana, terutama bagi Anindi yang memang peran utama.
"Nak." Bu Mila mengagetkan Anindi. Duduk di kursi sebelah gadis itu. "Kamu harus jaga kesehatan. Wajahmu lumayan pucat."
Anindi menoleh sebentar, lalu meluruskan pandangan lagi ke depan. "Iya, Tante." Jawabannya cukup singkat.
Bu Mila menatap putihnya dinding rumah sakit. Tidak ada noda sedikit pun dan rasanya sangat terawat. Bersih dan nyaman, itu yang bisa digambarkan. "Nak, kamu mau jelaskan sesuatu soal pemuda yang tadi datang dan mengaku suamimu. Ibumu juga menganggap begitu." Bu Mila menarik napas lebih dulu. Tadi hampir saja membongkar tentang Anindi, tetapi langsung ingat pesan Dokter. "Mereka berbicara seolah memang menantu dan mertua. Dan, tatapan pemuda itu juga tulus."
Anindi diam sejenak. Entah harus bagian mana dirinya menjelaskan. Sebab, semuanya terasa rumit juga.
"Tante, tau kalau kamu pasti melakukan hal yang terbaik. Jadi, Tante menunggu jawaban kamu sebelum bertindak jauh," sambung Bu Mila.
Keadaan lorong rumah sakit begitu hening dan damai. Anindi merasakan keheningan yang tercipta sampai terasa ke jiwa. Kesepian itu sering terasa, tetapi kerumitan sekarang justru begitu besar dan sulit dihindari. "Tan, aku tidak tau harus menjelaskan dari arah mana dulu. Yang pasti, pas Ibu pertama siuman justru ingatan tentang aku yang masih bersuamilah yang muncul. Pas sekali dengan kedatangan lelaki itu yang katanya salah kamar."
Bu Mila menanggapi dengan tenang. "Jadi, ibumu sendiri yang menganggap dia suamimu?" Bertanya agar semakin jelas.
__ADS_1
Anindi mengangguk cepat. "Iya, Tante. Aku mau jelaskan, tapi ingat pesan Dokter. Tapi, aku juga nggak membenarkan hal itu. Entah kenapa lelaki itu juga malah ikut drama ini. Sedikit pusing juga, Tan." Anindi menyandarkan punggung ke tembok. Memejamkan mata. Rupanya ada yang lebih rumit dibandingkan mencari uang untuk biaya rumah sakit. Ini susah dicari rumus pemecahannya.
Bu Mila menoleh ke samping, meraih tangan kanan Anindi seakan ingin memberikan rasa tenang. "Nak, Tante tau apa yang ada di pikiranmu sekarang. Tante, paham apa yang kamu perbuat ini semata-mata untuk ibumu. Yang kuat, ya. Pelan-pelan kamu jelaskan semuanya ke Ibu, mungkin nanti ibumu bisa paham."
Anindi masih memejamkan mata. Ingin rasanya menjerit. Bertahan di antara kejamnya dunia memang sulit. Bahkan, terasa sangat tidak mungkin. Namun, ia memiliki Sang Pencipta yang pasti sudah merencanakan semuanya dengan baik. "In Syaa Allah, Tante."
Bu Mila terus menenangkan Anindi. Semoga saja semua masalah segera teratasi dengan baik.
***
Rendra masuk ke ruangan yang berada di sebelahnya ketika sang Kakak sudah datang.
"Kamu dari mana saja?" Kakaknya langsung memberikan pertanyaan.
Rendra acuh, duduk di sopa dan berkata, "Aku habis main drama." Mengangkat salah satu sudut bibir yang akhirnya membentuk senyuman kecil.
"Drama?" Seorang Lelaki paruh baya yang masih dipasangi infus itu ikut bertanya. Setahunya, sang Anak ini bukanlah seorang Aktor. "Drama apa, Rendra?" Suaranya masih terdengar tegas.
Ada empat orang di sana, termasuk Rendra.
"Aku capek, Ayah." Rendra merebahkan badan di sopa. Lelaki yang berusia dua puluh lima tahun itu memilih memejamkan mata. "Kak, aku belum bisa selesaikan cerita yang baru. Otakku buntu." Saat ini, yang ada di pikiran Rendra terlalu bercabang, sehingga menyebabkan sulit berkonsentrasi.
"Kamu harus bertanggung jawab!" tegas kakaknya.
"Ya, ya, Bawel!" Rendra kesal. Lebih baik tidur saja agar inspirasi bisa datang begitu cepat.
__ADS_1