Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Pertengkaran


__ADS_3

Arga keluar dari mobil, melihat keadaan motor yang ada di belakangnya. Lelaki itu hanya berdiri tanpa membantu sama sekali, sedangkan pria muda di depannya sekarang merasakan kesakitan di bagian lutut. "Sepertinya Anda tidak terluka." Hanya itu komentar Arga.


Anindi berdiri di depan toko dengan mata tak percaya. Entah apa yang terjadi selanjutnya.


Pria muda itu melirik Anindi sekejap, lalu menangkap basah kedua mata Arga. "Anda bisa menyetir atau tidak?" Pertanyaan pun terlontar balik. 


Arga merasa tersindir. "Saya ahli menyetir."


"Oh, ya?" Sudut bibir kanan pria itu terangkat, membentuk senyuman seolah meremehkan. "Perkataan Anda tidak sama dengan apa yang terjadi. Buktinya, Anda tidak bisa melihat dengan cermat kalau ada kendaraan lain di belakang."

__ADS_1


"Kecelakaan itu namanya." Arga tetap pada pendirian.


"Kecelakaan, kalau memang Anda tidak sempat lihat dulu ke belakang. Jelas-jelas kedua mata Anda itu melihat sebentar." Pria itu tidak ingin kalah. Jelas saja, ia sudah tahu situasinya.


Keadaan memanas. Anindi bimbang karena kejadiannya tetap di depan toko. Beberapa pemilik toko lainnya memperhatikan kedua lelaki yang sedang beradu argumen tersebut. 


Arga melirik motor milik pria muda itu. Tak ada lecet apa pun, seharusnya ini tidak dijadikan masalah. "Kendaraan Anda tidak ada lecet. Jadi, tidak perlu membesarkan masalah ini." Arga berbalik badan hendak masuk ke mobil lagi. Namun, dengan cepat pria muda di dekatnya menarik leher baju belakang Arga.


Arga melepaskan tangan pria itu dengan kasar seraya berkata, "Anda mau ganti rugi, Ok!" Arga mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Berikan nomor rekening Anda, saya transfer sekarang juga."

__ADS_1


Pria muda itu semakin dipacu kekesalan. Menyeringai layaknya seorang pembunuh yang berhasil mendapatkan sasarannya. "Apa di dunia ini semua bisa diselesaikan dengan uang?" Menatap tajam Arga. Memperhatikan penampilan lelaki yang baru saja keluar dari toko bunga tersebut "Ok, Anda mungkin orang yang punya. Mobil bagus, tapi sayang etika Anda nol besar!" 


Arga terpancing emosi. Dengan cepat mencengkram leher kaos bagian depan pria muda itu. Untung saja bunga buatan Anindi sudah aman di mobil. "Jaga bicara Anda!" Mata Arga penuh kemenangan.


Anindi panik, dengan cepat menghampiri keduanya dan berkata, "Tolong, jangan bertengkar di depan toko saya!" Ikut kesal dengan sikap kedua lelaki itu sejak tadi, walaupun sedikit takut juga. "Selesaikan masalah dengan kepala dingin."


Pria muda itu melirik Anindi, tersenyum miring. Kemudian, kembali menoleh ke arah Arga. "Anda dengan sendiri apa kata istri saya bukan?"


Sontak kedua mata Anindi membesar, telinganya panas. Begitu pun dengan Arga yang tampak terkejut. Bukan hanya sampai sana saja, beberapa pemilik toko yang lain pun ikut bereaksi yang sama. Tidak menyangka jika Anindi sudah bersuami. Mungkin karena paras wanita itu yang tampak masih seperti gadis, usianya juga sangat muda. 

__ADS_1


Pria muda itu melepaskan cengkraman Arga. Bertengkar dengan orang ini tidak akan berubah indah. "Saya bukan orang miskin yang perlu dikasih uang. Jadi, uang Anda itu tidak penting!" Kembali lagi Pria muda yang belum diketahui namanya itu pun tersenyum tipis, lalu bergerak melewati Anindi dan masuk ke toko gadis itu. Memang kedatangannya untuk memesan bunga, bukan mencari masalah.


__ADS_2