
Dua hari berlalu, Adib menunggu kedatangan adiknya yang menjanjikan penyelesaian naskah. Namun, sampai siang pun tiba, Rendra sama sekali tidak ada. Adib sudah biasa, lelaki itu bahkan tak banyak bertanya lagi. "Aku harus datang ke apartemennya. Kalau tidak, ia pasti akan lupa terus soal deadline."
Siang ini Adib punya janji dengan seorang penulis terkenal di sebuah mall. Ia memilih penulis ini karena memang memiliki banyak karya yang cukup luar biasa. Wanita muda bertalenta dari karya tulisan, tetapi sedikit mengejutkan jika tahu kehidupan pribadinya. Akan tetapi, bagi Adib itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Seperti yang sudah direncanakan, Adib pergi menemui penulis itu. Tempat janjian mereka memang di dekat deretan ruko. Di mana ada sebuah mall besar di sana yang populer juga. Tentu semua penghuni kota ini sudah mengetahuinya.
Adib menggunakan mobil hitam menuju ke sana. Lelaki itu merasa tidak enak hati jika datang dengan cuma-cuma, mengingat orang yang akan ditemuinya bukanlah orang asing. Sering berinteraksi karena masih teman adiknya. "Aku harus beli sesuatu, tapi tidak tau dia suka apa." Adib bimbang sendiri.
Selama berkendara, Adib memikirkan buah tangan yang perlu dibawa. Sampai pada akhirnya lelaki itu menemukan sebuah ide paling baik, biasanya perempuan suka dengan ini. "Niatku cuma ingin menghargai dia sebagai penulis, tidak ada maksud lain."
Pada akhirnya Adib memutuskan untuk membawa buket bunga sebagai tanda terima kasih atas waktu yang diberikan si penulis itu untuk menemuinya. Mengingat penulis ini sangat diincar oleh beberapa penerbit besar, termasuk penerbitan milik Adib.
Lelaki berjas hitam itu memperhatikan sekitar, mencari toko bunga yang buka. Ekor mata kanannya menemukan satu, cukup bagus. Dengan cepat Adib menepikan kendaraan ke arah deretan toko sebelum mall, hendak membeli buket bunga biasa saja, asalkan terlihat sopan dan menarik.
Mobil hitam Adib berhenti di depan toko bunga yang berdampingan dengan toko apotek. Ia keluar, melihat sekitar. Kemudian, berjalan ke depan. Mendorong pintu kaca toko bunga sambil berkata, "Assalamualaikum." Lelaki itu masuk dua langkah. Tak ada yang menjawab. Namun, mata Adib disuguhkan oleh keindahan bunga yang terawat baik. "Masya Allah, indah sekali." Padahal Adib ini lelaki, tetapi begitu terpikat dengan keindahan yang ada di depan. Lelaki itu pun berjalan ke arah kanan tanpa menunggu pemiliknya menjawab salam. Sepertinya toko ini kosong, maksudnya tidak ada orang lain di sini.
Adib tertarik melihat anggrek putih, cantik sekali. Bahkan di antara bunga yang lain, Anggrek ini paling menarik dan cantik. "Anggreknya manis dan cantik." Tangan kanan Adib menyentuh salah satu daun bunga Anggrek, lembut dan tercium harum sekali. "Indah." Berbagai pujian keluar dari mulut lelaki tersebut.
Dari arah belakang suara seseorang menyapa telinga Adib, berhasil membuat lelaki itu membalikkan badan dengan cepat. Terkejut. "Wa'alaikum salam. Maaf, Mas, saya tadi sedang di belakang. Mau cari bunga apa, Mas?" tanyanya pada Adib.
__ADS_1
Begitu kedua mata Adib dan sosok itu bertemu, keduanya saling terkejut satu sama lain. Tidak menyangka akan seperti ini. "Kamu!" Menunjuk ke arah sosok yang ternyata adalah Anindi.
Anindi tertegun, sungguh tidak menyangka.
"Kamu pemilik toko bunga ini?" Adib bertanya untuk memastikan. Jangan sampai salah paham.
Anindi memang terkejut. Namun, perempuan itu berusaha segera sadar karena tidak baik juga mengacuhkan pelanggan. "Ya, aku pemiliknya. Kamu butuh bunga apa?" Anindi melangkah ke depan, mendekati Adib.
Adib diam, memalingkan pandangan ke sembarang arah. Kemudian berkata, "Aku butuh bunga untuk seorang wanita, tapi yang biasa saja. Boleh sarankan bunga apa?"
Anindi berhenti tepat di samping kanan Adib. Mengerti dengan permintaan lelaki itu. "Untuk pasangankah?" Bertanya agar bisa menentukan rekomendasi bunga yang tepat.
Anindi terdiam, berpikir keras. "Keluarga atau orang tua?" Barangkali yang ini benar.
Adib menggelengkan kepala lagi, berhasil membuat Anindi kebingungan.
"Lalu, untuk siapa?" tanya Anindi.
"Rekan kerja, tapi bisa dikatakan kenal cukup lama," jawab Adib.
__ADS_1
"Ah, aku paham." Anindi sudah bisa menentukan bunga yang mana. Ia bergerak ke arah anggrek putih dan berkata, "Biasanya anggrek ini juga bagus, tapi kalau kamu ingin dijadikan buket. Ini sedikit sulit, bagaimana kalau tulip atau mawar saja?"
Adib memikirkan saran Anindi. Jika mawar, rasanya seperti akan memberikannya pada orang terkasih. Bukan pasangan saja, tetapi juga bisa pada keluarga ataupun orang tua, atau bahkan saudara. Namun, orang yang akan ditemuinya ini tidak memiliki hubungan kekerabatan, hanya sekadar kenal karena adanya hubungan teman adiknya saja. "Saya rasa kalau mawar, itu terlalu melambangkan pada cinta." Adib berpendapat. "Tapi, kalau pun anggrek, itu pun terlalu sakral dan manis. Sebaiknya tulip saja." Pada akhirnya keputusan pun jatuh pada bunga tulip.
"Baik. Buketnya besar atau kecil?" Anindi siap membuat sesuai keinginan.
"Kecil saja, saya hanya menghormati dia sebagai penulis wanita," jawab Adib.
Anindi tertegun. Penulis, ia mendadak ingat pada sosok Rendra. Lelaki itu pernah ada di gedung yang diyakini adalah milik dari Adib, apakah Rendra juga penulis atau mungkin bekerja pada Adib? Ah, jangan terlalu penasaran. Itu bukan ranah Anindi juga.
"Saya menghormati semua wanita, sebenarnya. Tidak hanya orang yang berinteraksi dengan saya saja." Entah mengapa Adib ingin menjelaskan perihal ini pada Anindi, padahal Anindi pun bukan orang yang seharusnya mendapatkan penjelasan. Mereka tidak memiliki ikatan.
"Memang seharusnya begitu. Baik laki-laki ataupun perempuan, harus sama-sama menghormati. Karena, sejatinya kita manusia yang sama diciptakan Allah," ujar Anindi sambil mengambil bunga tulip yang ada di pojok kanan. Menjauh dari Adib.
Adib memperhatikan punggung Anindi, perempuan itu punya daya tarik sendiri untuk seorang perempuan. Bahkan, wanita itu bisa menjaga diri dengan baik ketika berbicara dengan lawan jenis. "Oh, ya, beberapa hari lalu, saya melihat kamu keluar dari gedung perusahaan saya lagi. Apa kamu mengirimkan bunga ke sana?"
Anindi terdiam. Tangan kanannya berhenti mengambil bunga tulip, dadanya berdegup kencang. Takut Adib juga menyaksikan perdebatannya dengan Arga atau lebih parahnya mendengar kalimat Rendra yang mengakuinya sebagai seorang calon istri. Ini bisa berbahaya, akan banyak korban salah paham lagi. Padahal ia sudah sangat malu dengan kelakuan Rendra tersebut, tetapi apa daya. Pria itu tidak bisa dihentikan begitu saja.
"Saya tidak tau apa yang terjadi sebelumnya, tapi saya melihat wajahmu ditekuk seperti sedang memikirkan masalah besar," lanjut Adib yang mulai merasa tidak terlalu canggung pada Anindi, padahal mereka hanya bertemu sepintas-pintas saja.
__ADS_1
"Benar. Aku memang datang untuk mengirimkan bunga ke sana." Anindi membenarkan pertanyaan Rendra. Perempuan itu diam sejenak, lalu berkata lagi, "Selain itu, apa kamu mendengar sesuatu?" Anindi memberanikan diri bertanya agar hatinya tenang juga.