
Di angkat menjadi putra kerajaan ( pengeran)
...Jangan lupa ,like, komen, dan klik vavorit , karena semua itu gratis ya. Kecuali vote itu yang bayar dan ada juga yang gratis....
...Selamat membaca semua...
✒️✒️✒️
Aku, Rendi dan Goro terus berjalan dengan di dampingi oleh para pengawal yang berwajah sedikit sangar dan seram. Ia sekali - sekali membentak Rendi karena berjalan terlalu lambat.
Untung saja aku dapat membuat Rendi sabar, kalau tidak habis lah semua pengawal ini. " Imbalannya apa ya? " pikir Goro.
" Kita lihat saja nanti " jawab ku singkat.
Kami langsung berlutut saat melihat yang mulia Raja begitu juga dengan yang mulia Ratu. " Salam hormat yag mulia " ujar kami serentak yang membuat ruangan ini bergema sedikit keras.
" Para pengawal silahkan kembali ke markas !" ujar yang mulia Raja yang langsung di patuhi.
" Kalian maju lah kesini? " titahnya yang membuat kami bertiga pun berjalan meju ke hadapan nya. " Perkenal kan nama kalian kepada seluruh anggota kerajaan? " titahnya lagi dengan nada suara yang begitu wibawa.
" Perkenal nama saya Basir " ucapku singkat karena aku begitu malas untuk memperkenalkan jati diriku yang sebenarnya. " Perkenal kan nama saya Rendi " , " Perkenal nama saya Goro " .
" Penasehat kerajaan, apakah nama mereka sudah di tulis? " tanya sang Raja kepada kakek tua yang sudah tak lama lagi hidup itu. " Sudah yang mulia. Sekarang kita langsung memulai pengankatan putra kerajaan " ujar sang penasehat.
" Dayang bawakan mahkota? " titah sang Raja kepada para dayang. Tiga dayang pun langsung masuk dengan membawa bantal yang di atasnya ada mahkota yang begitu indah. Mahkota itu berwarna emas dengan sebuah batu yang ada di tengahnya.
" Majulah ketiga anakku " ucapnya sambil mengambil salah satu mahkota dengan sebuah batu yang berwarna hitam di tengah nya. Aku pun langsung maju dan menghadap yang mulia Raja.
Begitu pula dengan Rendi dan Goro. " Wahai anak ku, sekarang kalain sudah sah menjadi keluarga kerajaan, jadi tinggalah di kerajaan ini selamanya " .
" Sekarang kalian boleh memanggilku ayahanda dan istriku dengan sebutab ibunda seperti anak lain " ucap sang Raja, eh maksudnya ayahanda dengan senyuman terukir indah di wajahnya.
" Baiklah ayahanda dan ibunda " ucapku kami bertiga dengan sedikit membungkuk kan badan. " Dayang, antarkan mereka di kamar yang sudah di persiapkan !" titahnya yang membuat Para dayang membungkuk lalu mengajak kami untuk menuju kamar.
" Ini kamar milik pangeran Rendi " ucapnya . " Apkah kami akan tidur terpisah? " tanya ku yang langsung di balas anggukan oleh para dayang.
__ADS_1
" Saya mohon kepada salah satu dayang untuk menemui ayahanda lalu bilang, kami tidak mau tidur terpisah, kalau boleh di gabung kan saja " ucapku membuat salah satu dayang membungkuk lalu pergi meninggal kan kami.
Tak selang lama datanglah seorang dayang dengan sedikit berlari. " Bagaimana jawaban ayahanda, apakah di perbolehkan? " tanya ky kepadnya yang langsung di jawab anggukan.
" Ayo pangeran lewat sini " ucapnya sambik berjalan yang paling depan. Tak selang lama kami sampai di sebuah kamar yang begitu luas dengan tata letak semua barang yang begitu baik dan rapi. Kamar ini juga di hiasi dengan ukiran yang begitu indah.
" Terima kasih banyak atas kebaikan kalian. Kalian boleh kembali ketempat kalian " ujarku sambil masuk kedalam kamar yang langsung yang tampak hampa.
" Kamar ini begitu luas tapi sayang nya begitu hampa " ujarku yang langsung di balas anggukan oleh kedua adikku sambil melihat keliling ruangan.
" Ruangan yang begitu membosankan " ujar Rendi sambil merebahkan tubuhnya di kasur yang begitu besar.
"Tok.. tok.. tok.. " suara pintu kamar ku di ketuk dengan sedikit keras. " Masuk " ucapku.
Wanita cantik masuk di dalam kamar ku. " Perkenalkan nama ku putri Elsa, aku anak ke-empat yang mulia anggara " ucapnya memperkenalkan diru dengan mengangkat sedikit bajunya yang bersatu dengan bawahan nya ( Rok maksudnya).
" Salam kenal tuan putri, perkenal kembali nama ku Basir, dan itu kedua adikku Goro dan Rendi " ucapku sambil sedikit membungkuk.
" Salam kenal kembali " ucapnya lagi. " Apa yang kamu buat itu ?" tanya putri Elsa kepada Rendi yang asik sibuk membuat bunga api.
" Aku sedang membuat bunga mawar dari api " ujar Rendi yang masih fokus terhadap bunga mawar apu yang ia buat. Bunga yang ia buat memiliki pola yang begitu rumit, setiap batang memiliki duri yang mengandung racun mematikan yang langsung menyerang bagian racun.
" Baiklah, aku akan menunggu nya besok. Aku izin pamit dulu " ujarnya sambil berjalan keluar kamarku.
Tak selang berapa lama pintu ku di ketuk lagi. " Masuk " ucapku . Kali ini bukan putri melaikan ayahanda dan ibunda yang sedang bergandengan.
" Salam hormat ayahanda dan ibunda " ucap kami serentak dengan sedikit membungkuk kan badan.
" Ayahanda, ibunda silahkan duduk dulu " ujarku sambil menyerah dua kursi yang terbuat dari kayu. " Terima kasih " ucap keduanya dengan senyuman di ujung bibirnya.
Aku pun juga langsung ikut di kursi yang kosong. " Bagaimana kamar ini, apakah bagus ? " tanya ayahanda kepada ku.
" Bagus sih ayahanda, tapi kamar ini sedikit hampa " ucapku membuat ayahanda melihat sekeliling ruangan kamarku. " Apa yang kamu mau, nanti biar ayahanda siapkan " ucap ayahanda.
" Kalau boleh saya mau alat peracik racun dengan penawar, kalau keberatan tidak apa - apa ayahanda " ucapku membuat ia tersenyum.
__ADS_1
" Baiklah, besok pagi akan ayahanda suruh para pengawal untuk membeli nya di pasar , Rendi, goro kalian mau apa? ".
" Terima kasih ayahanda, tapi gak tidak mau apa - apa " ucap mereka berdua serentak yang membuat ayahanda dan ibunda tersenyum.
" Bunga apa itu? " tanya ibunda sambil berjalan kearah Rendi yang sibuk membuat dan merangkai beberapa jenis bunga. " Ini bunga mawar, ini anggrek dan yang ini bunga tulip ibunda " jawab Rendi dengan nada yang begitu lembut.
" Untuk siapa bunga itu? " tanya ibunda penasaran. " Bunga ini untuk putri Elsa " jawab Rendi dengan terus terang membuat ibunda tersenyum. " Apakah kamu menyukai nya? " tanya ibunda lagi.
" Tidak, Rendi membuat kan bunga ini karena ia menginginkan bunga ini " ujar Rendi sambil terus merakit seluruh bunga.
" Kapan ia bertemu dengan kalian? "tanya ayahanda yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan Rendi dengan ibunda. " Barusan tadi ayahanda, saat ayahanda masuk ia sudah pergi ke halaman kerajaan " ujarku.
Kami pun berbincang - bincang sampai tengah malam. " Kami kembali dulu ya anak - anak ,jangan lupa tidur. Karena tidak tidur malam itu tidak bagus untuk kalian " ucap ibunda.
" Iya ibunda " jawab kami secara bersamaan. " Ayo tidur, kakak udah mengantuk sekali " ajak ku kepada dua adik ku.
Aku pun langsung memperhatikan rangkaian bunga di dalam vas begitu ibdah, vas yang terbuat dari api, tapi tidak melahap habis meja yang terbuat dari kayu.
🔱🔱🔱
Saya ucap kan terima kasih banyak atas dukungan para pembaca semua. Mohon maaf kalau masih banyak :
1.Typo
2.kata - kata yang gak nyambung
Kata - kata kasar
4.kadang pun alurnya tidak menetap.
Saya minta maaf ya.
__ADS_1
SAMPAI JUMPA DI EPISODE SELANJUTNYA 👋👋👋
SALAM SEJAHTERA SMEUA