Aku Mewarisi Darah Ibu Ku

Aku Mewarisi Darah Ibu Ku
Rubah vs Kelelawar #2


__ADS_3

Rubah vs Kelelawar #2


Jangan lupa ,like, komen, dan klik vavorit , karena semua itu gratis ya. Kecuali vote itu yang bayar dan ada juga yang gratis.


Selamat membaca semua


✒️✒️✒️


Author pov on


Tak lama kemudian para kawanan Kalelawar dan rubah habis rata dan hilang di permukaan udara.


Siluman Kalelawar kini telah bergabung menjadi satu begitu pula dengan siluman Rubah, pertarungan tak dapat di elekan lagi. Serangan demi serangan terus di lontarkan tanpa mementingkan keadaan sekitar yang sudah kacau balau, di mana di sekitar mereka penuh api yang begitu panas.


Dinding - dinding juga ikut terbakar tapi tak hancur atau melebur sedikut pun.


Kita kembali lagi ke pertarungan yang bisa merenggut nyawa. Karena mereka ialah binatang langit yang di dapatkan dengan cara istimewa, mereka tidak akan mati.


Mereka akan patuh kepada majikan mereka, mereka siap melakukan apa pun itu. Perintah dari majikannya ialah mutlaq, tidak dapat di ganggu gugat.


Tongkat milik siluman kelelawar kini berubah menjadi sabit merah darah dengan hiasan darah yang nyata. Siluman rubah milik pendekar Jetsu yang melihat perubahan senjata langsungkan merubah senjatanya menjadi senjata jarak dekat.


Sabit terus menerus mengincar leher milik siluman rubah, dengan lihainya siluman rubah memainkan pedangnya untuk melindungi dirinya. Kilat terus keluar dari pergesekan antara kedua senjata.


Dengan ***** amarah yang terus bergejolak, siluman Kalelawar mulai memainkan sabitnya dengan cepat dan lihai, permaianan sabit yang begitu indah bukan.


Siluman rubah yang tidak tinggal diam langsung mengayunkan pedangnya yang tak kalah cepat dengan sabit milik siluman kelelawar. Dua senjata pusakan mulai beradu yabg mengakibatkan ledakan yang amat dahsyatnya.


Darah mulai keluar dari sudut bibir kedua lawan. Walaupun sudah keluar darah dari dalam mulut mereka, mereka tetap terus bertarung dengan ganas.


Ledakan terus terjadi saat kedua senjata pusaka saling beradu. Tidak ada yang menghentikan pertarungan kedua binatang langit itu, karena mereka di larang untuk menghentikan pertarungan yang begeiti sengit.

__ADS_1


Jadi mereka hanya duduk manis sambil melihat pertempuran yang begitu berbahaya. "Kalian tidak perlu takut, mereka ialah hewan langit. Jadi mereka tidak akan mati" ucap pendekar Ketai yang langsung di balas anggukan oleh kedua majikan pemilik binatang langit yang sedang memperhatikan pertarungan binatang mereka.


Pertarungan terus berjalan sampai malam tiba, malam yang gelap kini menajadi terang benderang saat bulan meyinari cahaya yang menyejukkan.


Luka terus mereka dapatkan, tapi dengan sigap majikan mereka menyembuhkan luka mereka dari jarak jauh, jadi tidak perlu takut kalau kedua binatang langit itu terluka parah.


Note: "Binatang langit tidak akan mati, mereka hanya bisa terluka. Tapi dampak dari itu ialah kekuatan meraka menurun drastis".


Note: "Yang hanya memiliki binatang langit ialah kelima pendekar dan putri Elsa, jadi yang lain belum ada. Karena untuk mendapatkannya begitu sulit dan susah".


Luka yang du dapatkan langsung pulih dalam seketika, jadi tidak perlu di takuti lagi kalau mereka akan cedera dan mengalami penurunan kekuatan atau kemampuan.


Malam mulai pagi, matahari pun menujukam jati dirinya. Aura panas terik mulai menambah gerah oleh mereka. Di mana api yang begitu panas berada di tempat pertarungan.


Bangunan yang di rancang tidak akan hancur kini mulai menampakkan retakan halus di setiap dinding.


3 hari telah berlalu, kedua petarung masih aja melanjutkan pertandingan mereka. Walaupun tidak ada yang terluka atau cedera yang mengakibatkan kekuatan atau kemampuan mereka turun drastis.


"Berhenti" ucap putri Elsa dan pendekar Jetsu secara bersamaan membuat kedua binatang langit itu berhenti bertarung. "Tuan kok di hentikan, saya baru saja mau membunuhnya" ucap siluman rubah sambil menunjuk kearah siluman kelelawar.


"Hah, saudara?" ucap kedua siluman yang langsung di balas anggukan oleh kedua majikannya itu. Mereka berdua pun saling bertatapan, sepenggal masa lalu mereka membuat mereka sadar. Mereka tersenyum senang lalu berlari dan memeluk.


Air mata mengucur dengan deras membasahi pipi keduanya. "Kakanda kamu kemana sahaja?" tanya siluman rubah kepada siluman kelelawar yang tak lain ialah kakak nya. Walaupun mereka bukan satu spesies, mereka ialah kakak dan adik yang hebat.


Mereka melewati hari - hari yang sulit bersama. Sampai akhirnya mereka di pisahkan oleh rantai - rantai yang mulai membelenggunya tubuh mereka. Otak mereka di cuci dengan arak yang di berikan.


Mereka berpikir, mereka tidak akan bertemu lagi. Tapi takdir berkata lain, mereka du pertemukan dengan waktu yang lumayan lama. "Kakanda tidak tau, yang kakanda ingat hanya saat kita di belenggu".


"Kakanda juga di lepaskan oleh nyonya ini" ucap siluman Kalelawar sambil menujuk kearah putri Elsa yang di balas senyuman manis olehnya.


"Sudah ku bilangkan, jangan panggil aku nyonya. Panggil saja aku Elsa" ucap putri Elsa yang masih terus tersenyum manis. "Terima kasih banyak, karena telah melepaskan kakanda dari belenggu yang kejam itu. Terima kasih banyak" ucap siluman rubah yang masih saja menangis dalam pelukan putri Elsa.

__ADS_1


"Iya - iya, itu memang sudah sewajarnya aku lakukan. Sekarang kalian sudah di pertemukan kembali. Jadi ayo kita kembali keistana" ucap putri Elsa yang sambil menatap wajah cantik siluman rubah.


Tubuh mereka smeua di baluti dengan cahaya kehijauan. Dalam seketika mereka telah berpindah tempat.


Kerajaan telah kembali seperti semula, tanah yang membaluti kerajaan kini telah hilang. Mereka semua menyantap makanan yang ada, begitu pula dengan sepasang siluman yang menceritakan petualangan mereka yang menenggangkan .


Note: "Para binatang langit akan terus berpindah majikan, apa bila majikan mereka telah tidak bernyawa. Mereka akan kembali di belenggu dengan erat".


Author pov end


Kita kembali lagi kepada mc kita. Ketiga suadara saling menatap sekitar, apa lagi kalau bukan mencari kuda mereka. Bau mulai menyeruak kehidung mereka.


"Kudanya telah mati, lihat lah itu" ucap ku sambil menunjukan jasad kuda yang sudah tak bernyawa. Rendi dan Goro lantas melihat kearah mana diriku menunjuk.


"Sungguh kasihan nasib kalian" ucap Rendi sambil memegang tubuh kuda itu yang dalam seketika berubah menjadi debu. Debu itu langsung terbang saat angin mulai berembus dengan lembut.


"Tugas kalian telah selesai, jadi tinggal satu lagi" ucap ayah yang langsung muncul di hadapan kami. Kami yang terkejut langsung jatuh terduduk di tanah.


🔱🔱🔱


Saya ucap kan terima kasih banyak atas dukungan para pembaca semua. Mohon maaf kalau masih banyak :


1.Typo


2.kata - kata yang gak nyambung



Kata - kata kasar


4.kadang pun alurnya tidak menetap.

__ADS_1



Saya minta maaf ya..


__ADS_2