Aku Mewarisi Darah Ibu Ku

Aku Mewarisi Darah Ibu Ku
Menetasnya 3 telur naga


__ADS_3

Menetasnya 3 telur naga


Pagi telah menjelang, kami akhirnya kembali kedunia kami sendiri. Tapi kali ini portal yang di buat tidak menyiksa kami.


"Ayo kita kerumah nenek dulu, kita lihat keadaannya!" ajakku yang langsung di balas anggukan oleh keduanya. Kami langsung berjalan menuju rumah nenek yang sudah ku rindukan dari dulu.


Di sepanjang perjalan kami berbincang - bincang. Telapak tangan kanan kami, kami letakkan di atas cangkang telur. Kami pun langsung menyalurkan tenaga ke telur tersebut agar cepat menetas.


Pagi yang sejuk kini telah menjadi siang yang begitu panas, keringat mulai menggucur dengan deras di pelipis kami. "Kita istrirahat di pohon itu dulu ya!" ajakku yang langsung di balas anggukan oleh kedua adikku yang masih setia mengikuti perjalan yang panjang ini.


Kami mulai membasuh wajah kami dengan air dari guci kecil yang dapat menampung air tanpa batas. Kami juga membasuh telur naga.


Saat kami sedang memejamkan mata sambil menyalurkan tenaga dalam, ada reaksi pada telur naga ini. Kami pun langsung membuka mata.


Pemandangan yang pertama kali lihat ialah kepala bayi naga yang begitu imut dan kecil. Tidak lama itu seluruh tubuh nya mulai nampak.


"Cepat teteskan darah di atas kepalanya" ucap ayah yang langsung kami balaskan, kami langsung mengoreskan jari kami menggunakan senjata milik Rendi.


Darah langsung menetes di atas kepala bayi naga itu. Rasa panas mulai melingkari leher kami "akhh" sakit rasanya, panas itu langsung menghilang dalam sekita.


"Benda apa ini?" tanya ku kepada kedua adikku. Mereka yang tidak tau hanya menaikan bahu mereka. "Itu kalung, kalung itu ialah rumah para naga. Naga milik kalian akan tinggal di dalam kalung selama - lamanya" jawab ayah yang langsung muncul di depan kami.


"Nama apa yang kalian berikan untuk mereka?" tanya ayah sambil mengusap - ngusap kepala bayi naga milik kami. "Siapa ya?" ucap ku sambil mengetuk - ngetuk kepalaku dengan jari - jemari.


"Pakai nama pendekar kuno aja" ucap Rendi yang langsung kami balas anggukan dan senyuman. Aku mulai berfikir untuk menggunakan nama pendekar kuno, tapi siapa ya???.

__ADS_1


"Baiklah, nama kamu ialah Lozeot" ucap ku sambil mengusap kepala bayi naga dengan darah milikku. Bayi naga itu tampak riang saat aku mengelus kepalanya.


"Ayo masuk kedalam kalung" ucap ku yang langsung ia patuhi, ia langsung terbang dan masuk kedalam kalung yang memiliki permata yang terbuat dari emas. "Kalian udah menumukan namanya belum?" tanya ku kepada kedua adikku yang langsung di balas ancungan jempol.


"Kalau boleh tau, siapa namanya?" tanya ku lagi. "Naga punya Rendi namanya, lord carcel" ucapnya sambil mengelus kepala bayi naga itu. " Kalau kamu apa Goro?".


"Namanya Santayui" ucapnya sambil memberikan titah kepada naganya untuk masuk kedalam kalung. Naga kecil itu lantas terbang menuju kalung yang permata - nya yang terbuat dari intan.


"Naga milik kalian harus di berikan tenaga dalam setiap saat, agar ia cepat besar. Karena akan terjadi hal yang tak di inginkan" ucap ayah yang langsung hilang dalam sekita. Kami yang mendengarkan titah ayah langsung mematuhi.


Tenaga dalam, dalam jumlah besar langsung kami berikan untuk naga yang sedang tertidur di dalam kalung. Kami terkejut saat melihat bayi naga itu mulai membesar saar tenaga dalam masuk kedalam tubunya.


Kami yang melihatnya hanya tersenyum, lalu memberikan lebih banya tenaga dalam kami. Tubuh mereka terus membesar secara perlahan, pupil mata mereka juga berubah dari yang hitam menjadi warna emas milik ku, biru milik Goro dan ungu banyangan milik Rendi.


Perasaan ku mulai tidak enak, ada sesuatu yang mengganjal, tapi tidaj tau apa itu. Semoga aja itu bukan hal yang buruk. Kami yang tidak mau kelamaan untuk sampai kerumah nenek lantas menggunakan tenaga dalam, dalam jumlah besar - besaran.


Kami pun tidak lupa untuk membagikan tenaga dalam kami pada naga yang semangkin lama membesar di dalam kalung. Kami melesat di antara awan - awan yang mendung.


Suara petir saling menyahut membuat kami mempercepat lesatan. Hujan pun mulai turun dengan desanya membuat mata kami kesusahan saat melihat lingkungan sekitar.


Kami terus bersuha untuk menyeka air hujan di seluruh wajah kami. Nafas kami mulai tidak beraturan lagi atau tidak normal, kami juga menghembus nafas dengan kasar setiap kami mengeluar karbon dioksida (colab sama pelajaran IPa) ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ .


Kami terus melesat tanpa henti, tanpa memikirkan cuaca yang semangkin - lama, semangkin memburuk. "Kak, apa kita harus tetap melanjutkan perjalan dengan cuaca seperti ini?" tanya Goro yanh berada di belakang ku.


Aku yang mendengarnya hanya mengangguk sahaja lalu melesat dengan kekuatan penuh agar cepat sampai ke tujuan. Hatiku mulai gundah, takut dan khawatir mulai menyerang lubuk hatiku.

__ADS_1


Tanpa terasa air mata menetes tapi tidak dapat di lihat karena bercampur dengan air hujan. Aku juga mulai menyeka air mata yang terus keluar, takut - aku takut.


Takut akan kehilangan sesuatu yang berharga. Dari jauh aku sudah dapat melihat rumah nenek yang sudah hancur berkeping - keping. Aku yang melihatnya langsung turun ketanah dan berlari dengan cepat menuju puing - puing rumah.


Aku mulai memindahkan puing demi puing. Jasad nenek mulai terlihat di antara puing - puing, seketika detak jantungku berhenti seketika saat melihat luka cakar yang begitu banyak terdapat di tubuh nenek.


"Nenekkkkkkkkk" teriakku bersamaan dengan petir yang menggelegar dengan keras. Hal yang tidak ingin terjadi kini malah terjadi di depan mataku.


Aku mulai menangis dengan sejadi - jadinya. Aku memeluk erat jasad nenek yang tidak bernyawa lagi. Kedua adikku pun berusaha menenangkan diriku yanh menjadi - jadi. Teriakan ku lebih keras dari pada suara petir yang saling bersahutan.


"Kakak lihat ini" ucap Rendi sambil menyerahkan sebuah kayu dengan tulisan di dalamnya. Kayu itu tertulis bahwa para iblis akan memulai perang besar - besaran tepat pada bulan gouku.


"Lebih baik kita kubur jasad nenek kak. Lalu kita akan pergi menuju kerajaan Tenju!" ucap Goro yang langsung ku balas anggukan.


Kami mulai menguburkan nenek dengan sebaik - baiknya. Setelah mengurus jasad nenek kami mendapatkan pesan dari kakanda Wiliam untuk segera kembali ke kerajaan dengan cepat.


Tanpa banyak waktu lagi, kami mulai melesatkan lariaan kami di bawah hujan yang begitu lebat. Saat di pertengahan jalan aku langsung memberikan pesan kepada tetua dan yang mulia peri untuk berkumpul di kerjaan Tenju.


***


"Hah harum nya" ucap author


"memang harum apa thor?" tanya Rendi


"Harum kalau karya ini mau tamat. Sampai jumpa di hari selanjutnya๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹"

__ADS_1


__ADS_2