
keesokan hari nya ara dan arsad sudah siap untuk berangkat ke pesantren , mereka saat ini tengah menunggu teman yang lain nya
" kok kalian belum berangkat?"tanya mama risa yang melihat arsad dan ara yang sedang duduk di ruang tamu
" kita lagi nunggu zaki dan yang lain nya" jawab arsad yang langsung berguling di sofa dan kepalanya menimpa paha ara , untuk menjadikan nya bantal , refleks ara pun langsung mengelus kepala arsad
" memangnya mereka mau ikut?"tanya mama risa lagi yang ikut duduk di samping ara
" iya ma, mereka mau ikut" jawab arsad yang sambil memejamkan matanya ia menikmati sentuhan lembut dari ara
" sad , kamu sudah mau jadi bapak masih aja manja , gak sama mama , sama istri kamu" cibir papa hasan yang baru menghampiri mereka di ruang tamu dan ikut duduk di samping istri nya
" aku gak manja lagi ya sama mama, aku sekarang hanya manja sama istri aku aja , nanti kalau aku manja sama mama , istri aku ini akan cemburu" ucap arsad yang sengaja menggoda ara, dan sambil melihat mata manik indah ara , ara hanya tersenyum di balik cadar nya tanpa menjawab ucapan suami nya
" jangan percaya ra , arsad ini masih suka manja sama mama nya diam diam , y gak ma" ucap papa hasan , sambil melirik istri nya untuk meminta pembelaan
" papa, mama , kakak , mbak ara" panggil seseorang yang baru turun dari anak tangga
Semua orang melihat ke arah seorang gadis cantik yang menggunakan baju muslimah serta hijab nya dan sambil membawa ransel yang isi nya penuh
" riska, kamu mau kemana?" tanya arsad yang melihat perbedaan dari penampilan adik nya
mama risa tercengang melihat penampilan anak gadis nya , anak gadis nya memang semalam meminta izin untuk ikut dengan kakak nya ke pesantren , namun ia tak menyangka kalau anak nya akan berpenampilan seperti ini
Riska memang selalu memakai pakaian yang cukup tertutup namun ia tak pernah menggenakan hijab, ada sesekali ia memakai jilbab , namun hanya seperti memakai selendang saja , berbeda dengan sekarang ia mengenakan jilbab yang panjang , seperti jilbab yang sering di gunakan ara .
" kamu cantik banget ris " puji ara yang melihat adik ipar nya ,memakai jilbab panjang seperti dirinya
" terimakasih mbak , kakak aku mau ikut kakak sama mbak ke pesantren " ujar riska dengan senyum lebar nya
__ADS_1
" jadi kamu berpenampilan seperti ini mau ikut kakak kamu ke pesantren?" tanya papa hasan yang ikut kagum juga dengan penampilan anak gadis nya itu
" iya pa , kakak juga waktu itu sudah janji mau ngajak aku ke pesantren"
" kakak mau menginap di sana ris," ucap arsad yang memberi tahu kan kalau dirinya akan menginap di pesantren
" ya gak papa, ini aku juga sudah menyiapkan semua kebutuhan aku sendiri saat menginap si sana!" ujar riska sambil menunjuk kan ransel yang ia kenakan
" kamu gak usah ikut lah dek, nanti kamu ngajak pulang lagi!" arsad yang melarang sang adik untuk ikut , ia takut nanti adik nya akan ribut meminta pulang
" gak kakak , aku kan udah biasa pergi pergi , seperti saat kegiatan sekolah , kan aku sampek menginap beberapa hari " ucap riska dengan tapan memohon ke pada kakak nya
" mas , biarin aja riska ikut sama kita , ini malah bagus , jadi secara gak langsung dia langsung belajar agama di sana" ujar ara yang membujuk suami nya agar arsad mau mengajak sang adik ipar
" iya sad , biarin lah adik kamu ikut , itung itung dia sekalian belajar agama di sana" ujar papa hasan yang membenarkan ucapan ara
" udah lah sad , biarin aja adik kamu ikut " ujar mama risa yang menyetujui anak gadis nya ikut ke pesantren
" kok kamu tau sih!" ucap papa hasan dengan senyum lebar nya
" huff papa tau gak apa tujuan anak gadis papa ini mau ikut ke pesantren ?" tanya arsad pada papa nya
Papa hasan dan mama risa pun menyerengitkan dahi nya saat mendengar pertanyaan arsad
" memang nya apa tujuan nya?" tanya balik papa hasan
" kakak" panggil riska , yang memperingatkan sang kakak tidak memberitahukan tujuan nya yang mau ikut ke pesantren
Ara hanya diam mendengarkan percakapan antara anak dan ayah
__ADS_1
" apa , kamu gak mau kalau mama sama papa tau tujuan kamu mau ikut kakak?" tanya arsad pada riska , arsad langsung bangkit dari tiduran nya , ia langsung duduk di samping ara dan tangan sebelah merangkul lengan ara
" udah sad , bilang aja , apa tujuan anak gadis papa ini ikut dengan kamu ke pesantren? " tanya papa hasan yang penasaran
" iya sad apa tujuan nya, mama kok jadi penasaran sih!!" ujar sang mama yang ikut ikutan penasaran
" kakak" ucap riska dengan tatapan memohon , i pasti akan sangat malu kalau mama sama papa nya mengetahui tujuan nya ikut ke pesantren besama arsad dan ara
" adek , mau ikut ke pesantren karena dia mau cari ust-" ucapan arsad di potong riska
" iii kakak gak usah di omongin juga , ayo ah kita berangkat aja sekalian" ucap riska yang memotong ucapan arsad
" adek mau ikut karena mau cari ustad tampan , buat jadi mantu mama sama papa" ujar arsad yang memberi tahu kan semuanya
riska langsung menutup muka nya dengan kedua telapak tangan nya, ia sangat malu sekali tujuan nya di ketahui oleh kedua orang tua nya dan kakak ipar nya
mama riska, papa hasan dan ara pun langsung terkejut, mereka tak menyangka kalau riska ingin mencari seorang ustad untuk menjadi imam nya
" sayang , bener apa yang di katakan oleh kaka mu?" tanya mama risa ada anak gadis nya,
" iya hehe, kan biar nanti ada yang membimbing riska dunia akhirat" jawab riska yang masih menahan malu nya
" di sana ada ustad riki yang masih singgel ris !" ujar ara yang memberitahu
" nah , bener tu apa kata ara, sekalian papa bisa besanan sama sahabat papa" ujar papa hasan antusias
" mama juga setuju kalau kamu sama anak nya ustad ansor, ris" ujar mama risa yang menyetujui
" gak , kakak gak setuju, ustad riski itu pernah suka sama ara , kakak gak mau nanti kamu hanya sebagai pelarian saja" tolak arsad mentah mentah
__ADS_1
" tapi mas , tu kan dulu sebelum tau kalau aku istri kamu" ujar ara yang memberi penjelasan
" ya sama aja sayang , rasa cinta gak akan mudah untuk di lupakan begitu saja , apa lagi nanti saat jai sama riska , pasti kan otomatis kan akan bertemu sama kamu terus , jadi dia bakal susah lupain cintanya sama kamu" jelas arsad yang masih menolak , ia tidak mau kalau adik nya akan tersakiti nanti nya