
"Aleya!". Teriaknya lalu berlari dan menubruk tubuh Aleya.
Aleya sedikit oleng, namun gadis itu berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
Aleya mengajak Tari duduk di sofa. Gadis itu lelah jika terus-terusan berdiri dengan posisi Tari yang menempel padanya.
"Aleya maafin gue, hiks gue gak tahu bakal terjadi kejadian seperti ini". Aleya terkejut melihat Tari yng menangis dengan raut penyesalan yang terlintas di wajahnya.
"Siapa yang ngasih tahu lo kalau Bagas hampir macam- macamin gue?". Tanyanya pada Tari.
Tari menarik ingusnya sejenak. Lalu kembali menatap Aleya.
"Satya". Ucapnya.
Aleya sudah menduga. Pasti pria itu yang memberi tahu Tari tentang yang dialaminya malam ini.
Siapa lagi jika bukan Satya, karena hanya pria itu yang bersama Aleya saat Bagas hampir melecehkan Aleya.
"Beribu-ribu kali lagi gue mintak maaf, Aleya". Ucap Tari sambil terus sesenggukan.
Aleya mengangguk.
Tari beralih memeluk Aleya erat. Ia sangat merasa bersalah membuat sahabat satu-satunya nyaris menjadi korban pelecehan Bagas.
__ADS_1
Tari melepaskan pelukannya lalu beralih menatap Aleya.
"Gue tidur disini ya". Ucapnya dengan nada memohon. Aleya terkekeh lalu mengangguk.
Tari kembali menatap Aleya dengan alis bertaut.
"Kenapa?". Tanya Aleya. Gadis itu bingung dengan ekpresi yang Tari tunjukkan padanya.
"Lo ngerasa aneh gak?". Tanya Tari sambil terus menatap Aleya dalam.
Perasaan Aleya mulai tak enak. Demi apapun, ia sangat benci hal-hal berbau horor. Bukan karena ia badgirl, itu berarti Aleya berani pada segala hal kecuali Allah.
Tidak
"Aneh kenapa?". Aleya bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru rumahnya.
Tari memutar bola matanya jengah. Ia menepuk pipi Aleya pelan membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Bukan itu maksud gue". Ucap Tari jengah.
Aleya mengerutkan alisanya bingung.
"Lo ngerasa gak, kalau Satya itu suka sama lo?". Kai ini, Aleya yang memutar bola matanya malas. Menurutnya, pertanyaan Tari tadi sangat tak masuk akal.
__ADS_1
Mana mungkin seorang Satya yang menjengkelkan seperti itu, menyukai dirinya yang tak jauh beda dari gembel.
"Gak usah aneh-aneh deh, Tar". Ucap Aleya.
" Ih lo mah, nih ya, Satya itu kan terkenal dengan sifatnya yang super duper dingin, tapi anehnya dia malah ngeselin banget sama lo. Dia juga selalu nolongin lo kalau lo lagi kena masalah". Ujar Tari.
"Selalu nolongin gue kalau gue lagi ada masalah? bukannya dia baru kali ini nolongin gue?. Yang ada nih, dia selalu bikin gue dihukum sama Buk Dewi". Ucap Aleya.
"Iya juga sih". Tari menjadi linglung seketika. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menatap Aleya sambil mengeluarkan cengiran khasnya. Sedetik kemudian, ekspresi Tari kembali serius.
Untuk yang kesekian kalinya, Aleya memutar bola matanya malas, jengah dengan kelakuan gadis disampingnya.
"Eh tapi kalau Satya beneran naksir sama lo gimana?". Tanapa aba-aba, Aleya melempar bantal sofa ke arah Tari hingga mengenai wajah gadis itu.
" ALEYA! LO BENER-BENER YAHHH!".
"Sttt diem Tar udah malam ini, nanti abang gue bangun lagi".- Ucap Aleya.
"Eh iya, Le. ngomong-ngomong Bang Aldo udah punya pacar belum?". Ucap Tari
"Ngapain lo nanyain Bang Aldo, suka lo ya sama dia. Gue kasih tahu aja ya Tar mending gak usah deh lo suka sama dia, entar lo malah sakit hati lagi gara-gara ngeliat Bang Aldo gonta-ganti pasangan".- Ucap Aleya.
......................
__ADS_1
Nexttt:)