
Bagas dengan perlahan melangkah, mendekati ranjang Aleya. Ia meletakkan barang yang dibelinya di atas meja
Tangannya terulur, mengelus puncak kepala Aleya dengan lembut seolah takut membangunkan gadis itu dari tidur nyenyaknya.
Mendengar adanya pergerakan, Satya menggeliat kecil sambil membuka kelopak matanya perlahan.
Objek yang pertama dilihatnya adalah tangan Bagas yang tengah mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Dengan sigap, Satya bangun dari tidurnya sambil menghempaskan tangan Bagas agar tak menyentuh istrinya.
"Stt". Bagas menutup bibirnya dengan telunjuk, mengisyaratkan Satya untuk tak melakukan pergerakan lebih yang sekiranya bisa membangunkan Aleya.
Satya melengos sambil menuruni ranjang dengan perlahan. Pria itu menatap Bagas tajam dengan tangan yang bersedekap di dadanya.
Bagas melirik bunga dan buah-buahan yang di belinya tadi, sebagai isyarat bahwa tujuannya hanya untuk menjenguk Aleya.
Satya tak menjawab. Pria itu melangkah mendekati Bagas lalu membisikkan sesuatu padanya.
"Jangan pegang-pegang istri orang bisa?". Tanyanya pelan namun menusuk.
Bagas tak terusik dengan pertanyaan Satya. Pria itu bersikap santai walau sebenarnya, hatinya merasa sakit saat mendengar Satya memanggil Aleya dengan sebutan Istri, seolah-olah menandakan bahwa Aleya adalah sepenuhnya miliknya.
"Jangan lupa! Istri lo itu, sahabat gue". Jawab Bagas sambil menunjuk pundak kiri Satya, membuat pria itu geram bukan main.
__ADS_1
"Gak ada persahabatan antara cowok sama cewek yang benar-benar murni gak melibatkan perasaan. Salah satu di antara mereka pasti ada yang punya perasaan lebih dari seorang sahabat". Ujar Satya sambil menatap Bagas remeh.
Satya menujuk jari telunjuknya ke arah wajah Bagas.
"Dan lo..."
"Lo punya perasaan lebih kan ke Aleya "Istri" gue?". Tanyanya sambil menekan kata istri di kalimat terakhir yang di ucapnya.
"Kalau iya kenapa? Gue juga gak mau suka sama istri orang. Tapi apakah perasaan itu bisa di kendalikan? Satya Bagaskara?". Tanya Bagas sambil mengangkat sebelah alisnya.
Satya terkekeh geli sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Pria itu kembali melangkah mendekati Bagas dan berbisik.
"Hilangin perasaan suka lo itu ke istri gue, sebelum gue bertindak lebih". Ujarnya sambil tersenyum devil.
"Loh, Bagas?". Suara serak khas bangun tidur itu terdengar di telinga keduanya, membuat kedua pria itu serempak menoleh dan menatap Aleya yang tengah menggeliat kecil.
Keduanya mendekat keranjang Aleya sambil mengusap pelan kepala gadis itu, membuat Aleya menatapnya bingung.
"Jauhin tangan lo dari rambut istri gue". Ucap ketus Satya.
"Lo yang harusnya jauhin tangan lo". Ujar Bagas tak mau kalah.
"Kenapa gue musti harus jauhin tangan gue dari istri gue, yang seharusnya ngejauhin tangan dan seluruh tubuhnya itu adalah lo. Lo gak ada hak apa-apa untuk nyentuh istri orang". Ucap Satya tak kalah sarkas.
__ADS_1
"Stop kenapa kalian pada ribut sih". Lerai Aleya.
"Dia duluan yang mulai Al". Ucap Bagas
"Bukan tapi dia duluan yang mulai sayang". Ucap Satya tak mau kalah.
Entah tak ada angin tak ada hujan, kedua pria itu kompak melempar tuduhan yang sama, membuat Aleya terkekeh geli karenanya.
Satya membuang muka, seoalah jijik dengan kejadian barusan saat ia tak sengaja mengucapkan kalimat yang sama dengan Bagas.
Bagas pun sama. pria itu mengalihkan perhatiannya dengan alis yang mengkerut. Pertanda tak suka dengan kejadian barusan.
"Mau minum". Aleya merengek sambil berusaha mengubah posisi tidurnya menjadi sedikit bersandar.
Bagas dengan sigap menyerahkan sebotol air putih yang ada di meja kecil dekat brankar Aleya, bersamaan dengan Satya yang juga memberikan segelas air putih.
"Ini aja Al". Ucap Bagas sambil menyodorkan botol air itu ke arah Aleya.
"Gak, ini aja sayang ini air anget, sehat buat kamu". Sahut Satya, tak mau kalah.
"Ini aja Al, ini lebih sehat, ini air mineral asli". Bagas kembali bersuara, membuat Aleya menatap mereka bingung.
"Apaan sih lo, jelas-jelas semua yang berbau instan itu gak sehat". Ketus Satya sambil mentap tajam Bagas.
__ADS_1