
Mama is calling.
Ketika tengah asik main game di ponselnya, perhatian Satya teralihkan pada deringan ponsel yang ada di tangannya.
Satya mengangkatnya saat melihat kontak sang Mama memenuhi layar ponselnya.
"Hallo Ma, ada apa nelpon Satya?". Tanyanya saat panggilan telah terhubung.
"Nanti habis pulang sekolah langsung pulang ke rumah, jangan keluyuran". Ucap Salma, to the point. Ia cukup tahu bahwa putra sulungnya yang super dingin itu tak suka berbasa-basi.
"InsyaAllah". Ucap singkat Satya.
"Jangan InsyaAllah-insyaAllah, harus pulang pokonya mama gak mau tahu. Ajak Aleya sekalian".
"Hm iya". Ucap singkat Satya.
"Mama tunggu di rumah, inget lo sayang ajak Aleya!".
"Iya mama ntar Satya ajak Aleyanya kalau gak lupa". Tut tut
Satya langsung mematikan sambungan teleponnya, tak peduli dengan ocehan sang mama di seberang sana. Mamanya itu tak cukup jika hanya mengingatkan sekali padanya, harus berkali-kali, tanpa mempedulikan telinga Satya yang panas akibat ocehannya.
Baru saja hendak memainkan gamenya, Satya kembali kesal dengan deringan di ponselnya. Pria itu mengambil ponselnya dan melihat nama penelpon yang tertera di layar ponselnya.
Mamanya lagi.
__ADS_1
Satya menghela napas lelah lalu mengangkat panggilan dari mamanya. Belum sempat Satya berbicara, mamanya sudah menyerobot di seberang sana.
"Sayang, langsung ke toko perhiasan aja ya, awas kalau telat". Tut tut.
Tanpa menunggu jawaban dari Satya, Salma langsung mematikan panggilan membuat Satya mendengus kesal.
Selang beberapa menit setelahnya, Satya mengirimkan pesan singkat pada Aleya, lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam sakunya.
Di sisi lain, seoarang gadis berambut panjang bergelombang tengah berada di lapangan sendirian. Ia mengelap wajah putih mulusnya yang berkeringat menggunakan sapu tangannya.
Walaupun ia gadis tomboy dan sedikit nakal, namun Aleya tetaplah sama dengan gadis lainnya yang senantiasa merawat wajah mereka.
Aleya menyimpan kembali sapu tangannya itu ke saku celana olahraganya.
"Gini amat hidup gue, dijodohin sama orang yang gue benci". Ucap Aleya sambil menjambak rambutnya.
Suara bola jatuh dengan kencang membuat Aleya yang awalnya melamun, seketika terlonjak kaget.
Aleya menatap orang yang melemparkan bola di depannya dengan nyalang. Berani seksi gadis ini menganggu ketenangannya.
"APA!". Sentak gadis itu membuat Aleya semakin menggeram marah.
"Pergi lo sebelum gue bertindak!". Desis Aleya tajam, bahkan suaranya sudah berubah serak.
Gadis itu melangkah maju dan dengan sekali sentakan, ia menjambak rambut Aleya kuat membuat gadis itu memekik tertahan.
__ADS_1
"LEPASIN GAK ANJING!" Pekik Aleya.
Tangannya tak tinggal diam, ia juga membalas jambakan lawannya sekuat tenaga.
"GUE UDAH PERINGATIN SAMA LO BUAT JAUHIN SATYA! KENAPA GAK LO JAUH-JAUHIN JUGA, MALAH MAKIN KESINI MAKIN JADI YA, LO". Tariak gadis itu histeris.
"SATYA GAK COCOK SAMA LO! SATYA COCOKNYA SAMA GUE, BUKANNYA SAMA LO!". Sambungnya lagi.
Aleya menyeringai. Dasar gadis gila, pikirnya. Ia mengambil tangan Angel yang berada di kepalanya, lalu membalikan badannya, dan dengan sekali hentakan Angel terlempar hingga punggungnya membentur tiang bendera.
"Mampus! Sekalian aja lo koma kalo perlu mati aja lo sana!". Ucap Aleya sambil membenarkan pakaiannya yang berantakan.
"Lo yang bakal mati, lo gatau aja siapa gue?! Awas kalau gue sampai lihat lo deketin Satya lagi!JAUHIN DIA". Teriak Angel bak orang kesurupan.
Aleya berdcih sinis.
"Cih! Terobsesi rupanya". Gumam Aleya
"Kalau gue gak mau gimana?". Tantang Aleya pada Angel.
"Sialan". Umpat Angel membuat Aleya terkekeh sinis dengan alis yang terangkat sebelah.
"Let's play the game, Angel". Desis Aleya tajam dengan wajah datarnya.
......................
__ADS_1
Next:)