Aleya

Aleya
Chapter 32


__ADS_3

"Aleya, woi bangun". Satya menepuk-nepuk pipi Aleya, namun gadis masih tertidur nyenyak karena kelelahan. Jelas saja, siapa yang tak lelah jika seharian penuh harus berdiri berjam-jam menyambut tamu. Pantas saja pagi tadi Aleya mengeluh sakit pinggang padanya.


"Al". Satya mengguncang pelan bahu Aleya namun gadis itu hanya menggeliat kecil tanpa mau membuka matanya.


Karena kesal, Satya mengecup bibir Aleya berkali-kali. Ah, Satya candu dengan rasa manis dari bibir ini.


"Sat, gue masih ngantuk". Ucap Aleya sambil mengerjapkan matanya.


"Gue laper". Ucap Satya.


Perlahan, Aleya bangkit dari tidurnya. Gadis itu menatap Satya sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.


"Kita makan diluar aja deh". Ajak Satya.


Aleya hanya menyetujuinya tanpa banyak protes. Ia juga sedang lapar namun bahan makanan belum ada.


"Gue siap-siap dulu". Ucap Aleya. Setelahnya, gadis itu berlalu ke kamar mandi sambil sekali menguap, membuat Satya terkekeh karenanya.


Selang 30 menit menunggu, akhirnya Aleya siap dengan baju kaos di balutin dengan jaket kulit dan celana jeans hitam yang melekat di tubuhnya.


Ia menghampiri Satya yang tengah fokus pada ponselnya.


"Ayo jalan". Ajak Aleya.

__ADS_1


Satya menoleh, pria itu memperhatikan penampilan Aleya dari atas sampai bawah, Ia menghampiri Aleya dan dengan satu tarikan, ikat rambut Aleya terlepas dari kepalanya.


"Ish Sat, lo apa-apaan sih, gerah tahu gak". Gerutu Aleya.


"Leher lo tutupin, gue gak suka ngeliat leher lo keliatan". Ucap Satya, lalu setelahnya pria itu menarik tangan Aleya lembut. Ia sudah benar-benar lapar sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, dipinggir danau yang luas, seorang muda-mudi tengah asik berbincang dengan cilok di tangannya. Mereka menikmati angin malam yang menyejukan, sambil sesekali tertawa.


Jika dilihat dari jauh, mereka seperti pasangan yang dimabuk asmara. Padahal jika didekati, mereka bukanlah saling berbincang dan tertawa. Melainkan saling bercekcok satu sama lain dan saling melempar tatapan sinis.


"Gue gak sengaja, Aleya. Sumpah". Ucap Satya sambil memohon agar Aleya berhenti meninju bahunya.


Melihat Aleya menatap ciloknya dengan mata berkaca-kaca, membuat Satya tak tega. Ia pun menyodorkan ciloknya pada Aleya.


Aleya menoleh, ia menatap Satya, lalu setelahnya ia mengalihkan pandangannya ke cilok ditangan Satya.


"Nih, gantinya buat lo". Ucap Satya.


"Terus lo gimana?". Tanya Aleya. Ia tahu Satya sangat menyukai cilok sedari kecil karena mama mertuanya menceritakan itu padanya.


"Gue gak papa, nanti pulangnya bisa beli lagi. Nih, ambil". Ucap Satya.

__ADS_1


"Gak usah Sat, gue bisa beli jajanan yang lain, gue tahu lo laper jadi makan aja ciloknya". Ucap Aleya.


Aleya menolak. Ia pergi dari danau menuju pedagang yang jaulan makanan disana. Satya tersenyum tipis, tak masalah jika Aleya tidak menerima ciloknya yang penting Aleya tidak marah lagi dengannya.


Satya mengernyit saat melihat Aleya membeli banyak jajanan. Gadis itu menyodorkan beberapa jajanannya kepada Satya.


"Nih ambil". Ucap Aleya sambil memberikan sebagian jajanannya kepada Satya.


Satya melebarkan senyumannya. Ia mengambil jajanan yang ada di tangan Aleya sambil mengacak rambut istrinya itu gemas.


Aleya mulai melahap jajanannya sambil menatap bintang yang mulai bersinar terang menghiasi awan.


Ia melirik ke arah Satya. Pria itu hanya menatap jajanan yang di kasih Aleya tanpa mau memakannya.


"Kenapa?". Tanya Aleya.


"Suapin". Rengek Satya.


Aleya memutar bola matanya malas. Sejak kapan Satya menjadi sangat manja kepadanya.


"Kok lo jadi sangat manja gini sih?". Tanya Aleya. Walau begitu, ia tetap menurut untuk menyuapi Satya makanan yang di belinya tadi.


......................

__ADS_1


Next bab selanjutnya:)


__ADS_2