
Apakah semua gadis pintar memang berpenampilan cupu? dan bersikap lugu? Padahal menurutnya Dinda itu gadis baik, tapi sikap lugunya yang sering kali membuatnya menjadi bahan bullyian di sekolah.
Aleya kembali melangkahkan kakinya menuju sepedanya yang masih nagkring di gerbang sekolah.
Saat baru saja hendak menyebrang, ia kembali dikejutkan oleh sepasang motor trail yang hampir menyerempetnya.
Aleya memekik tak suka saar pengendara motor itu turun dari motornya tanpa melepaskan helmnya.
"Lo gak punya mata?!!". Tanyanya sewot.
"Santai Al". Ujar pria itu sambil membuka helm full facenya. Aleya yang awalnya menatapnya melotot, sontak semakin Mendel iklan matanya saat tahu siapa orang yang hampir menyerempetnya.
"BAGAS!!". Pekik Aleya sambil meninju lengan Bagas, membuat pria itu terkekeh.
"Ngapain lo masih disini? Mau ngedate sama hantu penunggu sekolah?". Tanya Bagas, membuat Aleya ketakutan.
"Sembarangan mulut lo, sepeda gue pecah ban noh". Ucap Aleya sambil menunjuk sepedanya di depan gerbang.
"Lo sekolah di SMA TRIDINANTI?". Tanya Aleya.
__ADS_1
Bagas mengangguk sambil melajukan motornya pelan untuk mendekati sepeda Aleya. Sedangkan si pemilik, masih setia membuntuti Bagas dengan beberapa pertanyaan yang bersarang di otaknya.
"Kenapa gak daftar di sekolah gue aja, kan kita bisa bareng?". Tanyanya lagi.
Karena gue gak yakin perasaan gue bisa kuat ngelihat lo sama Satya mesra-mesraan.
"Tetangga gue banyak yang sekolah disana, jadi gue mutusin buat sekolah disana aja". Alibi Bagas.
"Dih ikut-ikutan aja lo". Ejek Aleya.
Bagas menghela nafasnya lelah, lalu memfokuskan pandangannya pada Aleya. Pria itu mengacak rambut Aleya sejenak lalu mengalihkan perhatiannya pada sepeda Aleya.
"Lo pulang bareng gue aja, sepeda lo biar orang suruhan gue yang bawanya nanti, Ayo naik". Bagas menarik tangan Aleya dan membawanya pergi dari halaman sekolah.
Sesampainya di depan apartemen, Aleya segera turun dari motor Bagas sambil berusaha melepaskan helmnya. Namun karena sedikit kesulitan, Alhasil Bagas harus membantu Aleya melepaskan helmnya itu.
"Thanks, Gas". Ucap Aleya.
Bagas mengangguk. Fokus pria itu teralih pada rambut Aleya yang dihinggapi daun kering di atasnya. Ia pun berniat membersihkan rambut Aleya namun urung karena rahangnya tiba-tiba kena bogeman mentah dari seseorang.
__ADS_1
"SATYA!!". Pekik Aleya saat melihat Bagas jatuh tersungkur karena ulah suaminya.
Aleya dengan sigap membantu Bagas berdiri walau sedikit kesulitan.
"BAGUS YA! UDAH MAU JADI PEBINOR AJA LO?!! ". Sentak Satya pada Bagas. Matanya mengkilat di penuhi amarah. Urat-urat di lehernya pada keluar karena emosi.
"Sat, udah, dia cuman nolongin aku aja". Ujar Aleya sambil berusaha menenangkan amarah suaminya itu.
"APA! KAMU MAU BELAIN DIA?". Ujar Satya dengan intonasi semakin meninggi.
"Stop Sat, tarik nafas, hembusin pelan-pelan". Ujar Aleya, mencoba meredakan emosi Satya.
"Gas, mending lo balik deh". Bagas mengangguk. Pria itu menyentuh rahangnya yang terasa bergeser sambil meringis pelan. Ia benar-benar tak menyangka bahawa suami Aleya bisa se-posesif ini.
Bagas pun berlalu meninggalkan apartemen Aleya dengan luka sobek di sudut bibirnya. Pria itu mengendarai motornya dengan pelan karena beberapa titik bagian tubuhnya masih terasa sakit.
"Kenapa pergi lo pengecut?!". Sedangkan Satya, pria itu masih berteriak kesurupan karena tak terima jika tangan Bagas menyentuh bagian dari tubuh istri nakalnya ini.
"Sat udah, kalo kata aku sudah ya sudah!". Ucap Aleya tegas sambil memeluk Satya erat sambil sesekali mengusap-ngusap punggung pria itu pelan, gadis itu terus membisikkan kata yang sekiranya bisa membuat emosi Satya redah.
__ADS_1
"Aleyaa". Baiklah, sepertinya sifat manja Satya sudah kembali.
"Stt, kamu itu emosian banget sih". Cibir Aleya sambil mengeratkan pelukannya pada Satya.