Aleya

Aleya
Chapter 56


__ADS_3

"Total semuanya jadi berapa mbak?". Tanya Satya pada mbak kasir. Pria itu mengeluarkan dompetnya dari saku celananya sambil mengambil kartu Kreditnya.


"Totalnya jadi Rp 150.000 mas". Ujar mbak kasir. Satya mengangguk dan memberikan kartu kredit nya ke mbak kasir.


Setelah membayar Satya segera pergi melangkah menuju ke arah mobilnya. Matanya tetap fokus terarah dimana istrinya berada. Ia tak ingin menatap kesebrang jalan lagi, tak ingin melihat gadis itu lagi. Karena itu membuatnya teringat pada masa lalu.


Satya membuka pintu mobil belakang dan memasukan barang belanjanya tadi ke dalam. Satya tak menghiraukan keadaan istrinya itu, pikirannya masih di penuhi oleh kedatangan gadis yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.


Setelahnya, pria itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya yang kacau, membuatnya tak fokus bahwa istrinya tak pakai sabuk pengaman. Biasanya, Satya selalu mengecek atau bahkan memakaikan sabuk pengaman jika hendak mengendarai mobil.


Karena pikirannya yang masih di penuhi oleh bayang-bayangan dari gadis di masa lalunya di sebrang jalan tadi, pria itu tak tahu bahwa ada seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang dari kejauhan.


Hingga matanya terbelalak, dan respect dia pun langsung menginjak rem. Membuat kening Aleya berdarah karena terbentur dashboard mobil.


"Akhh". Pekik Aleya.

__ADS_1


Gadis itu berusaha memposisikan tubuhnya kembali seperti semula. Ia merasakan bau anyir tercium di daerah pelipisnya juga terasa perih dan basah. Rupanya, pelipisnya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Membuatnya sedikit ingin muntah mencium bau amis dari pelipisnya.


"Sayang". Satya yang mulai sadar akan kejadian barusan, segera mengecek keadaan istrinya yang terlihat tengah memegangi pelipisnya yang keluar darah.


"Hey maaf sayang, jangan ditekan". Ujar Satya sambil menggenggam tangan Aleya agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.


"Kenapa sayang, kenapa?". Ujar Satya sambil kembali menghidupkan mobilnya.


"Benapa semuanya jadi buram, pusing Sat, kepala aku pusing". Sahut Aleya sambil memejamkan matanya.


Entah itu hanya perasaan Aleya saja atau bagaimana, yang jelas gadis itu merasa bahwa Satya sedikit berbeda. Tak ada raut wajah panik yang biasanya terlihat ketika dirinya terluka, dan tak ada pelukan hangat yang bisanya ia rasakan ketika dirinya ketakutan.


Masih mencoba berpikir positif, Aleya memastikan bahwa Satya hanya ingin dirinya sendiri yang merawat Aleya dan bukan orang lain atau mungkin Satya sedang kelelahan hingga tak fokus berkendara. Pikirnya.


Aleya diam, tak menjawab pertanyaan Satya. Gadis itu menunduk dengan tangan yang masih menekan pelipisnya agar tak mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


Sedangkan Satya, pria itu mulai melajukan mobilnya setelah memasangkan Aleya sabuk pengaman. Ia melirik sekilas istrinya lalu kembali fokus ke jalanan.


Setibanya di gedung apartemen mereka, ia membukakan pintu mobil dan mendudukan Aleya di kursi roda. Pria itu sedikit terkejut kala melihat Mama dan Papanya ada disini. Dan jangan lupakan adik kembarnya yang juga ikut.


"Loh Aleya kenapa?". Tanya sang Mama sambil mengambil alih Aleya yang berada dikursi roda.


"Kebentur dashboard mobil tadi". Ujar Satya.


Dengan sigap, Mamanya langsung membawa istrinya itu ke dalam sambil sesekali mengoceh tak jelas.


Melihat Aleya sudah aman dengan sang Mama, Aleya langsung berbalik meninggalkan apartemennya tanpa menghiraukan tatapan curiga dari Papanya.


......................


Next bab selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2