Aleya

Aleya
Chapter 39


__ADS_3

"Kan ada Tari, besok aku berangkatnya sama Tari". Ujar Aleya.


Satya kembali menenggelamkan kepalanya dilekukkan leher Aleya. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Aleya.


"Hm, awas aja matanya jelalatan". Ujar Satya. Suaranya serak sedikit teredam karena posisi kepalanya yang berada di ceruk leher Aleya.


"Enggak kok". Ujar Aleya sambil terkekeh. Sikap Satya yang manja seperti ini semakin menggemaskan menurutnya.


"Jangan bicara sama cowok lain, jangan deket-deket sama cowok lain, jangan bersentuhan fisik sama cowok lain, jangan liat-liat cowok lain". Ucap Satya sambil menduselkan kepalanya, membuat Aleya terkekeh geli karena sifatnya.


"Hm iya, gue janji". Ucap Aleya malas.


Satya mendongak dan mengecup bibir Aleya sekilas, lalu kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Aleya.


"Anak pinter". Ucap Satya.


Aleya tersenyum sambil kembali mengusap rambut Satya. Ia memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi.


"Sat?". Panggil Aleya.


"Apa?". Sahut Satya.


"Aku dengar, Angel pindah ke Amerika karena perusahaan Papanya bangkrut, kamu tahu gak?". Tanya Aleya. suaranya memelan saat menanyakan hal tersebut pada Satya.


Satya menegang beberapa saat, Aleya dapat merasakannya.


"Enggak". Ucap singkat Satya.

__ADS_1


"Jujur, Sat". Desak Aleya.


Satya menghela nafasnya lelah. Ia sudah menduga, cepat atau lambat, Aleya akan mengetahui ini semua.


"Aku cuman gak mau ada yang ganggu hubungan kita lagi". Ujar Satya sambil mengeratkan pelukannya. Pria itu memejamkan matanya saat rasa sakit di kepalanya kembali datang.


Aleya berusaha menahan senyumnya saat mendengar suara lembut Satya menyapa telinganya. Ah, pria ini sangat tahu cara meluluhkannya.


"Tapi itu berlebihan". Ujar Aleya.


"Dia memang harus di kasih pelajaran, dia itu sudah gila, sampai kapan pun dia gak akan nyerah buat ngerusak hubungan kita". Satya mendesis pelan, membuat Aleya mengernyit bingung.


"Sat----".


"Sttt, diem sayang".


Aleya yang awalnya asik mengelus rambut Satya, terkejut saat mendapati Satya berkeringat dingin sambil terus menggumamkan namanya.


"Aleya ngantuk". Gumam Aleya.


"Sat, turun dulu, posisi kamu gak nyaman". Ujar Aleya. Ia membantu Satya merebahkan dirinya dengan Hati-hati. Lalu memeluk Satya erat agar pria itu merasa lebih hangat dari sebelumnya.


"Besok kita ke dokter yah". Ujar Satya.


"Enggak, aku cuman demam biasa aja sama kecapekan aja kok". Satya menolak.


"Kamu takut jarum suntik?". Tanya Aleya jahil. Sebenarnya itu usahanya agar Satya tak terlalu fokus pada suhu tubuhnya yang sedikit tidak normal.

__ADS_1


" Bukan gitu, aku lebih suka di rawat sama kamu dari pada sama dokter ". Ucap Satya. Ia memanyunkan bibirnya kesal karena pertanyaan Aleya yang meremehkannya.


Aleya terkekeh kecil sambil terus mendekap tubuh Satya erat.


"Iya iya percaya". Ucapnya dengan kekehan kecil membuat Satya semakin kesal karenanya.


Suasana kembali hening saat Satya dan Aleya kembali tak bersuara. Hanya terdengar suara jam yang terus berdentang seiring berjalannya waktu.


Aleya yang mulai terlelap, sontak kembali terjaga saat merasakan suhu tubuh Satya kembali naik, namun pria itu malah menggigil kedinginan.


"Al-leya dingin". Ucap Satya dengan gigi bergetar karena kedinginan.


Aleya bangkit dari posisinya, gadis itu membuka pakaian atasnya hingga menyisahkan kaos sejari yang melekat ditubuhnya. ia membantu Satya melepas kaos pria itu dan langsung mendekap Satya erat.


Aleya menaikkan selimutnya hingga sebatas leher. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Satya agar pria itu jauh lebih tenang.


"Al-leya".


"Stt, tidur". Ucap Aleya sambil mengusap kepala Satya lembut.


Beberapa saat kemudian, Satya mulai merasakan kantuk yang menyerangnya. Pria itu memejamkan matanya dan tak lama, terdengar dengkuran halus dari bibir tipisnya.


Aleya tersenyum. Satya nya semakin menggemaskan dimatanya. Bahkan saat sakit pun, pria itu masih bisa meluluhkan Aleya hanya dengan tatapannya.


Aleya semakin mengeratkan pelukannya, merasakan kulit tubuhnya bersentuhan langsung dengan dada bidang Satya.


Aleya sedikit mengendurkan pelukannya, ia mematikan lampu kamar di sampingnya, dan kembali memeluk Satya erat. Gadis itu mengecup pelipis Satya dengan sayang.

__ADS_1


Lalu setelahnya, ia mulai menyusul Satya menuju alam mimpi.


__ADS_2