Aleya

Aleya
Chapter 40


__ADS_3

Aleya menggeliat saat merasakan cahaya menembus retinanya. Gadis itu menguap dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya.


Diliriknya pinggangnya yang di peluk erat oleh sosok pria dibelakangnya. Padahala semalam, Aleya lah yang memeluk Satya, tapi kenapa paginya malah berubah posisi?.


Pipi Aleya bersemu merah saat melihat perut sixpack dan roti sobek yang berada di depan matanya. Ia ingat betul bagaimana nekatnya ia membuka pakaiannya dan pakaian Satya lalu tertidur dengan tanpa pakaian atasan. Beruntunglah Satya tak menerkamnya saat itu juga. Jika ia, maka dipastikan pagi ini Aleya taka akan dapat berjalan dengan normal.


Aleya melepaskan pelukan Satya di pinggangnya dengan perlahan karena tak ingin membangunkan pria yang sedang tertidur pulas itu.


Aleya mengecup pelipis Satya sekilas, ia tersenyum tipis sambil mengelus rahangnya lembut.


"Good morning sunshine". Ucap Aleya.


Perlahan, Aleya menyibak selimut yang menutupi tubuh merak dan kembali memakai pakaiannya yang berada di lantai. Jika ada orang yang memasuki kamarnya dan melihat pakaiannya dan pakaian Satya berserakan, sudah di pastikan orang itu akan berpikir yang tidak-tidak. Beruntung Aleya tak pernah lupa mengunci pintu kamar mereka jika sedang berduaan dengan Satya.


Gadis itu menuruni ranjang dan menaiki selimut Satya hingga sebatas leher. Ia menempelkan telapak tangannya ke kening Satya. Merasa suhu Satya sudah kembali normal, gadis itu tersenyum tipis.


Aleya beranjak untuk membuka gorden kamarnya agar cahaya matahari bisa masuk kedalamnya.

__ADS_1


Merasa cahaya masuk retina matanya, Satya menggeliat tak nyaman. Pria itu menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.


"Aleya, silau". Rengeknya.


Aleya menggelengkan kepalanya pelan, lalu berjalan menghampiri Satya. Gadis itu membuka selimut yang menutupi kepala Satya.


"Kamu istirahat dulu aja, aku mau siap-siap berangkat sekolah. Hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu sampe kamu bener-bener sembuh". Ujar Aleya.


Satya membuka matanya dan menatap Aleya dengan wajah ditekuk.


"Jadi kamu mau ninggalin aku sendirian gitu?". Tanyanya tak suka.


Satya kembali menekuk wajahnya dan menarik selimut untuk menutupi kepalanya.


"Ngambek?". Tanya Aleya sambil memutar bola matanya malas.


Aleya menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Satya. Lalu setelahnya gadis itu mengecup bibir Satya sekilas.

__ADS_1


"Istirahat, aku gak mau kamu sakit lagi". Ujarnya. Lalu setelahnya, gadis itu beranjak meninggalkan Satya yang tengah mesem-mesem tak jelas. Rona merah terlihat jelas menguar di pipinya walaupun samar.


Pria itu menggigit bibirnya, salah tingkah dengan sikap manis Aleya. Satya menghentak-hentakkan kakinya sambil meremas selimutnya gemas.


"Ah baper, istri gue bisa aja". Gumamnya sambil kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aleya yang awalnya hendak menyiapkan sarapan untuk Aleya, sedikit terkejut kala melihat kedua orang tuanya sudah berada di bawah sambil sesekali mengobrol.


Gadis itu mendekati kedua orang tuanya dengan raut bingung. Bagaimana bisa mereka pagi-pagi seperti ini sudah berada di apartemennya? Apakah meraka tak ada kerjaan lain selain menebar kemesraan dirumah orang?


"Mi, pih. Kok tumben pagi-pagi udah ada disini?". Tanya Aleya bingung.


"Kita mau jenguk mantu kesayangan mami. Mami denger, Satya sakit. Bener Aleya?". Tanya Nindi


Aleya mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Iya Satya sakit, tapi sekarang udah sembuh, cuman aku larang dia buat sekolah dulu". Ujar Aleya.


"Yaudah, betar lagi abang kamu kesini. Mami suruh dia buat nemenin Satya". Sahut Nindi


__ADS_2