
Langit semakin menggelap, membuat suasana terasa semakin mencekam. Namun itu semua tak berpengaruh bagi dua insan yang sedang berada di bawah awan mendung di malam hari, dengan sepi yang menyelimuti.
Suasana semakin mencekam kala mereka berdua sama-sama enggan membuka percakapan, hanya tatapan datar dan kosong yang mereka pasang di wajah mereka yang muram.
Aleya dan Satya.
Seusai perdebatan yang di akhiri lontaran kalimat mengejutkan dari mami Aleya, mereka berdua pamit untuk menenangkan pikiran mereka yang rasanya semakin kusut kala mendengar ide konyol yang di lontarkan kedua orang tua mereka.
Mereka benar-benar tak habis pikir, di usia mereka yang seumur jangung, bisa-bisanya orang tua mereka berniat menjodohkan kedua anaknya hanya karena insiden salah paham itu.
Entahlah, mereka tak tahu siapa yang patut di salahkan atas hal ini. Pak Candra karena dugaannya, atau orang tua mereka karena keputusannya?. Memikirkannya saja membuat mereka berdua semakin gusar karenanya.
Desiran angin yang menerpa lengan Aleya membuat gadis itu mendesis pelan.
Satya menoleh dengan wajah datar, lalu kembali menatap depan tanpa mempedulikan gadis yang kedinginan di sebelahnya.
Satya benar-benar bingung atas situasi yang di hadapinnya sekarang, ia ingin marah dan melampiaskan semua kekesalannya, namun waktunya tak tepat.
Bisa-bisa ia kena damprat oleh papahnya karena meninggalkan pertemuan penting seperti ini. Sejujurnya Satya tak tahu seperti apa perasaannya pada Aleya.
__ADS_1
Mendengar bahwa dirinya dijodohkan dengan gadis di sebelahnya, entah mengapa Satya sedikit senang, namun dirinya juga marah. Marah karena kedua orang tuanya mengambil keputusan tanpa membicarakan semuanya pada dirinya terlebih dahulu.
Jika nanti ia dan Aleya menikah, apa yang akan dirinya berikan pada Aleya? Walaupun Satya adalah anak orang kaya, tapi pria itu tak mau menafkahi keluarganya menggunakan uang orang tuanya.
Aleya adalah tanggung jawabnya, dan seharusnya dirinyalah yang menafkahi Aleya, dengan usahanya sendiri.
Menyadari bahwa pikirannya semakin melenceng jauh, Satya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas gusar.
Aleya menatap Satya dengan alis terangkat sebelah, lalu kembali menatap ke depan sambil sesekali mengusap lengannya.
Satya berdehem. ia sudah bosan dengan keheningan yang melanda dirinya dan Aleya.
Bukan tanpa sebab Satya berkata demikian, itu karena mamanya yang malah berteriak "setuju" saat mendengar usulan dari Nindi, mami Aleya.
Sepertinya, ini semua memang rencana kedua perempuan paruh baya itu. Mereka menjodohkan Satya dan Aleya dengan alasan agar keluarga mereka semakin dekat. Namun bukan begini caranya.
Satya kembali berdehem. Namun nihil, tetap tak ada jawaban dari Aleya. Gadis itu masih saja diam seribu bahasa.
"Aleya". Panggil Satya.
__ADS_1
Aleya menoleh dan tersenyum tipis, membuat rasa bersalah di hati Satya kembali mencuat. Jujur saja, Satya merasa tak enak hati, Aleya yang biasanya ceria dan nyebelin, mendadak menjadi terdiam seperti ini hanya karena rencana konyol dari kedua orang tuanya.
"Gue bakal nolak perjodohan ini demi lo". Ucap Satya penuh kehati-hatian.
"Gak perlu Sat, gue bakal nerima perjodohan ini, gue sayang sama mami gue, gue gak mau nyusahin mami sama sikap gue yang manja, gue harus ngelakuin sesuatu buat bikin mami bahagia. Salah satunya dengan nerima perjodohan ini". Ucap Aleya sambil mengalihkan perhatiannya dari Satya.
"Tapi lo gak cinta sama gue, gue juga demikian. Hubungan diawali tanpa cinta gak bakal berakhir bahagia Le, itu bakal sulit buat di jalani". Satya menatap Aleya lekat.
Jantung Aleya berdegup kencang saat netra hitam milik Satya menatapnya dalam. Aleya tahu Satya menyuruhnya untuk memikirkan ini semua dengan matang. Tapi melihat ke antusiasan maminya, membuat Aleya semakin yakin bahwa menerima perjodohan ini adalah yang terbaik bagi kebahagiaan maminya.
"Cinta tumbuh karena terbiasa". Ucap Aleya lalu berdiri meninggalkan Satya yang termenung mencerna perkataan yang Aleya lontarkan.
Satya mengerjakan matanya beberapa kali.
Ini maksudnya Aleya bakal belajar buat suka sama gue gitu?. Batin Satya bertanya-tanya.
Satya menggelengkan kepalanya lalu berdiri menyusul Aleya kedalam.
...****************...
__ADS_1
Next:)