Aleya

Aleya
Chapter 49


__ADS_3

Lima bulan sudah berlalu. Satya tiba di sekolah dengan wajah murung. Sudah lima bulan Aleya koma namun gadis itu tak kunjung terbangun, membuat Satya uring-uringan di buatnya.


Selama Aleya dirawat, Pria itu selalu setia menemani istrinya, berharap gadis itu terbangun dari tidurnya. Bahkan Satya sampai rela bolos sekolah hanya untuk menemani Aleya yang terlelap dalam tidurnya.


Namun pagi ini, Pria itu di paksa oleh sang Mama tercinta untuk berangkat ke sekolah. Satya sudah menolaknya dan bersikeras untuk tetap di rumah sakit untuk menjaga Aleya. Namun Mamanya yang keras kepala itu terus menerus memaksanya dengan alasan tak ingin memiliki anak yang malas katanya.


Mau tak mau, Satya terpaksa harus berangkat sekolah karena paksaan Mamanya. Sedari menginjakkan kaki di depan gerbang sampai tiba di depan kelas, Satya terus memasang wajah kusut dengan mata tajam yang menatap tak suka ke semua orang. Membuat siswa-siswi yang berpapasan dengannya, enggan menyapa.


Di dalam kelas pun pria itu langsung menelungkupkan kepalanya di dalam tasnya, menyentak siapapun yang mengganggunya saat ini. Demi apapun, dia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Aleya hanya untuk memastikan keadaan istrinya itu.


Baru saja hendak memejamkan matanya, Satya dikejutkan oleh pekikan yang sangat familiar di telinganya. Siapa lagi kalo bukan siang biang onar Restu, sahabatnya yang sangat menjengkelkan.


Sebenarnya Satya enggan mengakui Restu sebagai sahabatnya. Restu terlalu mencolok jika berkumpul dengan dia dan ketiga sahabatnya. Dimana, Restu layaknya seorang kenek angkot yang memanggil penumpangnya.


"WOI SAT KUSUT BANGET TUH MUKA, SENYUM NAPA MASIH PAGI JUGA INI". Teriak Restu membuat Satya langsung mendongak dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Jangan ganggu gue, pergi sana lo!". Usir Satya sambil kembali memasukan kepalanya dalam tas.


"Gimana keadaan Aleya?". Tanya Arya sambil meletakkan tas nya di bangku miliknya.


"Masih belum mau bangun". Jawab Satya singkat.


"Nanti gue, Restu, Bima sama Tari bakal mampir kesana buat ngelihat keadaan Aleya". Sambungnya yang tak di jawab oleh Satya.


"Udah Sat, Aleya pasti bangun kok". Ujar Restu, mencoba menenangkan Satya yang tengah diselimuti rasa khawatir.


Dengan perasaan tak karuan, Satya mengangkat panggilan itu sambil terus berdoa semoga Mamanya menelpon mau ngasih kabar yang baik bukan kabar buruk.


"Sat, Aleya udah bangun".


Tut.

__ADS_1


Satya langsung mematikan sambungan telponnya dan bergegas pergi keluar kelas.


"Al, titip absen". Teriaknya Saat mulai menjauh.


"Anak pemilik sekolah mah bebas". Ucap Restu kesal yang tentu tak di dengar Satya.


Pria itu berlari ke arah parkiran, mengabaikan tatapan bingung dari teman-temannya. Ia langsung mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.


Ia akan bertemu dengan Aleya, istri tercintanya. Namun disisi lain, ia takut Aleya akan marah dan membencinya karena perlakuan kasarnya berapa bulan yang lalu.


Tak butuh waktu lama, Satya segera memarkirkan motornya di depan rumah sakit tempat Aleya di rawat.


Pria itu langsung berlalu masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya yang di penuhi dengan keringat, rambutnya yang berantakan, serta kerah seragamnya yang terbuka, membuat beberapa penghuni rumah sakit terpaku ke arahnya.


Satya tak menghiraukan pekikan tertahan dari beberapa suster dan pengunjung yang melihatnya tadi. Yang di pikirannya saat ini hanyalah Aleya.

__ADS_1


Sesampainya di depan ruangan Aleya, ia menoleh sejenak ke arah orang tuanya dan mertuanya yang sedang menunggu di luar. Mami Aleya mengangguk, mempersilakan Satya untuk masuk menjenguk putrinya.


__ADS_2