Aleya

Aleya
Chapter 26


__ADS_3

Aleya kembali melanjutkan langkahnya. Hingga ia merasa tubuhnya mulai melemah, kepalanya berkunang-kunang, lengan dan kakinya semakin terasa sakit.


Aleya jatuh dipelukan seseorang. Aleya seperti mengenal aroma khas seseorang yang memeluknya. Bahkan pelukannya tak asing bagi Aleya.


Sayup-sayup ia mendengar suara serak seseorang yang menjerit memanggil namanya.


"Dhani". Lirih Aleya, perlahan semuanya mulai menggelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aleya mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan cahaya lampu menyorot ke arahnya. Ia membuka matanya perlahan, dan seketika pandangannya beralih pada ruangan bernuansa putih dan hitam. Aroma maskulin yang khas, menyeruak di indera penciumannya.


Aleya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia baru menyadari jika dirinya berada di kamar seseorang pria.


Sekilas memori tentang kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri, berputar di kepalanya. Ia baru ingat, pria yang menolongnya tadi adalah Dhani. Temannya saat masih TK.


Aleya menurunkan kakinya yang terbalut perban perlahan-lahan hingga telapak kakinya menapaki lantai yang dingin. Ia juga baru sadar jika luka di kaki dan lengannya sudah di obati dan di perban. Juga dengan pakaian seragamnya yang sudah berganti kaos hitam polos.


Tunggu


Pakaiannya berganti?.


Oh god. Apakah Dhani yang menggantikannya? Jika ia, bolehkan Aleya menghilang dari sini sekarang.


Baru saja hendak melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, seseorang terlebih dahulu membuka pintu itu membuat Aleya menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


Terlihat Dhani dengan kaos putih polos dan celana jeans panjang yang melekat di tubuhnya, datang dengan membawa segelas susu coklat ditangannya.


"Eh Aleya, udah bangun? Syukur deh kalo gitu". Ucapnya.


Aleya tak menjawab perkataan Dhani. Gadis itu masih berusah mencerna semuanya dengan wajah bingungnya, membuat Dhani tak tahan mencubit kedua pipi Aleya dengan gemas.


Dhani menyerahkan segelas susu coklat di tangannya ke Aleya, namun gadi itu masih bingung dan tak merespon tindakan Dhani.


Karena tak mendapatkan respon dari Aleya, Dhani pun menghembuskan napasnya dan meletakan segelas susu itu di samping ranjang.


"Hei, lengan sama kaki lo masih sakit?". Tanyanya.


Aleya mengerjab lalu menggelengkan kakinya. Hening beberapa saat, hingga pertanyaan Aleya memecahkan keheningan.


"Dhan, lo kapan balik dari London?". Tanya Aleya pada Dhani.


Muhammad Ramdhani Abigail. Adalah sahabat Aleya sewaktu masih TK. Aleya adalah tipe gadis yang susah bergaul, dia berteman dengan Dhani juga karena pria itu sksd saat pertama kali bertemu dengannya dulu.


Aleya bukan seperti gadis kebanyakan yang lebih memilih berteman dengan sejenisnya. Karena bagi Aleya, kebanyakan seperti mereka itu bermuka dua. Pas sama sih B ngomongin sih A, sedangkan pas sama sih A malah ngomongin sih B. Jelas Aleya tak suka dengan pertemanan yang seperti itu.


Memang tak semua, tapi 70% dari mereka memang hanya saling memaafkan.


Lima tahun selalu bersama dengan Dhani, membuat Aleya tahu seluk-beluk kehidupan pria di sampingnya ini.


Dhani pindah ke London saat itu baru kelas empat SD. Dhani memilih pindah ke London karena pada saat itu dia baru kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi. Karena tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan Dhani memutuskan untuk tinggal di London bersama abangnya disana.

__ADS_1


"Susunya jangan lupa diminum". Ucap Dhani sambil menyenggol lengan Aleya yang melamun. Aleya yang tersentak pun hanya bergumam tak jelas.


Saat Dhani hendak beranjak dari tempatnya, Aleya menahan pergelangan tangan pria itu dan menatap Dhani dengan wajah yang memerah.


"Kenapa lo?". Tanya Dhani.


" Lo yang gantiin baju gue?". Citit Aleya.


Dhani tergelak mendengar pertanyaan Aleya. Lalu dengan tak berperasaannya, ia menjitak kening Aleya, membuat gadis itu mengaduh sambil mengusap keningnya.


"Ya enggaklah bego, bibi yang gantiin". Ucap Dhani dengan kekehan yang tak kunjung surut.


"Udah ah gue mau keluar". Dhani pun melanjutkan langkahnya kelur kamar.


Saat berada di ambang pintu, pria itu berhenti sejenak kemudian berbalik menghadap Aleya.


"Gue udah hubungin bang Aldo, sebentar lagi dia kesini". Ujarnya, lalu setelahnya pria itu benar-benar meninggalkan Aleya yang sedang mencerna ucapannya.


Aldo akan kesini menyusulnya?


Mampus!


Sepertinya Aleya harus menebalkan telinganya agar kuat mendengar kultum dari abang keduanya itu.


......................

__ADS_1


Next lanjut ke bab selanjutnya:)


__ADS_2