
Azam membantu Aleya ketampat tidur nya, kakinya masih terasa sakit jika dibawa berjalan. Laki-laki bertubuh sempurna itu membentu Aleya duduk di atas kasur.
"Kakimu masih sakit?"
"Sedikit Oom"
"Nama mu siapa?"
"Kan tadi kita sudah kenalan Oom. Masa lupa nama Lea"
Azam tersenyum.Dia bukannya lupa, hanya saja tak tahu harus berbuat apa disaat begini, menghadapi seorang anak kecil, anak dari perempuan yang pernah dia sayang.
"Kamu anak Tata?"
"Ya"
Nyeeeeessss.... Rasa hati Azam seperti disiram air es sebukit, dingin melumeri seluruh hatinya. Dipandangnya anak itu lekat-lekat, dia mirip sekali dengan Tata. Namun entah kenapa Tata selalu melakukan sarkas pada anak tak bedosa itu.
"Berapa umurmu Aleya?"
"Enam tahun Oom?"
Enam tahun. Anak ini mengingatkan kembali saat dia kehilangan cinta nya delapan tahun lalu. Kehilangan perempuan yang sangat disayanginya. Sejak saat itu Azam yang kini sudah berusia dua puluh enam tahun menutup diri dari perempuan manapun.
__ADS_1
Dan sekarang penantiannya seolah berbuah harapan. Perempuan yang dahulu pernah dia cintai kini datang lagi.
"Papa mu kemana, Sayang?", tanya Azam
Aleya diam. Matanya mengisyaratkan kesedihan hatinya.
"Lea tidak pernah ketemu Papi. Mami bilang Papi sudah tiada"
"Maaf ya, Sayang. Oiya... Kamu tidur saja. Biar Oom temani ya sampai kamu tidur"
Aleya mengangukkan kepalanya. Azam menemani gadis kecil itu sampai tertidur pulas. Lalu dia keluar dan menutup pintu kamarnya pelan-pelan.
"Buat apa lagi kamu kemari. Dan buat apa kamu urus anak pembawa sial itu", bentak Tata
"Pelankan suaramu, Ta. Kamu bisa membangunkan Aleya kalau begitu. Kasihan dia"
"Tapi dia anak kandung mu, Tata. Darah dagingmu!"
"Anak yang tidak aku inginkan"
"Tata...!!"
Tata diam dan memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Azam. Dia tak ingin menatap wajah laki-laki yang pernah dia sayang itu. Dia bukan lagi tak sayang pada pemuda itu, tapi hatinya malu, malu terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tata, dengarkan aku. Apapun yang terjadi, anak itu tidak bersalah. Anak itu tidak berhak menanggung kebencian dari mu. Apa kamu tak bisa sedikit saja menyayangi darah dagingmu sendiri. Dia butuh kamu, Tata. Dia butuh ibunya"
"Aku tahu kamu membenci suamimu, tapi dia tak berhak menerima perlakuan buruk darimu. Dia tidak berdosa. Jadi aku mohon, jangan lagi kamu mengabaikan dia. Apalagi sampai menyiksanya seperti tadi. Aku tak tega melihat anak sekecil itu merintih kesakitan menanggung siksaan dari ibu kandungnya", tambah Azam.
"Kamu tak mengerti perasaanku, Zam. Kamu tak mengerti luka batin yang aku alami. Rasa tertekan yang aku alami. Aku harus berjuang seorang diri di negara asing. Dan tak ada seorangpun yang perduli padaku, tidak juga bapak"
Tata mulai angkat bicara. Airmatanya mulai mengalir di kedua pipinya. Isaknya makin membuat hati Azam teriris perih. Dia tak tahan melihat perempuan yang disayanginya itu menangis. Airmatanya membuktikan bahwa hidupnya penuh dengan tekanan dan penderitaan.
Azam mendekati Tata. Mendekat. Makin dekat. Meletakkan kedua tanganya di pipi Tata. Menghapus airmata perempuan malang itu. Membelainya lembut. Lalu menempelkan keningnya pada kening Tata. Mereka berada di jarak yang paling dekat dan lebih dekat lagi.
Azam tak dapat mengontrol hatinya. Tak dapat mengontrol perasaannya. Tak dapat mengendalikan detak jantungnya yang begitu kencang. Perlahan dia mencium bibir manis Tata, mengecupnya, lagi dan lagi. Tata hanya pasrah pada perlakuan Azam. Dia hanya memejamkan mata saat bibir Azam menghabiskan rasa manis pada bibirnya.
Azam menghentikan kegiatannya. Tangannya masih berada di kedua pipi Tata. Matanya menatap tajam pada perempuan cantik itu.
"Ta ... Aku ... Aku sayang padamu"
Lalu dia mengulangi aksinya lagi. Tapi kali ini Tata membalas perlakuan Azam. Menikmati tiap kecup yang di berikan laki-laki itu. Sampai akhirnya dia tersadar dan mendorong tubuh Azam kedepan.
"Pergilah"
"Ta ..."
"Jangan sampai orang tahu kamu berada disini bersamaku. Itu akan menghancurkan reputasi keluargamu. Pergilah...!!!"
__ADS_1
Azam hanya menarik nafas panjangnya. Dia mengambil tas ranselnya lalu pergi meninggalkan rumah itu. Tata hanya bisa menangis, menangisi dirinya yang dianggapnya kotor.
******