Aleya

Aleya
Chapter 37


__ADS_3

"Makan mie ayamnya". Ucap Satya. Membuat fokus Aleya teralih padanya.


"Hm". Dehem Aleya. Setelahnya, gadis itu kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda karena adegan drama menjijikan Tari.


"Lo gak pesen?". Tanya Tari.


Satya menatapnya sekilas, lalu menolehkan kepalanya kebelakang dan berteriak "Buk Sum, mie ayam satu lagi" Definisi malas ngantri, itulah Satya.


Aleya mengernyit saat Satya menyodorkan mie ayam putih itu ke hadapannya. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya, pertanda bingung dengan sikap Satya.


"Suapin". Ucap Satya singkat.


Aleya memutar bola matanya malas. Namun, tetap menuruti permintaan Satya. Ia menyuapi Satya dengan telaten, membuat dua curut yang sedari tadi diam hanya bisa menghela nafas kasar. Nasib punya pacar beda sekolah.


Selang beberapa menit, mie ayam bening pesanan Satya sudah tersaji di depan matanya. Satya memang tak terlalu suka dengan kecap. Bahkan ketika membeli makanan yang ada kecapnya Satya selalu meminta tidak usah di pakai kecapnya. Hanya mie pucat dengan ayam dan sayur di mangkuknya.

__ADS_1


Dasar manja. Batin Aleya.


Gadis itu cukup kesal dengan perubahan sikap suaminya. Jika di sekolah, Satya berubah menjadi pria yang cuek dan datar, enggan berinteraksi dengan siswa lainnya kecuali dengan keempat sahabatnya.


Namun jika dirumah, pria itu akan berubah menjadi manja boy, protektif, posesif, bucin, sensitif, dan macam-macam lainnya.


"Nanti mami, mama, dan si kembar bakal nginep di apartemen". Ujar Satya sambil mengambil jus jeruk milik Aleya, lalu meneguk nya hingga habis. Membuat gadis itu menatapnya tak suka.


"Kok lo gak bilang?". Tanya Aleya sambil mengelap sudut bibir Satya dengan tissue.


"Aleya" Gumam Satya tak suka.


"Dalah males gue, gue mau masuk ke kelas aja! Males gue jadi obat nyamuk kalian". Ucap ketus Bima lalu setelahnya, pria itu melenggang pergi diikuti ketiga sahabatnya.


Tari yang tak bebas bermesraan dengan Arya pun, ikut mengajak pria itu untuk pergi dari kantin. Arya menurut tanpa banyak bicara, pria itu menggandeng tangan Tari dan membawanya keluar.

__ADS_1


Satya menggeser duduknya hingga tepat berada di samping Aleya. Pria itu menelungkupkan wajahnya di kedua lipatan tangannya. Ia berusaha memejamkan kedua matanya, menetralisir rasa sakit di kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Sat?". Panggil Aleya yang melihat Satya merasa kurang semangat, menyentuh lengan pria itu untuk memastikan kondisinya.


Satya hanya berdehem tanpa berniat menjawab.


Aleya yang mulai meras aneh pun menempelkan telapak tangannya ke pipi dan dahi Satya. Gadis itu membulatkan matanya saat merasakan suhu panas dari tubuh Satya.


"Astaga Sat, lo sakit?". Tanya Aleya khawatir.


Satya tak menjawab. Pria itu menarik tangan Aleya yang berada di dahinya, dan menggenggamnya erat, menyalurkan rasa panas di tubuhnya.


Aleya semakin kelabakan saat melihat Satya sayup-sayup memejamkan matanya. Gadis itu dengan cepat merogoh ponselnya dan meminta bantuan kepada Aldi dan Bima untuk membantu membawa Satya pulang ke rumah.


Tak lama, kedua sahabat Satya itu datang dengan Aldi membawa tak Satya dan Bima yang membantu Aleya kenapah Satya.

__ADS_1


"Al, lo tolong bawak sepeda gue yah, sama nanti habis pulang sekolah tolong lo anterin motor Satya ke apart, lo gak bawak motor kan?". Ucap Aleya mintak tolong ke Aldi yang dibalas anggukan kepala oleh Aldi. Mereka pun pergi meninggalkan halaman sekolah, dengan Aldi membuntuti dari belakang.


__ADS_2