Aleya

Aleya
Chapter 42


__ADS_3

Dibawah teriaknya matahari, seorang gadis berpakaian seragam batik abu-abu tengah duduk disamping sepedanya sambil menggerutu.


Bel tanda pulang sekolah sudah berdering sejak 20 menit yang lalu, sekolah pun sudah sepi hanya tinggal beberapa guru saja. Namun sialnya, saat baru saja melajukan sepedanya, gadis yang tak lain adalah Aleya, tak bisa melanjutkan perjalanannya karena ban sepedanya bocor.


Sedari tadi yang di lakukannya hanyalah menendang ban sepeda gunung listriknya sambil sesekali menggerutu. Keadaan sekolah yang sepi membuat dirinya tak bisa meminta bantuan dari teman-temannya.


Aleya mengehela nafas kasar, ia mendaratkan bokongnya disamping sepeda gunung listriknya. Gadis itu memangku wajahnya dengan satu tangan. Meratapi nasibnya bagaimana dia mau pulang jika sepeda gunung listriknya pecah ban. Jarak sekolahnya dengan apartemen emang lumayan deket tapi dia tidak sanggup jalan di bawah cuaca matahari yang panas banget ini.


Saat hendak melamun, ia dikejutkan dengan suara tawa seorang pria, ah tidak lima orang pria. Juga suara isak tangis seorang gadis.


Aleya sontak berdiri dari duduknya, dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Netranya terpaku pada seorang gadis cupu yang tengah di ganggu oleh lima orang preman.


Aleya menghela nafas lelah, musibahnya sela saja muncul. Sudah tak bisa pulang, dan sekarang harus dihadapkan dengan gadis cupu yang tengah diganggu preman. Mau tak mau Aleya pun harus membantu gadis itu, merepotkan saja pikirnya.


Aleya berjalan mendekati mereka yang masih asik dengan gadis cupu itu. Gadis itu menghela nafas lelah dengan tangan yang berada di pinggangnya.


"Woi gondrong jarang shampo". Teriak Aleya.


Lima preman yang tengah asik mengganggu gadis cupu itu pun berbalik saat mendengar Aleya berteriak di belakang mereka.

__ADS_1


"Songong banget nih cewek". Ujar salah satu dari mereka.


Aleya melirik ke arah gadis cupu itu yang tengah menunduk menahan tangis, jika itu dilihat lebih jelas, baju seragam gadis itu persis seperti baju miliknya. Sudah dipastikan dia pasti bersekolah di tempat yang sama dengannya.


"Eh gondrong, mending lo lepasin dia deh drong, berani kok sama cewek sih!, cupu banget". Ucap Aleya, membuat emosi lima preman itu tersulut.


Tanpa aba-aba lima preman itu segera melayangkan pukulannya ke arah Aleya. Beruntung gadis itu segera mengelak, jika tidak, sudah dipastikan wajahnya akan berwarna ungu kebiruan.


Aleya mulai melayangkan pukulan demi pukulan ke arah lima preman itu, dan sesekali gadis itu menghindar. Membuat lima preman itu kewalahan karena kegesitan Aleya.


Satu preman sudah berhasil ia tumbangkan, tinggal empat preman lagi. Dan itu yang paling sulit karena badannya yang sangat besar dan juga tenaganya yang tak kunjung melemah.


Baru saja salah satu preman itu hendak melayangkan pukulannya, preman itu lebih dulu ambruk dan pingsan tepat sebelum pukulannya mengenai pipi Aleya.


Aleya menyeka keringatnya, ia menoleh pada gadis cupu yang tengah memegang kayu di tangannya. Aleya tersenyum tipis sambil menggumamkan kata "Terima kasih" pada gadis itu.


Gadis itu mendekat ke arah Aleya dengan kepala yang terus menunduk.


"Ma-makasih kak Aleya". Ucapnya kikuk.

__ADS_1


"Lo, kenal gue?". Tanya Aleya sambil kembali mengambil tasnya.


"I-iya, kamu kan satu-satunya cewek yang berani dengan kak Angel dan sering berantem sama kak Satya". Jawab gadis itu.


"Kenapa juga harus takut? Btw nama lo siapa?".


"Din-dinda kak".


Aleya mengerutkan keningnya saat mendengar nama yang tak asing.


"Lo adik kelas gue yang sering menang olimpiade itu kan?". Tanya Aleya dengan tangan yang bersedekap dan mulut yang mengunyah permen kaki.


Gadis bernama Dinda itu menganggukan kepalanya singkat. Ia mengulurkan tangannya ke arah Aleya yang dijabat langsung oleh Aleya.


"Sekali lagi terima kasih kak udah mau nolongin aku". Ucapnya sebelum berlalu meninggalkan


Aleya yang tengah menggelengkan kepalanya.


Apakah semua gadis pintar memang berpenampilan cupu? dan bersikap lugu? Padahal menurutnya Dinda itu gadis baik, tapi sikap lugunya yang sering kali membuatnya menjadi bahan bullyian di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2