
Drettt drettt
Dering alarm yang berbunyi nyaring, tak dihiraukan oleh sang empu. Aleya tetap tergeletak bak mayat hidup diatas ranjangnya. Mulutnya terbuka setengah, kepalanya berada di pinggir ranjang, sedangkan kakinya menggelantung di dinding ranjangnya. Dan jangan lupakan guling, bantal, serta selimut yang sudah berserakan di atas lantai kamarnya.
Aleya benar-benar tergeletak seperti gembel yang terkena tembakan. Padahal, semalam gadis itu mengeluh tak bisa tidur sama sekali. Ia tak mengidap insomnia atau penyakit apapun. Tetapi masalah perjodohan semalam itu yang membuatnya tak bisa tidur.
Lalu, apa sekarang gadis yang mengeluh tak bisa tidur itu tergeletak tak berdaya seperti orang mati. Membuat siapapun yang melihatnya pasti akan geleng-geleng kepala.
Ini memang sudah kebiasaan Aleya saat tidur. Gadis itu akan bergerak kesana kemari tak bisa diam. Posisi yang awalnya kepala berada diatas, paginya akan berpindah ke bawah dan tergantikan kakinya yang berada di atas.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka, memperlihatkan seorang pria tampan yang usianya lebih tua tiga tahun dari Aleya.
Aldo.
Pria itu menganga lebar melihat posisi adiknya yang tertidur pulas. Dan jangan lupakan kamar Aleya yang sangat berantakan dan berisik karena
dering alarm di meja, dan alarm di ponselnya.
__ADS_1
Benar-benar sangat berisik. Jika maminya yang berada dikamarnya Aleya akan dapat siraman rohani di pagi hari.
Aldo berjalan mendekati ranjang Aleya. Pria itu mematikan alarm yang sedari tadi berbunyi, kemudian beralih ke ponsel Aleya dan mematikan alarm yang berbunyi disana.
Aldo menurunkan kaki Aleya yang bergelantungan di dinding. Kemudian ia mengambil bantal dan selimut Aleya yang tergeletak di lantai dan meletakkannya di tempat semula. Dan sekarang saatnya ia membangunkan kebo yang menjelma menjadi adiknya.
Aldo menepuk-nepuk pipi adiknya, namun tak ada respon sama sekali. Ia beralih ke dagu Aleya dan mendorongnya ke atas agar mulut Aleya yang menganga kembali tertutup.
"Dek, woy bangun". Seru Aldo sambil mengoyang-goyangkan lengan Aleya.
Aleya yang merasa tidurnya terganggupun mengerjapkan matanya dan bergumam tak jelas.
Aldo menarik tangan adiknya agar terduduk. Aleya terduduk sambil memejamkan matanya. Gadis itu beralih menggaruk-garuk ketiaknya lalu menciumnya dan nyengir di hadapan Aldo.
"Bangun woy anak gadis jam segini masih ngebo aja". Ucap Aldo lagi sambil menarik adiknya agar turun dari ranjangnya.
"Apaan sih bang ganggu orang tidur aja". Ucap Aleya dengan mata masih terpejam.
"Yang katanya semalam gak bisa tidur, kenapa sekarang malah kayak orang abis di tembak mati?". Sindir Aldo
__ADS_1
Aleya hanya menyengir kemudian kembali menatap abangnya serius.
"Apaan, ini masih pagi ntar aja kalo mau ngajak gue adu bacot". Ucap Aleya malas.
Aldo menghela napas sabar. Ia memang harus extra sabar menghadapi tingkah laku adiknya yang kelewatan luar biasa.
Aldo memegang kedua pundak Aleya lalu menatap adiknya dan beralih menatap jam alarm di sampingnya.
Aleya ikut menatap jam alarm di nakas dan seketika matanya membola.
"OMG!". Pekik Aleya yang kemudian teredam karena Aldo membekap mulutnya.
"Bisa gak gausah jerit-jerit, sekarang lo mandi, siap-siap karena sekarang sudah jam 08.00, kasian Satya dari tadi nungguin lo di bawah. Paham?". Tanya Aldo.
Aleya tak menghiraukan ocehan abangnya, gadis itu segera beranjak mengambil handuk lalu setelahnya ngacir ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Selang berap menit, Aleya teringat akan ucapan abangnya tadi.
Satya berada di bawah sedang menunggunya.
"YA ALLAH". Teriak Aleya.
__ADS_1
......................
Next:)