
"Stt, kamu itu emosian banget sih". Cibir Aleya sambil mengeratkan pelukannya pada Satya.
Kedua pasangan itu beranjak masuk ke dalam gedung apartemen, dengan Satya yang masih bergelantungan di leher Aleya.
"Sat, lepas dulu aku mau ganti baju". Ucap Aleya saat mereka berdua sudah sampai di dalam kamar mereka.
Karena Satya tak kunjung melepaskan pelukannya, Aleya dengan kasar menyentak tangan Satya hingga pelukan pria itu terlepas dari lehernya.
Ia sungguh lelah, sudah melawan lima preman tadi, sekarang harus di hadapi dengan sifat Satya yang menyebalkan.
Aleya beranjak mendekati lemari lalu mengambil beberapa pakaian dan melenggang masuk ke kamar mandi.
Selang 10 menit, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Ia mulai merapikan meja belajarnya, meletakkan buku-buku yang di bawaknya hari ini kembali ke tempat semula.
Gerakannya terhenti saat mendengar suara isakan yang tak asing di telinganya. Ia pun menoleh ke kasur, mendapati Satya tengah meringkuk di bawah selimut dengan isakan yang tak kunjung berhenti.
Aleya menghela nafas lelah, ia berjalan mendekati ranjang lalu dengan sekuat tenaga menarik selimut yang menutupi tubuh Satya hingga terbuka.
"Sat". Panggil Aleya.
Satya tak kunjung mengubah posisinya. Pria itu masih setia meringkuk membelakangi Aleya.
"Yaudah aku tinggal aja". Saat Aleya hendak beranjak, gadis itu merasa pinggangnya ditarik hingga ia kembali terduduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Al-leya jahat". Ujar Satya sesenggukan.
"Aku sakit malah jalan sama cowok lain, udah gitu kasar banget lagi". Sambungnya dengan isakan yang tak kunjung berhenti.
"Kapan aku kasar?". Tanya Aleya bingung.
"Tadi itu apa". Jawab Satya.
Tangannya memeluk pinggang Aleya erat sambil menelungkup kepalanya di ceruk leher Aleya.
"Aku mau di peluk malah di sentak, jahat". Ujarnya.
"Udah dong jangan nangis lagi, kan tadi aku mau ganti baju tapi kamu tetap gelendotan, yaudah aku sentak. Maaf ya". Aleya membalas pelukan Satya sambil mengusap punggungnya lembut.
Aleya mengangguk sambil mengecup pelipis Aleya singkat.
Satya beranjak mengubah posisinya menjadi duduk di pangkuan Aleya. Pria itu kembali memeluk pinggang Aleya dan menyandarkan kepalanya di dada Aleya.
Ini adalah posisi yang paling Satya sukai, ia merasa tenang saat mendengar detak jantung Aleya yang tak beraturan.
Pria itu mendongakkan kepalanya menatap Aleya. Seketika, tangisnya kembali membuncah, membuat Aleya panik dibuatnya.
"Kenapa?". Tanya Aleya.
__ADS_1
"Ini kok lebam?". Tanya Satya sambil sesenggukan.
"Oh, ini habis kena pukul preman tadi". Sahut Aleya santai.
"Aleyaaa. Maafin aku hiks, pasti sakit ya. Ma-maaf". Ujar Satya, tangisnya semakin mengencang membuat Aleya dengan sigap memeluknya dan memenangkannya.
"Stt, udah jangan nangis. Aku gak papa kok". Ujar Aleya sambil mengelus-ngelus pinggang Satya.
"Masih pusing gak?". Tanya Aleya.
Satya menggeleng, ia semakin menenggelamkan kepalanya ke dada Aleya, membuat gadis itu menggigit bibirnya tak nyaman.
"Aleya ngantuk". Rengek Satya. Matanya sayup-sayup hendak menutup.
Aleya yang paham pun mulai mengusap punggung Satya dengan lembut. Ia mengecup kening Satya beberapa kali, membuat pria itu semakin mengantuk.
"Aleya jangan pergi atau pulang sama cowok lagi ya". Gumamnya dengan mata yang perlahan menutup.
"Iya, Sat".
"Jangan kasar juga ya".
"Hm"
__ADS_1
"Sayang Aleya". Setelahnya, sudah tak ada lagi percakapan di antara keduanya. Hanya terdengar deru nafas Satya yang teratur. Pria itu mulai memasuki alam mimpi dengan membawa Aleya ke dalamnya.