Aleya

Aleya
Chapter 28


__ADS_3

+62895XXXXXX


[Location]


Bang, Aleya ada disini! Gue Dhani.


Aldo mengernyitkan dahinya, berusaha mengingat nama yang tak asing di telinganya. Ia menganggukan kepalanya beberapa kali setelah dirinya tahau siapa Dhani. Satu-satunya teman Aleya sewaktu masih TK.


Aldo mulai melanjutkan mobilnya ke tempat dimana Aleya berada. Ia berulang kali mencoba menghubungi Satya juga mengirimkan lokasi tempat Aleya berada namun pesannya hanya ceklis satu. Aldo juga tak tahu dimana Satya sekarang. Padahal tadi mobil Satya masih melaju di depannya.


Aldo menghela nafas kasar lalu kembali fokus pada tujuannya mencari adiknya.


Flashback off


"Sekarang lo paham?". Tanya Aldo, mengakhiri ceritanya.


Aleya menganggukan kepalanya lemah.


"Dan sekarang gue masih gak tahu Satya dimana?". Ucapnya membuat Aleya semakin diundang rasa bersalah.


"Maaf...". Lirih Aleya.


"Minta maaf sama Satya bukan sama abang". Sahut Aldo.


"Bahkan gue sebagai abang lo kecewa waktu denger lo nolak keras pernikahan ini. Lo sendirikan yang bilang gak sudi nikah sama Satya? Lo gak tahu gimana antusiasnya mami buat nyiapin ini semua. Bahkan mami sampe kecapekan karena kelelahan". Sambung Aldo sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tak habis pikir dengan sikap childhis adiknya.


"Mama kecapekan?". Tanya Aleya khawatir. Rasa bersalahnya semakin menjadi kala mendengar orang-orang terdekatnya mengalami kesulitan hanya karena sifatnya yang kekanak-kanakan.


Aldo tak menjawab. Pria itu hanya memejamkan matanya dengan kepala yang disandarkan di sofa. Setelahnya pria itu bangkit dari duduknya dan memakai jaketnya lalu menarik tangan Aleya lembut, karena ia tahu adiknya masih terluka..

__ADS_1


"Ayo kita pulang". Ajaknya.


Aleya menurut. Lalu tak lama, Dhani muncul dengan membawa dua buah teh hangat.


"Lo udah mau pulang lo bang, gak minum dulu nih?".Tanya Dhani.


"Kelamaan lo gue udah selesai ngedongengnya, lo baru muncul". Sahut Aldo membuat Dhani terkekeh.


"Gue balik dulu ya, Dhan. Makasih udah nolongin gue dan ngobatin luka gue". Ucap Aleya sambil tersenyum tipis.


Dhani mengangguk.


Setelah dua kakak beradik itu pergi meninggalkan perkarangan rumahnya, Dhani duduk di sofa dengan pandangan lurus ke depan.


"L-lo udah mau nikah ya Al, apa gue sudah se-terlambat itu?".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldo menggandeng tangan adiknya dan membuka knpo pintu dengan perlahan. Lalu setelahnya, ia menarik tangan Aleya untuk masuk kedalam. Berjalan mengendap-endap, mencoba melindungi adiknya dari kemarahan abang tertuanya dan papinya.


"Kak gue mau ketemu mami". Ucap Aleya sambil berbisik. Jujur saja ia sedikit khawatir saat mendengar maminya jatuh sakit.


Aldo meletakkan telunjuknya di depan bibir Aleya, pertanda Aleya tak boleh berisik.


Ceklek


Mampus


Aldo yang awalnya menghadap kearah adiknya, perlahan memutar kepalanya untuk menghadap ke abang tertuanya.

__ADS_1


Bagaimana Aldo tahu jika yang menghidupkan lampu adalah abangnya? jawabannya karena Aldo hapal dengan aroma badan abangnya. Dan di belakangnya ada mami dan papi mereka.


"Aleya sayang". Nindi menghampiri putrinya dan menarik Aleya masuk kedalam pelukannya. Sungguh diluar dugaan.


"Sayang mami khawatir, kamu dari mana aja. Tadinya mami pikir kamu bakal kabur karena besok hari pernikahan kamu di adakan". Ucap maminya sambil mengelus punggung Aleya.


Tadinya sih gitu rencana awalnya tapi gak jadi. Batin Aleya


"Tapi kata abang kamu, kamu lagi nginep dirumah Tari". Sambung Nindi, membuat Aleya meringis. Pasti Aldo yang telah berbohong pada maminya.


"Yasudah kamu masuk kamar ya, istirahat besok hari pernikahan kamu". Ucap Nindi sambil tersenyum hangat.


"Bentar Mi, kata bang Aldo, mami jatuh sakit?". Tanya Aleya sambil menempelkan telapak tangannya ke kening sang mami.


"Cuman deman biasa kok sayang". Kilah Nindi.


"Yaudah gih kamu tidur sana". Sambungnya.


"Mami juga tidur ya, papi mana?".


"Papi lagi ngurus acara kamu besok, mami masuk ke kamar dulu yah, istirahat lo sayang". Ucap Nindi, Aleya mengangguk. Lalu setelahnya wanita paruh baya itu melenggang meninggalkan kakak beradik itu ke kamarnya.


Tinggalah mereka bertiga. Aleya hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap sang abang pertama.


"Ehem, abang tahu kamu gak nginep di rumah Tari, abang juga tahu kalau kamu lagi ada masalah sama Satya, Abang juga tahu kalau kalian berdua sedang bohongin orang rumah". Ucap Nando dingin.


"Setelah ini tunggu hukuman dari abang buat kalian berdua yang sudah berani-beraninya berbohong sama mami papi". Sambungnya lagi dengan suara datar. Setelah itu ia pergi dari hadapan mereka berdua.


......................

__ADS_1


Next bab selanjutnya.


__ADS_2