
Dua minggu setelah Aleya dirawat dan menjalani pengobatan di rumah sakit, gadis itu kini di perbolehkan pulang walau sebenarnya, Satya meminta agar Aleya di rawat beberapa hari lagi setelah seminggu yang lalu pria itu meminta Aleya kembali di rawat seminggu. Dengan alasan supaya sembuh total.
Aleya jelas menolak di rawat lagi. Gadis itu bahkan mendiami Satya berhari-hari, membuat pria yang berstatus suaminya itu kelimpungan bukan main.
Seperti saat ini, Satya tengah berusaha membujuk Aleya supaya tidak mendiaminya lagi. Tetapi nihil, Aleya tetap tidak mau berbicara dengan Satya.
"Ayo dong sayang, bicara jangan diem aja". Ujar Satya berusaha membujuk Aleya agar bicara kepadanya.
Aleya mengalihkan perhatiannya, enggan menatap wajah Satya. Setiap kali Satya ingin menciumnya, Aleya selalu buang muka, membuat Satya lagi-lagi menahan emosi yang memuncak dikepalanya.
Namun kesabarannya hilang saat melihat Aleya menutup mulutnya enggan merespon obrolannya.
Dengan sedikit emosi yang membuncak, Satya menarik tubuh Aleya untuk menghadapnya dan langsung mencium Aleya dengan brutal.
Ceklek
Tiba-tiba, pintu ruangan Aleya terbuka, membuat Satya kaget dan Aleya malu dibuatnya. Pria itu santak menatap pelaku yang sudah mengganggu kegiatannya.
__ADS_1
"Ups, sorry gak sengaja ngeliat". Ujarnya tak enak.
"Dok, bisa gak sih ketuk pintu dulu kalo mau masuk". Balas Satya geram. Pria itu kesal karena dokter mengganggu kegiatannya".
"Sat". Aleya menggenggam tangan Satya erat dengan pipi merah merona. Demi apapun, gadis itu merasa ingin menghilang dari bumi saat ini juga.
"Ganggu banget tahu gak". Gumam Satya kesal.
"Maaf sebelumnya, tapi saya sudah mengetuk pintu berapa kali namun tak ada sahutan sejak tadi. Terpaksa saya membuka pintunya tanpa izin". Ucap sang dokter sambil melirik Aleya dengan tatapan jahil.
"Mari saya cek kondisi kamu Aleya". Dokter tersebut melangkah mendekati Aleya sambil tersenyum jahil melakukan pengecekan ke beberapa titik tubuh Aleya.
Dokter tersebut melangkah mendekati Satya sambil memberikan sebuah kertas berisi resep obat untuk Aleya minum nanti di rumah.
"Istri anda sudah diperbolehkan pulang hari ini. Jangan lupa jika ada keluhan segera langsung konsultasi. Sesuaikan dosis obatnya dengan resep yang sudah saya berikan. Terima kasih, saya permisi". Setelahnya, dokter tersebut pamit undur diri.
"Aku udah beresin barang-barang kamu". Ujar Satya sambil memasukkan resep obat yang diberikan dokter tadi ke tasnya.
__ADS_1
"Nanti biar orang suruhan Papa yang bawa barangnya, kamu satu mobil sama aku". Ucapnya lagi sambil membantu Aleya berdiri dari duduknya.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu kesuatu tempat?". Tanya Satya.
"Mau mampir dulu ke danau terus pergi beli cilok". Jawab Aleya membuat Satya menghela nafas kasar.
"Kamu baru aja keluar dari rumah sakit honey. Masa udah mau jajan cilok aja sih?". Tanya Satya kesal.
"Ya kan apa salahnya coba? Aku beli ciloknya gak pakai cabe nanti janji deh". Ucapnya mencoba membujuk Satya.
"Gak percaya aku, kamu mah awalnya aja bilang gitu tapi pas sampai ke penjualnya kamu pasti ngerengek minta cabe". Jawab Satya kesal. Pria itu sudah hapal sekali dengan kelakuan Aleya, jika menyangkut tentang makanan pedas.
"Beneran, kali ini aku janji gak pakai cabe". Ucap Aleya mencoba meyakinkan Satya.
"Gak percaya aku. Yaudah ayo kita pergi ke danau". Satya menggandeng tangan Aleya. Pria itu memeluk pinggang Satya sambil membantunya berjalan dengan perlahan.
......................
__ADS_1
Next cerita selanjutnya:)