Aleya

Aleya
Chapter 34


__ADS_3

Pagi harinya, dua insan muda-mudi yang sudah berganti status menjadi sepasang suami istri itu tengah bersipa-siap pergi ke sekolah.


Memang tiada hari tanpa cekcok.


Bahkan keduanya masih berdebat sengit, dengan si pria yang memaksa berangkat bersama, namun si gadis yang keras kepala menolaknya.


"Kenapa sih gak mau berangkat bareng? Malu lo punya suami modelan gue?". Tanya Satya sinis.


"Lo gila! kita gak udah bikin kesepakatan sebelum nikah kalau kita gak bakal ngumbar status kita". Balas Aleya tak kalah sinis.


"Ya emang kenapa sih?! Emang nikah itu aib?". Sungut Satya.


"Lo mikir dong! Kalau satu sekolah tahu kita udah nikah, gue bakal jadi bahan bullying". Ucap Aleya sambil menunjuk dahi Satya seolah-olah menyuruh pria itu untuk berfikir resiko yang bakal Aleya dapat.


Satya yang sudah kepalang marah pun menarik tangan Aleya dan melingkarkan di lehernya. Ia mendekap erat pinggang Aleya, membuat gadis itu terdiam tak berkutik.


"Gue suami lo, Aleya". Ucap Satya serak.


Pria itu cukup kesal mendengar Aleya mengumpatinya dengan kata-kata kasar.


"Jaga kata-kata lo, jangan sekali-kali lo ngumpat di depan gue atau lo...". Satya menjeda sedikit ucapannya. Ia semakin menarik pinggang Aleya hingga tubuh keduanya benar-benar menempel.


"A-atau apa?". Tanya Aleya gugup.


Satya mendekatkan bibirnya ke telinga Aleya sambil menngelus leher gadis itu pelan.


"Atau detik ini juga, gue bakal bikin lo hamil anak gue". Ucap Satya berbisik.

__ADS_1


Suara basnya membuat Aleya menelan kasar salivanya. Gadis itu melepaskan pelukan Satya dengan hati-hati sambil menatap mata pria itu waspada.


"Gu-ge mau berangkat sendiri". Ucap Aleya sambil menunduk.


Satya menghela nafas kasar. Sekalinya keras kepala, selamanya akan tetap keras kepala.


"Yaudah". Singkat Satya.


"Seriusan?". Aleya menatap Satya dengan mata berbinar.


"Iya, tapi gue ikutin lo dari belakang". Ucap Satya sambil mengambil kunci motornya di nakas.


"Oke". Aleya menyetujuinya dengan semangat. Tak apa walau Satya membuntutinya, setidaknya ia masih bisa menaiki si jungkrik kesayangannya.


"Tapi ikut gue dulu ke rumah Mami, soalnya tadi siang bang Aldo nelpon, katanya dia mau ngasih kado pernikahan buat gue". Ucap Aleya masih dengan mata yang berbinar.


"Akh Aleya". Satya memegangi perutnya sambil meringis nyeri. Pria itu heran, ia menikahi seorang gadis atau malah menikahi kembaran bruclee.


"Udah ah, lama lo". Aleya memeluk lengan Satya dan menyeret pria itu keluar.


Satya pun hanya bisa pasrah sambil berusaha mengimbangi langkah kaki Aleya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya dirumah keluarga Aleya, sepasang suami istri itu disambut dengan ejekan yang di lantarkan oleh Aldo.


"Gimana malam pertamanya, Sat?". Tanya Aldo sambil terkekeh geli. Ia membayangkan adik perempuan jadi-jadiannya itu mengamuk sambil menendang pusaka milik Satya saat pria itu meminta haknya. Pasti seru pikirnya.

__ADS_1


"Gak dapet". Ucap Satya dengan wajah masamnya.


Hal itu sukses membuat Aldo tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Turut prihatin". Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Satya.


"Bang, Mami, Papi sama Bang Nando mana?". Tanya Aleya. Gadis itu baru saja keluar dari kamarnya.


"Mami pergi ke toko kue, kalau Papi udah berangkat ke kantor, bang Nando ada bisnis ke keluar kota". Sahut Aldo.


"ke toko kue? jam 6 pagi begini udah pergi ke toko kue?". Tanya Aleya setengah tak percaya. Pasalnya maminya tak pernah keluar rumah sepagi ini.


Aldo hanya mengendikan bahunya acuh. Pria itu pun kembali melangkah keluar rumah. Baru saja hendak membuka pintu, ia dikejutkan oleh teriakan Aleya.


"Woi, maan kado buat gue?". Tanya Aleya sambil teriak. Ia tak mempedulika Satya yang sedari tadi hanya terdiam layaknya tak dianggap keberadaannya.


"Oh iya lupa gue, ayo ke kedepan". Ajak Aldo.


Satya dan Aleya yang mendengarnya mengernyit bingung, sebesar apa kado dari Aldo sampai harus di letakkan di depan rumah?


Mereka pun mengikuti Aldo ke depan teras rumah dengan Satya yang setia memeluk pinggang Aleya erat.


"Nih, buka aja". Ucap Aldo santai sambil bersender di tiang teras.


Aleya menurut, ia membuka kain lebar berwarna hitam itu dengan perlahan. Setelah tahu apa yang berada di hadapannya, gadis itu berteriak sambil berjengkit kesenangan.


......................

__ADS_1


Next bab selanjutnya:)


__ADS_2