Aleya

Aleya
Chapter 38


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Satya, kedua sahabat Satya segera membantu memapah Satya untuk masuk ke dalam apartemennya dan membawa Satya masuk ke kamarnya.


Saat hendak membuka pintu, Aleya menahan pergerakan keduanya.


"Stop, kalian berdua dilarang masuk ke dalam kamar pengantin baru okey". Ujar Aleya, membuat Aldi dan Bima mencibir Aleya.


"Kita pulang". Ucap singkat Aldi yang dibalas anggukan kepala oleh Aleya.


Setelah kedua sahabat Satya menghilang dari balik pintu, Aleya segera membawa Satya masuk kedalam kamarnya.


Ia dengan Hati-hati membantu Satya membaringkan tubuhnya di kasur.


"Sat, ganti baju dulu gih". Ujar Aleya.


Satya menurut, pria itu berjalan lunglai ke arah lemari, mengambil beberapa potong pakaian, dan setelahnya ia masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai bajunya.


Aleya beranjak dari tempatnya, dan pergi keluar kamar untuk membuatkan Satya bubur dan menyiapkan air hangat untuk mengompresnya.


Saat baru saja tiba di dapur. Ia di kejutkan oleh sosok gadis berseragam SMP putih biru dengan cipratan darah di seragamnya, tengah berdiri di dapur memunggungi Aleya.


Aleya kelabakan, seumur hidupnya, ia tak pernah bertemu sosok makhluk halus atau semacamnya.


Gadis itu bergetar hebat, mencoba menopang dirinya agar tak jatuh pingsan.

__ADS_1


Ia mengurungkan niatnya yang hendak berteriak, saat sosok itu berbalik mengahadpnya.


"Wajah mbak Aleya kok pucet?". Tanyanya


Sontak Aleya langsung mendatarkan wajahnya saat tahu siapa yang berdiri di depannya. Siapa lagi kalau bukan adik iparnya, Salsabilah. adik kandung Satya tak kalah jahil dari abangnya.


"Baju kamu kenapa berdarah-darah gitu?, Kembaran kamu juga kemana?". Bukannya menjawab, Aleya malah balik bertanya.


"Oh ini kena cipratan bubuk mbak, waktu penelitian di ruang laboratorium tadi". Ujar Salsa sambil cengengesan.


"Shaquel gak kesini mbak dia lagi latihan basket". Sambungnya lagi.


Aleya hanya memutar bola matanya malas. Gadis itu berjalan mendekati Salsa yang sedang mengambil air minum.


"Iya gak papa. Oh iya Mama mana? Satya bilang, kamu kesininya bareng Mama". Ujar Aleya.


"Mama kesininya malem kak, soalnya sekarang Mama masih ada di butik". Jawab Salsa.


"Yaudah deh. Oh iya Sal, Mbak minta tolong bikinin bubur ayam buat Satya yah. Sama sekalian air hangatnya yah". Ujar Aleya minta tolong.


"Kamu bisa kan buat buburnya?". Tanya Aleya


"Bisa mbak, emang bang Satya kenapa mbak?". Tanya Salsa.

__ADS_1


"Satya demam kayaknya, tadi pas di sekolah tiba-tiba badannya panas, terpaksa deh kita pulang duluan". Ujar Aleya sambil mengambil cemilan di lemari.


"Seriusan mbak? Yaudah mbak balik aja ke kamar, entar bubur sama kompresnya aku anterin ke kamar". Ucap Salsa. Terlihat guratan kekhawatiran saat mendengar bahwa Abang jahilnya itu jatuh sakit.


Aleya mengangguk, lalu setelahnya gadis itu berlalu meningggalkan Salsa yang mulai berkutat dengan alat-alat masaknya di dapur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, keadaan apartemen terasa lebih sunyi dari hari-hari biasanya. Tidak ada Satya yang menjahili Aleya, dan tidak ada teriakan Aleya yang kesal karena digangguin Satya.


Ditambah dengan kepulangan Salsa adik kembar Satya, membuat suasana apartemen semakin sunyi seperti tak berpenghuni.


Saat ini Aleya tengah berada di kamarnya dengan Satya yang berada di pangkuannya sambil memeluk pinggannya erat. Sedikit aneh karena seharusnya posisi Satya ditempati Aleya. Namun, karena pria itu sedang demam, jadilah Aleya yang harus mengalah pada Satya.


Pria itu mendongak, menatap Aleya dengan wajah sayunya. Suhu tubuhnya mulai membaik, namun ia masih sedikit lemas.


"Terus kamu sama siapa?". Tanya Satya.


Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Yang pasti, sejak tadi sore Satya merengek seperti anak kecil agar Aleya mengubah panggilannya menjadi aku-kamu bukan lo-gue lagi.


Aleya menuruti saja permintaan Satya, percuma juga ia menolak karena pria itu akan tetap kekeh pada pendiriannya.


"Kan ada Tari, besok aku berangkatnya sama Tari". Ujar Aleya.

__ADS_1


__ADS_2