
Bel masuk sudah berdering sejak 1 jam yang lalu. Siswa-siswi juga sudah pada masuk kelas mereka masing-masing untuk mengikuti pelajaran pertama.
Tak terkecuali bagi Satya dan keempat sahabatnya. Saat ini Satya bersama keempat sahabatnya berada di lapangan untuk mengikuti jam pelajaran pertama yaitu olahraga. Dan jangan lupakan, kelas Aleya hari ini di gabung dengan kelas Satya karena Pak Diko tidak bisa mengajar di jam kedua nanti.
Satya berbaris di belakang sekali dan Aleya di tengah-tengah pojok kanan. Sedari tadi Satya tak henti-hentinya menatap Aleya tanpa memperdulikan objek di sekitarnya. Dirinya juga tak tahu mengapa hari ini perhatiannya teralihkan pada seorang gadis yang berapa bulan lagi akan menyandang gelar sebagai tunangannya itu.
Rasanya Satya masih tak percaya. Gadis yang hampir 2 tahun lebih selalu ia jahilin, sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Sungguh rencana takdir memang luar biasa.
Tapi semenjak makan malam hari itu, Satya mersa ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia sendiri juga tak tahu apa. Saat melihat Aleya tertawa dengan teman laki-lakinya di kelasnya, ada perasaan tak suka dalam diri Satya. Ia sendiri juga tak tahu apa dan mengapa ia tak suka melihat Aleya tertawa dengan pria lain selain dirinya dan keluarganya.
"Ya elah ngeliatin Aleya mulu". Celetuk Arya.
"Samperin doang, takutnya keburu jadi milik orang nanti". Sambung Bima ikut-ikutan berbicara.
Satya mendelik tak terima mendengar ucapan Bima. Ia menendang kaki Bima hingga ia hampir jatuh, untung saja pria itu tak terjatuh bisa malu dirinya ditertawakan oleh teman-temannya yang ada di lapangan.
"Santai dong, gue kan cuman ngasih tahu aja keburu di ambil orang noh". Kesal Bima.
"Nyenyes banget mulut lo". Ucap Restu ketus membuat wajah Bima semakin masam karenanya.
Suara lembut seorang gadis mengalihkan perhatian mereka berlima.
"Satya". Panggil gadis tersebut membuat seluruh pasang mata siswa-siswi di lapangan mulai menatapnya, tak terkecuali Aleya.
__ADS_1
Satya menatap alisnya bingung, akan gadis di depannya yang tiba-tiba menghampirinya ini. Sedangkan ketiga sahabatnya menatapnya acuh lalu kembali fokus kedepan melihat siswi putri tanding voli, berbeda dengan Restu yang menatap gadis itu campur aduk, jengkel, kesel, pengen ngejambak rambutnya, gatel sekai menurutnya.
Ditatap seperti itu oleh Satya, membuat gadis bernama tag "Olivia" itu nampak salting dan malu-malu.
Olivia menyodorkan sebotol air minum yang berada ditangannya itu kepada Satya.
"Buat lo". Ucapnya sambil tersenyum malu-malu.
Aleya bersecih sinis melihat adegan di depannya. Ia cukup muak melihat teman seangkatannya itu sok akrab dengan Satya, calon tunangannya.
"Kenapa lo?". Tanya Tari sambil mengerutkan kening melihat sahabatnya yang mengumpat tak jelas.
Tari mengikuti arah pandang Aleya, dan seketika senyum menjengkelkannya terbit di wajahnya.
Aleya menatap Tari melotot, lalu setelahnya Tari meringis merasakan sentilan yang cukup keras di keningnya.
"Aduh, setan lo yee". Ringis Tari kesakitan sambil mengelus permukaan jidatnya yang lebarnya melebihi lapangan Hatta.
"Udah diem, mending kita tonton aja dramanya, Kira-kira apa yang bakal di lakuin Satya yang kejam itu ke tuh cewek". Ucap Tari
Aleya hanya berdecih malas, namun kembali memusatkan perhatiannya ke pojok kantin dimana drama gratisan sedang ditayangkan.
"Eh Sat, noh si cabe ngasih air minum". Celetuk Restu setengah berbisik pada Satya.
__ADS_1
Satya tak menanggapi celetukan Restu. Pria itu mengambil air minum di tangan Olivia, membuat gadis itu terpekik senang. Namun setelahnya, senyuman di wajah Olivia luntur seketika saat melihat minumnya berada ditangan Restu.
Satya memberikan botol minum itu kepada Restu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelahnya, pria itu beranjak dari duduknya membuat Olivia sedikit mundur kebelakang karena postur Satya yang sangat tinggi.
"Sat, tapi itu minumnya buat kamu". Ucap Olivia sambil melirik botol minum yang berada di tangan Restu.
Satya melirik sekilas ke arah Olivia, lau kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Olivia yang termenung. Baru beberapa langkah berada di depan Olivia, Satya berhenti melangkah, namun tatapannya tetap lurus ke depan.
"Masih untung gak gue buang ke tong sampah". Dosisnya tajam, membuat pasang mata di lapangan meneguk ludahnya saat mendengar suara bass milik Satya.
"Next time gak usah repor-repot bawakin gue minuman atau makanan!". Sambungnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan lapangan, dengan keempat bestienya yang mengikuti dari belakang.
Saat langkahnya tepat berada di samping Aleya, Satya menghentikan langkahnya. Pria itu melirik Aleya yang tengah menatapnya bingung. Lalu, setelahnya senyuman tipis terukir di bibir Satya. Membuat lapangan yang awalnya senyap, menjadi heboh seketika saat senyum tipis mengiasi wajah Satya.
"MASYAALLAH MANIS BANGET SENYUMANNYA!".
"GILA, DAMAGENYA BUKAN MAEN".
" OKSIGEN MANA OKSIGEN!".
Satya tak menghiraukan ocehan penghuni lapangan. Ia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Aleya yang tengah menahan malu karena sorakan-sorakan yang ditunjukkan kepadanya.
......................
__ADS_1
Next:)